Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) 3R Desa Sedati Gede, Kecamatan Sedati, mampu mengelola 13-15 ton sampah per hari hanya dari satu desa. Dari jumlah tersebut, sekitar 6 ton saja yang dikirim ke TPA, sementara sisanya dipilah dan diolah karena memiliki nilai ekonomi.
Capaian itu membuat Bupati Sidoarjo Subandi mendorong desa-desa lain memiliki TPST serupa. Menurutnya, Sedati Gede bisa menjadi percontohan karena didukung aset dan peran aktif pemerintah desa.
"Nanti semuanya TPST ini bisa seperti di Desa Sedati Gede, ya. Karena kita mencoba di Sedati Gede ini sudah bagus. Yang pertama yang menunjang adalah asetnya ada, tanahnya luas, juga di-support dukungan oleh pemerintah desa," ujar Subandi saat sidak di lokasi, Selasa (3/3/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia juga menyoroti sempat terjadinya penumpukan sampah karena keterlambatan pengangkutan dari DLHK menuju TPA. Subandi langsung memerintahkan pembersihan agar tidak mengganggu lingkungan.
"Sudah kita perintahkan hari ini dibersihkan, kalau ini kita biarkan nanti busuk. Kalau busuk mengganggu lingkungan. Apalagi dengan dekat bandara. Nanti hari ini alat sudah didatangkan," tegasnya.
"Kalau kita liburkan mau enggak mau namanya tiap hari ini orang masak, pembuangan dapur, pembuangan rumah tangga kan enggak mungkin ya (sampah tidak dikelola). Wong ini saja yang tidak diambil gara-gara berapa hari saja seperti numpuk," tambahnya.
Menariknya, TPST 3R Sedati Gede juga berhasil menyerap tenaga kerja lokal. Ada sekitar 60 orang karyawan, 90% diantaranya merupakan warga setempat.
Kepala Desa Sedati Gede M Nasrudin pun menyebut pengelolaan sampah di wilayahnya tidak hanya menekan volume kiriman ke TPA, tetapi juga membuka lapangan pekerjaan bagi warga sekitar. Namun ia mengakui masih ada sejumlah kendala.
"Beberapa permasalahan masih dihadapi, termasuk terkait sarana tungku, kekurangan armada tadi sudah kita sampaikan (ke Bupati Subandi)," ujarnya.
Sementara itu, Kepala Unit TPST 3R Sedati Gede Nur Afandi menjelaskan rata-rata sampah yang masuk mencapai 13-15 ton per hari. Di lokasi, sampah dipilah terlebih dahulu menggunakan konveyor.
"Dari tosa (pengangkut) tadi dipilah pakai konveyor. Kresek, PB putih, botol, atom sontor, beling, kardus, duplek, macam-macam. Ada beberapa nanti bisa dijual," terang Nur.
Sementara sampah yang tidak bisa dipilah dan tak memiliki nilai ekonomi kemudian masuk ke mesin untuk diproses menjadi bubur dan residu. Bagian residu tersebut dikirim ke DLHK sekitar 6 ton per hari.
"Saya juga berharap pemerintah support untuk insinerator yang ramah lingkungan," pungkasnya.
(auh/abq)











































