Pola pengasuhan anak terus berkembang mengikuti zaman. Di era digital dan generasi Alpha saat ini, pendekatan parenting semakin menitikberatkan pada pemahaman psikologi anak, komunikasi terbuka, serta pendekatan positif sejak dini.
Namun, ada tantangan pada pola pengasuhan di era masa kini, yakni paparan gawai sejak kecil hingga tekanan media sosial terhadap mental generasi muda. RS Kemenkes Surabaya menggelar forum parenting bertajuk 'Bersama Nala & Parents' untuk berbagi pengalaman hingga membangun kesadaran orang tua agar lebih adaptif menghadapi perubahan zaman.
Fokus utama forum tersebut untuk memperkuat peran keluarga sebagai benteng pertama dalam menjaga kesehatan fisik dan psikologis anak. Salah satu topik seminarnya ialah membangun komunikasi hangat dan setara antara orang tua dan anak.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ridwan dan Sofitri, orang tua Nala, membagikan pengalaman mereka saat membimbing putrinya. Di mana anaknya sempat mangalami fase jenuh pergi ke sekolah dengan pelajaran berulang.
Alih-alih menasihati, Ridwan memilih mencari pendekatan dan mendengarkan keluh kesah putri kecilnya agar mengetahui permasalahan dengan suasana yang nyaman. Nala pun akhirnya berani menceritakan perasaannya.
Menurutnya, banyak orang tua yang menyimpulkan kondisi anak sendiri tanpa ngobrol permasalahan yang dirasakan anak. Hal tersebut justru membuat anak memilih diam. Selain mendapati permasalahan anaknya, ia juga menemukan minat sejak usia dini. Di mana ketertarikan Nala pada dunia kedokteran mulai terlihat sejak usia tiga tahun.
"Sejak usia tiga tahun, Nala sudah menunjukkan ketertarikan pada dunia kedokteran. Kami sering memberikan bacaan tentang anatomi manusia dan melihat bahwa ia juga tertarik dengan bahasa asing," kata Sofitri, ibu Nala kepada wartawan di RS Kemenkes, Selasa (3/3/2026).
Pendekatan yang dilakukan orang tua Nala terbilang sistematis. Mereka menyediakan alat peraga anatomi tubuh manusia, membacakan buku secara rutin, serta melatih kosakata asing yang diminati sang anak.
"Kata-kata asing yang disukai Nala kami latih terus. Sekarang, Nala sudah bisa menghafal anatomi tubuh manusia dari ujung kepala sampai kaki," ujarnya.
Dari sisi psikologi, Dra Astrid Regina Sapiie MPsiT Psikolog menilai, pola pengasuhan tersebut sebagai contoh parenting berbasis observasi aktif. Stimulasi bisa dilakukan bahkan sejak anak masih dalam kandungan.
"Dalam ilmu psikologi, stimulasi bisa dilakukan sejak dini, bahkan sejak bayi dalam kandungan. Inti dari parenting adalah orang tua harus punya waktu dan melakukan observasi," kata Astrid.
Ia menekankan pentingnya kehadiran orang tua dalam aktivitas bermain anak. "Melalui interaksi langsung, potensi dan kebiasaan anak dapat dipetakan secara lebih akurat," ujarnya.
Sementara Plh Dirut RS Kemenkes Surabaya, dr Martha Muliana L. Siahaan mengatakan, kualitas generasi 2045 ditentukan oleh pola asuh hari ini. "Kita konsen bagaimana menyiapkan anak-anak yang saat ini dan masa datang bisa tumbuh dengan baik. Tahun 2045 akan sangat bergantung pada anak-anak yang handal saat ini," kata Martha.
Ia menekankan, stimulasi sejak dini tak cukup hanya pada aspek akademik. Pembentukan karakter, empati, nilai moral, serta ketahanan mental menjadi fondasi penting di tengah derasnya paparan informasi digital.
"Generasi saat ini harus punya ketahanan mental yang kuat. Informasi masuk dengan sangat mudah, sehingga orang tua perlu mendampingi anak-anak ketika mereka berinteraksi dengan dunia luar," pungkasnya.
(auh/abq)











































