Perjuangan atlet untuk membanggakan nama daerah seharusnya berbuah apresiasi yang layak. Namun situasi berbeda justru dirasakan sejumlah atlet Kota Pasuruan, Jawa Timur. Bonus yang mereka terima usai berlaga di ajang Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) dinilai tidak sesuai dengan yang dijanjikan. Kekecewaan itu bahkan memicu aksi simbolik dengan menginjak plakat penghargaan sebagai bentuk protes.
Kekecewaan para atlet mencuat setelah pencairan bonus yang besarannya dianggap tidak sesuai dengan ekspektasi awal. Dalam video yang beredar, tampak beberapa atlet meluapkan emosi dengan menginjak plakat penghargaan. Aksi tersebut menjadi simbol protes karena mereka merasa jerih payah selama latihan hingga pertandingan tidak dihargai secara semestinya.
Sejumlah atlet menyebut adanya potongan dalam nominal bonus yang diterima. Mereka mengaku tidak mendapatkan penjelasan rinci terkait pengurangan tersebut.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Robiatul Adawiyah, atlet wushu peraih emas mengatakan, persoalan ini bukan sekadar angka, melainkan soal komitmen.
"Iya, kami kecewa. Dan kekecewaan ini bukan kecil. Karena yang kami terima hari ini sangat jauh dari yang dijanjikan kepada kami sebelum bertanding. Janji itu disampaikan untuk memotivasi kami, untuk meyakinkan bahwa perjuangan kami dihargai. Tapi realitanya justru sebaliknya," katanya, Jumat (27/2/2026).
Robiatul menekankan, para atlet bertanding bukan untuk kepentingan pribadi. Mereka bertanding membawa nama Kota Pasuruan.
"Kami latihan bertahun-tahun, mengorbankan waktu, tenaga, bahkan biaya sendiri. Ketika prestasi sudah kami berikan, justru komitmen yang berubah. Ini bukan sekadar soal nominal reward, ini soal keseriusan pemerintah dalam menghargai atletnya," tegasnya.
Sekretaris Cabor IBC MMA Kota Pasuruan, Frenky Sutejo, mengungkapkan rasa frustrasinya. Padahal, cabornya sukses menyumbang 1 emas, 2 perak, dan 2 perunggu.
"Jujur kami sangat kecewa karena nilainya jauh dari Porprov sebelumnya, padahal proses latihan intensif dilakukan lebih dari satu tahun," tegas Frenky.
Senada dengan Frenky, pelatih Panahan Kota Pasuruan, Indah Yulianti menyebut, kebijakan ini sangat tidak manusiawi mengingat tingginya biaya peralatan dan pengorbanan fisik atlet. "Emas sekarang hanya dapat Rp 10 juta. Ini benar-benar tidak menghargai perjuangan atlet," cetus Indah.
Selain masalah bonus, karut-marut dukungan pemkot juga terlihat dari minimnya anggaran keberangkatan. Banyak atlet potensial yang akhirnya gagal bertanding hanya karena Pemkot mengaku tidak ada dana.
Sebagai informasi, pada Porprov VIII Jatim 2023, atlet peraih emas menerima Rp 30 juta, perak Rp 20 juta, dan perunggu Rp 10 juta. Namun pada Porprov IX Jatim 2025, nominal bonus turun menjadi Rp 10 juta untuk emas, Rp 7,5 juta untuk perak, dan Rp 5 juta untuk perunggu.
Menanggapi polemik tersebut, Wali Kota Pasuruan Adi Wibowo akhirnya memberikan klarifikasi. Ia berjanji akan menelusuri persoalan dan memastikan hak atlet dipenuhi.
"Itu sebenarnya begini, secara teknokratifnya, kita tahu semua TKD kita dikurangi cukup banyak. Prosesnya tidak tiba-tiba, itu sudah dibahas juga (Timdar) Tim Anggaran Daerah. Kita akan merumuskan kembali, karena bagaimanapun itu sebenarnya sesuai dengan visi misi di konteks kepemudaan dan keolahragaan. Nanti di tahun ini konstruksinya di perubahan kita akan bisa coba untuk bisa penuhi apa yang sesuai dengan tahun-tahun sebelumnya," kata Adi, Jumat (27/2/2026).
Menurutnya, pemerintah daerah tidak memiliki niat untuk mengurangi hak atlet. Ia menyebut adanya mekanisme administrasi dan penyesuaian anggaran yang tengah dievaluasi.
Ia menegaskan, sisa kekurangan bonus akan direncanakan dalam perubahan APBD. Pemerintah, kata dia, telah melakukan perhitungan bersama Dinas Pariwisata, Pemuda, dan Olahraga serta KONI.
"Sisanya akan kami rencanakan di perubahan, kita akan penuhi di perubahan. Kita sudah menghitung itu tadi dengan Kadispora dan KONI. Memang di Porprov 2025 cabor kita tambah banyak. Alokasi anggarannya dengan bonus tahun sebelumnya juga lebih banyak. Di saat yang sama anggaran kita justru dikurangi," jelasnya.
Adi Wibowo juga menyampaikan apresiasi atas prestasi para atlet yang telah membawa nama baik daerah. Ia menegaskan komitmen pemerintah kota untuk memperbaiki sistem penyaluran bonus agar lebih transparan dan tidak menimbulkan kesalahpahaman di kemudian hari.
