Biaya LPDP Disorot, Senator Lia Istifhama: Pendidikan Tak Perlu Gengsi

Biaya LPDP Disorot, Senator Lia Istifhama: Pendidikan Tak Perlu Gengsi

Aprilia Devi - detikJatim
Jumat, 27 Feb 2026 14:30 WIB
Anggota DPD RI asal Jatim Lia Istifhama
Anggota DPD RI asal Jatim Lia Istifhama/Foto: Dok. Istimewa
Surabaya -

Besarnya biaya pendidikan awardee LPDP akhir-akhir ini menjadi sorotan publik. Anggota DPD RI asal Jawa Timur Lia Istifhama pun menilai kebijakan pembiayaan pendidikan perlu mempertimbangkan efektivitas serta pemerataan manfaat.

Lia merefleksikan pengalamannya menempuh pendidikan tinggi di dalam negeri dengan biaya yang relatif terjangkau.

"Kalau saya menghitung dari S1 sampai S3, dana pribadi yang saya keluarkan mungkin sekitar Rp 30 juta. Bahkan S1 dulu per semester tidak sampai Rp 1,5 juta. Alhamdulillah biaya kuliah saya jutaan saja," ujar Lia, Jumat (27/2/26).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Saat menempuh S1, ia kuliah di IAIN Sunan Ampel Surabaya, lalu melanjutkan di Universitas Airlangga, dan STID Taruna Surabaya. Ia mengungkapkan, biaya kuliah saat itu berkisar ratusan ribu rupiah per semester.

ADVERTISEMENT

"Intinya tidak sampai satu setengah juta per semester waktu itu. Bahkan saat skripsi, saya bekerja untuk membiayai kuliah sendiri," tuturnya.

Pada jenjang magister (S2), Lia mendapatkan beasiswa studi dalam negeri sehingga tidak mengeluarkan biaya pribadi.

Sementara saat menempuh S3, ia memperoleh bantuan Beasiswa Pendidikan Pascasarjana (BPP) selama satu tahun, meski tetap mengeluarkan dana pribadi hingga belasan juta rupiah.

Menurutnya, pengalaman tersebut menunjukkan bahwa akses pendidikan berkualitas tidak selalu identik dengan biaya mahal atau studi di luar negeri.

Ia menekankan, banyak tokoh nasional lahir dari perguruan tinggi dalam negeri dan mampu memberikan kontribusi besar bagi bangsa.

"Pendidikan itu tidak perlu gengsi. Yang penting keberkahan dan kesungguhan. Banyak alumni perguruan tinggi dalam negeri yang menjadi tokoh nasional dan berkontribusi besar untuk bangsa," tegasnya.

Lia menambahkan, kebijakan pembiayaan pendidikan sebaiknya mempertimbangkan aspek efektivitas penggunaan anggaran serta pemerataan penerima manfaat.

Selain itu, penguatan kampus dalam negeri pun dinilai penting agar semakin kompetitif dan menjadi pilihan utama generasi muda.

"Kalau tujuannya membangun negeri, yang utama adalah integritas dan pengabdian, bukan sekadar mahalnya biaya atau lokasi studi," pungkasnya.




(irb/hil)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads