- Keutamaan Malam Lailatul Qadar 1. Malam Diturunkannya Al-Quran 2. Lebih Baik dari Seribu Bulan 3. Turunnya Malaikat dan Jibril 5. Malam Penuh Keberkahan 6. Diampuni Dosa-dosanya 7. Dilimpahkan Pahala 8. Dibukanya Pintu Surga, dan Ditutupnya Pintu Neraka
- Keutamaan 10 Malam Terakhir Ramadhan dan Amalannya 1. Menghidupkan Malam dengan Ibadah 2. Membangunkan Keluarga untuk Beribadah 3. Memburu Kenikmatan Ibadah 4. Puasa Wishal 5. Membersihkan Diri dan Memakai Wewangian 6. Beriktikaf
Bulan Ramadhan adalah momen istimewa bagi umat Islam untuk meningkatkan ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah SWT. Di antara seluruh malamnya, terdapat satu malam yang sangat mulia, yaitu Lailatul Qadar.
Malam Lailatul Qadar berada pada sepuluh malam terakhir Ramadan. Namun, mengapa malam ini sangatlah mulia? Simak penjelasannya.
Keutamaan Malam Lailatul Qadar
Lailatul Qadar adalah malam yang penuh kemuliaan dan keberkahan. Keistimewaannya dijelaskan dalam Al-Qur'an dan hadis Rasulullah.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Melansir detikHikmah yang mengutip dari buku Majelis Bulan Ramadan karya Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin dan beberapa sumber lain, inilah keutamaan Malam Lailatul Qadar.
1. Malam Diturunkannya Al-Quran
Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Qadr ayat 1 bahwa pada malam tersebut Allah turunkan Al-Qur'an sebagai petunjuk dan kebahagiaan untuk manusia.
اِنَّآ اَنْزَلْنٰهُ فِيْ لَيْلَةِ الْقَدْرِ ١
Artinya: "Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur'an) pada Lailatul Qadar."
2. Lebih Baik dari Seribu Bulan
Dalam Surah Al-Qadr juga disebutkan bahwa Lailatul Qadar lebih baik dari seribu bulan (lebih dari 83 tahun). Artinya, ibadah yang dilakukan pada malam ini nilainya melebihi ibadah selama ribuan bulan.
Imam Malik meriwayatkan bahwa Rasulullah pernah melihat usia umat-umat terdahulu yang panjang, sementara usia umat beliau relatif lebih pendek. Maka Allah menganugerahkan Lailatul Qadar sebagai karunia agar umat Nabi Muhammad tetap bisa meraih pahala yang sangat besar.
3. Turunnya Malaikat dan Jibril
Allah SWT mengatakan dalam Surah Al-Qadr ayat 4 pada malam lailatul qadar malaikat-malaikat akan turun ke Bumi sambil membawa kebaikan, rahmat, dan keberkahan.
تَنَزَّلُ الْمَلٰۤىِٕكَةُ وَالرُّوْحُ فِيْهَا بِاِذْنِ رَبِّهِمْۚ مِنْ كُلِّ اَمْرٍۛ ٤
Artinya: "Pada malam itu turun para malaikat dan Rūḥ (Jibril) dengan izin Tuhannya untuk mengatur semua urusan."
5. Malam Penuh Keberkahan
Pada Malam Lailatul Qadar, Allah SWT juga memberikan berkahnya kepada orang yang beribadah pada malam ini serta mengerjakan salat. Hal ini sebagaimana yang dijelaskan dalam Surah Ad-Dukhan ayat 3:
اِنَّآ اَنْزَلْنٰهُ فِيْ لَيْلَةٍ مُّبٰرَكَةٍ اِنَّا كُنَّا مُنْذِرِيْنَ ٣
Artinya: "Sesungguhnya Kami (mulai) menurunkannya pada malam yang diberkahi (Lailatul Qadar). Sesungguhnya Kamilah pemberi peringatan."
6. Diampuni Dosa-dosanya
Pada malam ini, Muslim yang berdoa akan diampuni dosa-dosanya jika kita beribadah dan meminta kepada Allah dengan sungguh-sungguh. Sebagaimana Rasulullah SAW bersabda:
"Barangsiapa mengerjakan salat pada malam Lailatul Qadar karena iman dan mengharap pahala dari Allah, maka dosanya yang telah lalu akan diampuni." (HR al-Bukhari).
7. Dilimpahkan Pahala
Rasulullah SAW bersabda:
"Barang siapa mengerjakan salat pada malam lailatul qadar sebanyak dua rakaat, dalam setiap rakaatnya setelah membaca Al-Fatihah satu kali, kemudian membaca surah Al-Ikhlas tujuh kali dan setelah salam membaca 'Astaghfirullâhal 'adzhîm wa atûbu ilaih' 70 kali, maka selama dia mengerjakannya. Allah SWT akan mengampuni dirinya dan kedua orangtuanya serta Allah SWT akan mengutus malaikat untuk menanam (untuknya) pepohonan di surga, membangun gedung-gedung dan mengalirkan sungai-sungai di dalamnya, dan dia tidak akan keluar dari dunia, sehingga dia pernah melihat seluruhnya."
8. Dibukanya Pintu Surga, dan Ditutupnya Pintu Neraka
Mungutip dari NU Online, dijelaskan bahwa Allah akan membuka pintu surga dengan lebar dan menutup rapat neraka sehingga setan pun akan terbelenggu. Rasulullah SAW pun bersabda:
روى الشيخانِ عن أبي هريرةَ: (إِذَا جَاءَ رَمَضانُ فُتِحَتْ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ، وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ النَّارِ، وَصُفِّدَتِ الشَّيَاطِينُ). والشيخانُ، وأحمدُ عنه: (إِذَا دَخَلَ شَهْرُ رَمَضَانَ فُتِحَتْ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ، وَعُلِّقَتْ أَبْوَابُ جَهَنَّمَ، وَسُلْسِلَتِ الشَّيَاطِينُ).
Artinya: "Imam al-Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: "Apabila bulan Ramadan tiba, pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup, dan setan-setan dibelenggu."
Keutamaan 10 Malam Terakhir Ramadhan dan Amalannya
Sepuluh malam terakhir bulan Ramadan juga adalah malam paling istimewa dalam bulan suci tersebut, karena di antaranya terdapat Lailatul Qadr yang biasanya jatuh pada malam ganjil seperti 21, 23, 25, 27, atau 29 Ramadan, di mana segala amal baik dilipatgandakan dan doa mustajab.
Rasulullah SAW sangat bersungguh-sungguh beribadah di periode ini, melebihi malam-malam sebelumnya, sebagaimana riwayat Muslim.
Mengutip NU Online, Rasulullah saw juga mencontohkan kepada umatnya untuk meningkatkan beribadah kepada Allah. Di antara ibadah yang dilakukan beliau adalah:
1. Menghidupkan Malam dengan Ibadah
Dalam shahih Muslim, Aisyah meriwayatkan:
ماعلمته صلى الله عليه وسلم قام ليلة حتى الصباح
Artinya: Aku selalu menyaksikan beliau beribadah selama Ramadhan hingga menjelang subuh.
Hal ini juga sejalan dengan hadits riwayat Abu Ja'far Muhammad bin Ali yang menerangkan bahwa:
"Barangsiapa menjumpai bulan Ramadhan dalam keadaan sehat dan berislam, kemudian berpuasa di siang harinya dan shalat di malam harinya secara runut, mengendalikan matanya, menjaga kemaluannya, mulutnya, tangannya dan selalu hadir dalam shalat berjamaah. Maka orang tersebut telah benar-benar berpuasa selama satu bulan dan akan memperoleh kesempurnaan pahala, dan menemukan Lailatul Qadar dan meraih keberuntungan yang dihadiahkan oleh Allah swt Tuhan yang Maha Memberkahi."
2. Membangunkan Keluarga untuk Beribadah
Dalam hadist riwayat Abu Dzar disebutkan bahwa Rasulullah membangunkan keluarganya pada malam ke-23, 25, dan 27, bahkan secara khusus pada malam-malam ganjil agar mereka senantiasa mendapatkan keberkahan Lailatul Qadar juga.
قام بهم ليلة ثلاث وعشرين وخمس وعشرين ذكر أنه دعا أهله ونساءه ليلة سبع وعشرين خاصة
Artinya: Bahwasannya Rasulullah saw beserta keluarganya bangun (untuk beribadah) pada malam 23, 25, 27. Khususnya pada malam 29. Bahkan dalam satu riwayat Rasulullah pernah membangunkan Fathimah dan Ali di malam hari itu dan berkata "Ayo bangun-bangun, shalat-shalat."
3. Memburu Kenikmatan Ibadah
Rasulullah saw disebutkan mengencangkan ikat pinggang saat Lailatul Qadar, dengan artian menghindari tempat tidur di malam sepuluh terakhir bulan Ramadhan. Beliau menyendiri memburu kenikmatan beribadah. Secara otomatis ibadah ini akan menghindarkan beliau dari tempat tidur dan menggauli istrinya. Hal ini berdasar pada hadits:
في الصحيحين عن عائشة رضي الله عنها قالت: "كان رسول الله صلى الله عليه وسلم إذا دخل العشر شد مئزره، وأحيا ليله، وأيقظ أهله
Artinya: Bahwa Rasulullah saw ketika memasuki sepuluh terakhir malam Ramadhan beliau mengencangkan ikat pinggangnya, menghidupkan (beribadah) malam itu dan membangunkan keluarganya.
4. Puasa Wishal
Dalam beberapa riwayat disebutkan bahwa Rasulullah ﷺ pernah menyambung puasa tanpa berbuka hingga waktu berikutnya (wishal) untuk menjaga konsentrasi dalam beribadah. Namun, amalan ini dikhususkan bagi beliau dan tidak dianjurkan bagi umatnya.
Hal ini untuk menjaga kekosongan perut agar mudah berkonsentrasi dalam beribadah kepada Allah swt, dan bermunajat kepada-Nya. Sebagaimana yang diterangkan dalam hadits:
وروي عنه من حديث عائشة وأنس أنه صلى الله عليه وسلم : كان في ليالي العشر يجعل عشاءه سحوراً
5. Membersihkan Diri dan Memakai Wewangian
Rasulullah mandi, merapikan pakaian, dan memakai wewangian pada sepuluh malam terakhir. Hal ini menjadi anjuran bagi umat Islam untuk menyambut malam-malam mulia dengan kebersihan lahir dan batin, serta memperbanyak taubat dan istigfar.
6. Beriktikaf
Rasulullah selalu beriktikaf pada sepuluh malam terakhir Ramadan hingga wafatnya. I'tikaf dilakukan untuk lebih fokus beribadah dan mendekatkan diri kepada Allah SWT.
(hil/irb)











































