Menu MBG di Tulungagung Dikritik Wali Murid: Mirip Oleh-oleh Hajatan

Menu MBG di Tulungagung Dikritik Wali Murid: Mirip Oleh-oleh Hajatan

Adhar Muttaqin - detikJatim
Rabu, 25 Feb 2026 18:20 WIB
Menu MBG Ramadhan di salah satu sekolah di Tulungagung yang diprotes wali murid, disebut mirip oleh-oleh hajatan.
Menu MBG Ramadhan di salah satu sekolah di Tulungagung yang diprotes wali murid, disebut mirip oleh-oleh hajatan. (Foto: Adhar Muttaqin/detikJatim)
Tulungagung -

Menu Makan Bergizi Gratis (MBG) selama Ramadan di sejumlah sekolah di Tulungagung menjadi sorotan wali murid. Menunya dinilai asal-asalan dan tidak memenuhi gizi. Satgas MBG setempat meminta pengelola Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) atau dapur MBG untuk melakukan perbaikan.

Salah satu wali murid di Desa/Kecamatan Ngunut, Wida menilai menu MBG pada Bulan Puasa ini terkesan kurang layak. Pada hari pertama anaknya mendapatkan menu berupa kue spiku, pisang, kacang polong goreng, serta telur rebus.

"Kemudian kemarin roti abon, telur, apel dan kacang polong. Hari ini agak mendingan rotinya lebih besar dan ada susunya," kata Wida, Rabu (25/2/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Wida berpendapat, seharusnya bila sesuai dengan tujuan awal program MBG, menu yang disajikan lebih mengutamakan gizi untuk anak-anak sehingga tujuan pemberian MBG bisa tercapai.

"Ini menunya justru mirip oleh-oleh hajatan. Banyak wali murid yang kecewa soal ini," ujarnya.

ADVERTISEMENT

Keluhan masyarakat seharusnya menjadi bahan evaluasi bagi BGN dalam memantau pelaksanaan di lapangan. Ia mengaku, masyarakat juga memiliki fungsi pengawasan agar nasional program berjalan dengan baik.

"Bukan kami tidak bersyukur, tapi ini memakai anggaran negara sehingga ya harus sesuai ketentuan dong," jelasnya.

Keluhan menu MBG juga ramai dibahas warganet di media sosial. Mayoritas warganet mengomentari jenis menu yang diberikan hingga perkiraan harga pasaran.

Menanggapi kondisi itu, Anggota Satgas MBG Tulungagung, Mamik Hidayah mengaku berbagai keluhan itu telah ditampung dan menjadi bahan evaluasi. Pihaknya juga telah berkoordinasi dengan masing-masing SPPG terkait menu yang dikeluhkan.

"Kami japri ke SPPG dan kami memberikan arahan, misalnya menu ini yang terlalu asin atau ini terlalu banyak tepung, sebaiknya diganti dengan menu yang sesuai dengan usia. Misalnya anak SD itu ya janganlah dikasih kacang koro yang digoreng gitu ya. Kita menyarankan untuk misalnya edamame yang direbus-rebus," ujarnya.

Menu kacang goreng juga disarankan untuk diganti dengan kacang rebus, demikian halnya dengan keripik tempe seharusnya menggunakan produk yang berkualitas dan tidak banyak mengandung tepung.

"Keripik tempe harusnya yang murni tempe, jangan yang campur tepung," ujarnya.

Pihaknya meminta SPPG tidak hanya mengejar keawetan menu, namun juga mempertimbangkan nilai gizi hingga usia anak yang akan mengkonsumsi.

"Kalau terus ada komplain akan kami sidak. Tapi kalau misalnya setelah kita japri, SPPG yang bermasalah dia berbenah tidak lagi mengulang, gitu ya InsyaAllah aman," jelasnya.

Mamik menambahkan bahwa sesuai dengan ketentuan yang ada, anggaran setiap porsi MBG kecil bernilai Rp 8.000, sedangkan porsi besar untuk SMP dan SMA itu senilai Rp10.000.

"Bukan Rp15 ribu jadi menu semua, ada pembagiannya yang Rp3.000 untuk operasional dan Rp.2.000, sisanya untuk menu," imbuhnya.




(auh/dpe)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads