Niat Sholat Gerhana Bulan, Ini Waktu Pelaksanaannya

Niat Sholat Gerhana Bulan, Ini Waktu Pelaksanaannya

Irma Budiarti - detikJatim
Selasa, 03 Mar 2026 15:00 WIB
Ilustrasi sholat gerhana bulan.
Ilustrasi sholat gerhana bulan. Foto: ChatGPT
Surabaya -

Gerhana Bulan Total yang terjadi pada 3 Maret 2026 menjadi momen istimewa bagi umat Islam untuk memperbanyak ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah SWT. Salah satu amalan yang sangat dianjurkan ketika fenomena ini berlangsung adalah sholat sunah gerhana bulan.

Ibadah ini tidak hanya menjadi bentuk ketaatan, tetapi juga refleksi atas tanda-tanda kebesaran Allah yang tampak di langit. Lantas, bagaimana hukum sholat gerhana bulan, seperti apa bacaan niatnya, dan kapan waktu pelaksanaannya?

Hukum Sholat Gerhana Bulan

Ketika terjadi gerhana, umat Islam sangat dianjurkan untuk melaksanakan sholat sunah gerhana. Ibadah ini termasuk sunah muakkad, yaitu amalan yang sangat dianjurkan untuk dikerjakan. Sebagaimana dijelaskan Syekh Abu Syuja' dilansir dari laman Nahdlatul Ulama (NU) Online berikut.

وَصَلَاةُ الْكُسُوْفِ سُنَّةٌ مُؤَكَّدَةٌ ، فَإِنْ فَاتَتْ لَمْ تُقْضَ

Artinya: Sholat gerhana (baik matahari atau bulan) hukumnya sunah muakkadah (sangat dianjurkan), dan jika terlewat, tidak ada kewajiban untuk mengqadhanya. (Syekh Abu Syuja', Matan Ghoyah wat Taqrib, [Beirut: Daar Ibnu Hazm, 2005 M/1425 H], halaman 102)

ADVERTISEMENT

Niat Sholat Gerhana Bulan

Sholat gerhana bulan diawali dengan niat yang diucapkan di dalam hati bersamaan dengan takbiratul ihram. Sebagaimana ibadah lainnya, niat menjadi penentu sah atau tidaknya sholat.

Niat juga sebagai bentuk kesungguhan hati dalam mengharap ridha Allah SWT saat menyaksikan tanda kebesaran-Nya melalui fenomena gerhana. Adapun lafal niat sholat gerhana bulan sebagai berikut.

أُصَلِّي سُنَّةَ الخُسُوفِ رَكْعَتَيْنِ إِمَامًا/مَأمُومًا لله تَعَالَى

Arab Latin: Ushallî sunnatal khusûf rak'ataini imâman/makmûman lillâhi ta'âlâ.

Artinya: Saya sholat sunah gerhana bulan dua rakaat sebagai imam/makmum karena Allah SWT.

Waktu Pelaksanaan Sholat Gerhana Bulan Total 3 Maret 2026

Gerhana Bulan Total yang terjadi hari ini menjadi momen istimewa bagi umat Islam untuk menunaikan sholat sunah gerhana. Secara syariat, waktu pelaksanaan sholat gerhana bulan dimulai sejak gerhana mulai terlihat hingga gerhana berakhir sepenuhnya.

Berdasarkan data waktu puncak Gerhana Bulan Total 3 Maret 2026, gerhana di wilayah Indonesia Barat (WIB) mulai berlangsung pada pukul 18.03.56 WIB dan berakhir pada pukul 21.24 WIB.

Adapun fase puncak totalitas terjadi pada pukul 18.33.39 WIB. Dengan demikian, masyarakat di wilayah WIB dapat melaksanakan sholat gerhana dalam rentang waktu tersebut, yakni sejak awal gerhana hingga pukul 21.24 WIB.

Sementara itu, di wilayah Indonesia Tengah (WITA), puncak gerhana terjadi pada pukul 19.33.39 WITA, dan di wilayah Indonesia Timur (WIT) pada pukul 20.33.39 WIT. Waktu pelaksanaan sholat di masing-masing daerah tetap mengikuti berlangsungnya gerhana setempat.

Meski sholat gerhana boleh dilaksanakan kapan saja selama fenomena masih berlangsung, waktu yang paling utama adalah ketika gerhana sedang terjadi, terutama mendekati atau saat fase puncak totalitas. Pada fase inilah tanda kebesaran Allah SWT tampak paling jelas.

