Kemacetan di perempatan Jalan Pagesangan II, Surabaya, kian dikeluhkan warga. Persimpangan yang menjadi akses utama sepulang dari kawasan Masjid Nasional Al-Akbar itu terpantau semrawut tanpa pengaturan lalu lintas memadai.
Pantauan di lokasi, arus kendaraan dari empat arah saling mengunci di tengah perempatan. Tidak ada lampu lalu lintas (traffic light) yang mengatur pergerakan kendaraan. Hanya dua pria berpeluit yang berupaya membantu mengurai kemacetan di tengah padatnya arus kendaraan dan kepulan asap knalpot.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kondisi tersebut membuat pengendara harus saling berkomunikasi langsung di tengah kemacetan. Saking rapatnya barisan kendaraan, mereka yang hendak putar balik pun harus berbicara langsung atau permisi kepada pengendara lain agar diberi ruang.
"Mas, ajange puter balik, yo (Mas, mau putar balik, ya)," ujar salah seorang pengendara motor kepada pengendara di sampingnya demi bisa bermanuver di tengah kemacetan yang mengunci.
Seorang pedagang cilok, Yuni, yang mangkal di sekitar lokasi mengatakan kemacetan di perempatan tersebut terjadi setiap hari. Pemandangan adu otot sudah menjadi santapan harian.
"Ya begini setiap hari. Harusnya memang sudah dikasih lampu merah di sini biar tertib," ucapnya singkat saat ditemui detikJatim pada Jumat, (20/2/2026).
Ketiadaan lampu merah membuat ego antar pengendara sering berbenturan. Tak jarang, adu klakson hingga adu mulut pecah karena rebutan masuk ke persimpangan, terlebih ketika pulang kerja dan situasi menjelang berbuka.
Warga sekitar dan pengguna jalan sangat berharap Pemerintah Kota Surabaya melalui Dinas Perhubungan (Dishub) dapat turun tangan. Pemasangan lampu merah dianggap sudah mendesak agar jalur Pagesangan tidak lagi menjadi titik macet horor yang luput dari perhatian.
(auh/abq)











































