Fenomena yang sering disebut Blood Moon ini memang terlihat dramatis, bahkan dulu sempat dianggap sebagai pertanda mistis. Yang awalnya berwarna abu terang, berubah menjadi merah tembaga saat gerhana.
Kenapa fenomena Gerhana Bulan Total bisa terjadi? Perubahan warna bulan ini sebenarnya punya penjelasan ilmiah di baliknya. Simak penjelasan selengkapnya di bawah ini.
Apa Itu Blood Moon?
Blood Moon atau Bulan Merah adalah istilah populer untuk menyebut kondisi saat Bulan tampak berwarna merah saat Gerhana Bulan Total. Istilah Blood Moon sendiri bukan istilah ilmiah, melainkan sebutan umum yang populer di negara-negara Barat untuk menggambarkan warna Bulan yang tampak merah.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Saat terjadi Gerhana Bulan Total, Bulan purnama memasuki wilayah umbra (bayangan inti) Bumi sepenuhnya, sehingga cahaya Matahari langsung terhalang Bumi. Bulan tidak menghilang total, melainkan diterangi cahaya Matahari yang dibelokkan oleh atmosfer Bumi, yang kemudian menghasilkan warna merah.
Penjelasan Ilmiah Dibalik Bulan Merah
Mengutip penjelasan dari BMKG, warna merah pada Bulan terjadi karena fenomena ilmiah bernama hamburan Rayleigh. Warna merah ini merupakan hasil dari hamburan Rayleigh di atmosfer Bumi, di mana cahaya matahari dengan panjang gelombang pendek (biru) tersebar, sementara cahaya dengan panjang gelombang panjang (merah) lolos mencapai permukaan Bulan.
Dilansir detikInet, saat Gerhana Bulan Total, Bumi berada di antara Matahari dan Bulan. Bayangan Bumi menutupi Bulan sepenuhnya. Namun, Bulan tidak benar-benar gelap total. Cahaya yang masih bisa mencapai permukaan Bulan adalah cahaya Matahari yang telah melewati atmosfer Bumi terlebih dahulu.
Karena cahaya biru lebih mudah tersebar dan tersaring oleh atmosfer, sementara cahaya merah lebih mampu menembus dan mengambil jalur yang lebih langsung, cahaya yang akhirnya sampai ke Bulan didominasi warna merah.
Fenomena ini mirip dengan alasan kenapa Matahari terlihat kemerahan saat terbit atau terbenam. Bedanya, saat gerhana Bulan total, cahaya yang sampai ke Bulan hanyalah cahaya yang sudah disaring oleh atmosfer Bumi. Menurut penjelasan dari NASA, semakin banyak debu, asap, atau partikel di atmosfer Bumi, warna Bulan bisa tampak semakin merah pekat.
Apakah Aman Melihat Blood Moon?
Berbeda dengan gerhana Matahari, Gerhana Bulan Total sangat aman dilihat dengan mata telanjang. Kamu tak perlu kacamata khusus atau filter pelindung. Namun, jika ingin melihat detail permukaan Bulan lebih jelas, kamu bisa menggunakan teropong, teleskop, atau kamera dengan lensa zoom.
Fakta Menarik tentang Blood Moon
Peristiwa ini sebenarnya terjadi saat Gerhana Bulan Total, ketika Bumi berada tepat di antara Matahari dan Bulan, sehingga bayangan Bumi membuat cahaya yang sampai ke permukaan Bulan tampak berwarna kemerahan.
Meski terlihat mistis bagi sebagian orang, Blood Moon merupakan fenomena ilmiah yang bisa dijelaskan melalui pembiasan cahaya Matahari oleh atmosfer Bumi, dan justru menjadi salah satu momen astronomi paling dinanti di seluruh dunia.
1. Warna Bisa Berbeda-beda
Tidak semua Blood Moon memiliki warna merah yang sama. Warna bisa bervariasi dari merah tembaga, oranye, hingga merah gelap, tergantung kondisi atmosfer Bumi saat itu.
2. Durasi Fase Puncak Bisa Hampir 1 Jam
Pada beberapa kejadian, fase puncak Gerhana Bulan Total bisa berlangsung hampir satu jam. Misalnya, pada 3 Maret 2026, fase totalitas diperkirakan berlangsung sekitar 59 menit.
3. Tak Semua Gerhana itu Total
Secara global, hanya sekitar 29% gerhana Bulan yang termasuk gerhana total. Rata-rata, satu lokasi di Bumi bisa menyaksikan gerhana total setiap sekitar 2-3 tahun.
4. Langit Jadi Lebih Gelap
Saat fase totalitas, langit menjadi lebih gelap dibanding biasanya. Kondisi ini membuat beberapa planet dan bintang tampak lebih jelas, terutama jika diamati dengan teleskop.
(hil/irb)











