Sholat gerhana tidak dianggap terlewat hanya karena terbit fajar atau bulan mulai tenggelam dalam keadaan masih gerhana. Ibadah ini benar-benar berakhir ketika gerhana telah selesai sepenuhnya atau ketika matahari telah terbit.

Aturan Pelaksanaan Sholat Gerhana Bulan

Sholat gerhana bulan dilaksanakan sebanyak dua rakaat. Dalam setiap rakaat terdapat dua kali berdiri (qiyam), dua kali rukuk, dua kali iktidal (bangkit dari rukuk), dan dua kali sujud. Penjelasan ini sebagaimana diterangkan Syekh Muhammad bin Qosim dalam kitab Fathul Qorib.

وَيُصَلِّي لِكُسُوْفِ الشَّمْسِ وَخُسُوْفِ الْقَمَرِ رَكْعَتَيْنِ ، يُحْرِمُ بِنِيَّةِ صَلَاةِ الْكُسُوفِ ، ثُمَّ بَعْدَ الافْتِتَاحِ وَالتَّعَوُّذِ يَقْرَأُ الْفَاتِحَةَ وَيَرْكَعُ ، ثُمَّ يَرْفَعُ رَأْسَهُ مِنَ الرُّكُوعِ ، ثُمَّ يَعْتَدِلُ ، ثُمَّ يَقْرَأُ الْفَاتِحَةَ ثَانِيَاً ، ثُمَّ يَرْكَعُ ثَانِيَا أَخَفَّ مِنَ الَّذِي قَبْلَهُ ، ثُمَّ يَعْتَدِلُ ثَانِيًا ، ثُمَّ يَسْجُدُ السَّجْدَتَيْنِ بِطُمَأْنِيْنَةٍ فِي الْكُلِّ ، ثُمَّ يُصَلِّي رَكْعَةً ثَانِيَةً بِقِيَامَيْنِ وَقِرَاءَتَيْنِ وَرُكُوْعَيْنِ وَاعْتِدَالَيْنِ وَسُجُوْدَيْنِ

Artinya: Sholat gerhana, baik matahari maupun bulan, dikerjakan dua rakaat. Dimulai dengan niat sholat gerhana, kemudian setelah takbiratul ihram dan membaca doa iftitah serta ta'awudz, lalu membaca Al-Fatihah dilanjutkan rukuk. Setelah itu bangun dari rukuk, berdiri dengan tegak, kemudian kembali membaca Al-Fatihah untuk kedua kalinya, lalu rukuk lagi (yang kedua) dengan lebih ringan dari rukuk pertama. Setelah itu berdiri kembali (iktidal), lalu sujud dua kali dengan tuma'ninah. Kemudian pada rakaat kedua dilakukan dengan tata cara yang sama: dua kali berdiri dengan bacaan (qiyam), dua kali rukuk, dua kali iktidal, dan dua kali sujud. (Syekh Muhammad bin Qasim, Fathul Qorib, [Beirut: Daar Ibnu Hazm, 2005 M/1425 H], halaman 102).

Setelah sholat selesai dan salam, imam dianjurkan menyampaikan dua khutbah, sebagaimana khotbah Jumat dalam rukun dan syaratnya. Dalam khotbah tersebut, jemaah diajak bertaubat dari dosa dan memperbanyak amal saleh seperti sedekah dan berbagai bentuk kebaikan lainnya. Seperti dijelaskan dalam Fathul Qorib.

وَيَخْطُبُ الإِمَامُ بَعْدَهُمَا ، أَيْ : بَعْدَ صَلَاةِ الْكُسُوْفِ وَالْخُسُوْفِ خُطْبَتَيْنِ كَخُطْبَتَيْ الْجُمُعَةِ فِي الْأَرْكَانِ وَالشُّرُوطِ ، وَيَحُثُ النَّاسَ فِي الْخُطْبَتَيْنِ عَلَى التَّوْبَةِ مِنَ الذُّنُوبِ ، وَعَلَى فِعْلِ الْخَيْرِ مِنْ صَدَقَةٍ وَعِلْقٍ وَنَحْوِ ذَلِكَ

Artinya: Setelah selesai sholat gerhana, imam menyampaikan dua khutbah, yang rukunnya dan syaratnya sama dengan khutbah Jumat. Dalam khutbah tersebut, jemaah dianjurkan untuk bertaubat dari dosa-dosa, memperbanyak amal kebaikan seperti sedekah, membebaskan budak (atau bentuk amal sosial lainnya), melakukan amal kebajikan, dan sejenisnya. (Syekh Muhammad bin Qasim, Fathul Qorib, [Beirut: Daar Ibnu Hazm, 2005 M/1425 H], halaman 102)

Tata Cara Sholat Gerhana Bulan

Tata cara sholat gerhana bulan telah dijelaskan secara rinci dalam berbagai kitab fikih, salah satunya dalam Hasyiyah I'anatut Thalibin karya Muhammad Syatha ad-Dimyathi. Berikut ini urutan pelaksanaan sholat sunah gerhana bulan sebagaimana diterangkan dalam kitab tersebut.

  • Niat di dalam hati bersamaan dengan takbiratul ihram.
  • Mengucap takbir ketika takbiratul ihram sambil niat di dalam hati.
  • Membaca ta'awudz dan surat Al-Fatihah. Setelah itu baca surat Al-Baqarah atau bacaan sepanjang itu.
  • Rukuk dengan membaca tasbih sepanjang bacaan seratus ayat dari Al-Baqarah.
  • Qiyam, berdiri lagi untuk membaca surat Al-Fatihah. Setelah itu baca surat Ali Imran atau membaca kira-kira 200 ayat dari surat Al-Baqarah.
  • Rukuk dengan membaca tasbih selama membaca 80 ayat surat Al-Baqarah.
  • Iktidal, dengan membaca doa iktidal.
  • Sujud dengan membaca tasbih selama rukuk pertama.
  • Duduk di antara dua sujud.
  • Sujud kedua dengan membaca tasbih selama rukuk kedua.
  • Duduk istirahat atau duduk sejenak sebelum bangkit untuk mengerjakan rakaat kedua.
  • Bangkit dari duduk, lalu mengerjakan rakaat kedua dengan gerakan yang sama dengan rakaat pertama. Bedanya, pada rakaat kedua (qiyam yang ketiga) dianjurkan membaca surat An-Nisa', atau membaca sekitar 150 ayat dari surat Al-Baqarah setelah membaca surat Al-Fatihah.
  • Setelah itu rukuk (yang ketiga) dengan membaca tasbih selama membaca 70 dari ayat surat Al-Baqarah.
  • Qiyam (yang keempat), berdiri lagi untuk baca surat Al-Fatihah. Setelah itu baca surat Al-Maidah atau membaca kira-kira sekitar seratus ayat dari surat Al-Baqarah.
  • Rukuk (yang keempat), dengan membaca tasbih selama membaca 50 ayat dari surat Al-Baqarah.
  • Dilanjutkan iktidal hingga duduk kedua, seperti halnya rakaat pertama.
  • Ditutup dengan tahiyat akhir dan salam.

Perlu diketahui, tata cara di atas merupakan bentuk yang paling utama (afdhal). Namun, bacaan dalam sholat gerhana boleh diringkas. Misalnya, cukup membaca Al-Fatihah pada setiap qiyam tanpa menambahkan surat atau ayat lain.

Boleh juga mengganti surat-surat panjang dengan surat pendek setelah Al-Fatihah. Hal ini dijelaskan Imam Ghazali dalam Ihya' Ulumiddin.

وَلَوِ اقْتَصَرَ عَلَى الْفَاتِحَةِ فِي كُلِّ قِيَامٍ أَجْزَأَهُ، وَلَوِ اقْتَصَرَ عَلَى سُوَرٍ قِصَارٍ فَلَا بَأْسَ، وَمَقْصُودُ التَّطْوِيلِ دَوَامُ الصَّلَاةِ إِلَى الانْجِلَاءِ

Artinya: Jika hanya membaca Al-Fatihah pada setiap berdiri, itu pun sudah sah. Dan, bila hanya membaca surat-surat pendek, maka tidak mengapa. Dan, tujuan dari memperpanjang bacaan adalah agar shalat berlangsung hingga selesai gerhana. (Abu Hamid al-Ghozali, Ihya Ulumiddin, [Maktabah Syamilah, tt], juz 1, halaman 203).

Demikian penjelasan mengenai hukum, niat dan waktu pelaksanaan sholat gerhana bulan, lengkap dengan tata cara. Semoga bermanfaat dan menambah pemahaman dalam mengamalkan sunah ketika terjadi gerhana. Wallahu a'lam.




(hil/irb)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads