Mengapa Maksiat Masih Terjadi Padahal Setan Dikurung Saat Ramadhan?

Mengapa Maksiat Masih Terjadi Padahal Setan Dikurung Saat Ramadhan?

Salma Nisrina Fahriyyah - detikJatim
Jumat, 20 Feb 2026 01:00 WIB
Ramadhan adalah bulan penuh rahmat, namun maksiat tetap ada. Mengapa begitu?
Ilustrasi bulan Ramadhan. Foto: wirestock/Freepik
Surabaya -

Ramadhan dikenal sebagai bulan mulia yang penuh rahmat. Banyak hadis menyebut pintu surga dibuka, pintu neraka ditutup, dan setan dibelenggu.

Tapi realitanya, kita masih melihat orang berbuat maksiat. Jadi, sebenarnya apa yang terjadi?

Kenapa perbuatan maksiat tetap ada meski setan terkurung di bulan Ramadhan? Mari bahas dari sudut pandang ulama, detikers.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dalil tentang Setan Dibelenggu Saat Ramadhan

Dalil utama tentang setan dibelenggu saat Ramadhan berasal dari hadis sahih Nabi Muhammad SAW yang diriwayatkan Abu Hurairah RA.

Ψ₯ِذَا جَاَؑ Ψ±ΩŽΩ…ΩŽΨΆΩŽΨ§Ω†Ω فُΨͺΩ‘ΩΨ­ΩŽΨͺΩ’ Ψ£ΩŽΨ¨Ω’ΩˆΩŽΨ§Ψ¨Ω Ψ§Ω„Ω’Ψ¬ΩŽΩ†Ω‘ΩŽΨ©ΩΨŒ ΩˆΩŽΨΊΩΩ„Ω‘ΩΩ‚ΩŽΨͺΩ’ Ψ£ΩŽΨ¨Ω’ΩˆΩŽΨ§Ψ¨Ω Ψ§Ω„Ω†Ω‘ΩŽΨ§Ψ±ΩΨŒ ΩˆΩŽΨ΅ΩΩΩ‘ΩΨ―ΩŽΨͺِ Ψ§Ω„Ψ΄Ω‘ΩŽΩŠΩŽΨ§Ψ·ΩΩŠΩ†Ω

ADVERTISEMENT

Artinya: Apabila Ramadhan tiba, pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup, dan setan-setan dibelenggu. (HR Bukhari Nomor 1899 dan Muslim Nomor 1079).

Dalam lafal lain disebutkan:

Ψ₯ِذَا ΩƒΩŽΨ§Ω†ΩŽ Ψ±ΩŽΩ…ΩŽΨΆΩŽΨ§Ω†Ω فُΨͺΩ‘ΩΨ­ΩŽΨͺΩ’ Ψ£ΩŽΨ¨Ω’ΩˆΩŽΨ§Ψ¨Ω Ψ§Ω„Ψ±Ω‘ΩŽΨ­Ω’Ω…ΩŽΨ©Ω ΩˆΩŽΨΊΩΩ„Ω‘ΩΩ‚ΩŽΨͺΩ’ Ψ£ΩŽΨ¨Ω’ΩˆΩŽΨ§Ψ¨Ω Ψ¬ΩŽΩ‡ΩŽΩ†Ω‘ΩŽΩ…ΩŽ ΩˆΩŽΨ³ΩΩ„Ω’Ψ³ΩΩ„ΩŽΨͺِ Ψ§Ω„Ψ΄Ω‘ΩŽΩŠΩŽΨ§Ψ·ΩΩŠΩ†Ω

Artinya: Jika masuk bulan Ramadhan, pintu-pintu rahmat dibuka, pintu-pintu jahannam ditutup, dan setan-setan pun diikat dengan rantai. (HR Bukhari Nomor 3277 dan Muslim Nomor 1079).

Hadis ini sahih muttfaq 'alaih (disepakati), diriwayatkan pula oleh Imam Ahmad, Nasa'i, dan lainnya. Sanadnya pun kuat.

Menurut Al-Qadhi Iyadh, hadis tentang pintu surga dibuka, pintu neraka ditutup, dan setan dibelenggu bisa dipahami secara hakiki. Itu adalah tanda datangnya Ramadhan sekaligus menunjukkan betapa mulianya bulan ini.

Saat Ramadhan tiba, gangguan setan pada orang beriman jadi jauh berkurang. Penjelasan ini juga menegaskan pahala dan ampunan Allah dilimpahkan lebih luas selama Ramadhan, sebagaimana yang dijelaskan Fath al-Bari dan Syarh Shahih Muslim.

Al-Qadhi Iyadh juga menjelaskan maknanya. Terbukanya pintu surga bisa dipahami sebagai kemudahan Allah bagi hamba-Nya untuk melakukan berbagai ketaatan seperti puasa, sholat malam, dan ibadah lainnya yang terasa lebih ringan dibanding bulan biasa.

Karena orang lebih sibuk dengan amal baik, peluang melakukan maksiat ikut menurun. Sementara tertutupnya pintu neraka dan terbelenggunya setan membuat suasana Ramadhan semakin mudah untuk menjaga diri dari dosa.

Kenapa Maksiat Tetap Terjadi?

Menurut Al-Hafidh Ibnu Hajar, maksud dari setan dibelenggu bukan berarti mereka hilang sepenuhnya. Yang terjadi adalah godaan mereka tak sebebas bulan lainnya.

Sebab, saat Ramadhan umat Islam semangat mengejar ketaatan dalam ibadah. Ibadah puasa, sholat tarawih, selawatan, membaca Al-Qur'an, dan zikir adalah hal yang membuat setan terkekang.

Selain itu, menurut Al-Jazairi, setan adalah segala bentuk yang mengarahkan kepada kedurhakaan. Tak terbatas hanya pada golongan jin, tapi juga bisa berupa manusia yang mengajak pada kedurhakaan.

Hal ini karena yang mendorong manusia melakukan kemaksiatan bukan hanya bisikan setan, melainkan dorongan hawa nafsu mereka sendiri. Ini sebagaimana yang dijelaskan pada QS Yusuf ayat 53:

Ψ₯ΩΩ†Ω‘ΩŽ Ω±Ω„Ω†Ω‘ΩŽΩΩ’Ψ³ΩŽ Ω„ΩŽΨ£ΩŽΩ…Ω‘ΩŽΨ§Ψ±ΩŽΨ©ΩŒΫ’ Ψ¨ΩΩ±Ω„Ψ³Ω‘ΩΩˆΩ“Ψ‘Ω

Artinya: Karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan.

Berpuasa justru menjadi momen umat dilatih untuk mengendalikan hawa nafsu agar dapat memperoleh gelar takwa di sisi-Nya.

Disebutkan pula oleh Abul 'Abbas Al-Qurthubi, yang menjelaskan bahwa setan diikat dari orang puasa yang memperhatikan syarat dan adab saat berpuasa.

Adapun yang tidak menjalankan puasa dengan benar, maka setan tidaklah terbelenggu darinya (Al-Mufhim lima Asykala min Takhlis Kitab Muslim, 3: 136. Dinukil dari Fatwa Al-Islam Sual wa Jawab Nomor 221162).

Niat Tak Tulus Bisa Mendorong Maksiat

Ibnu Taimiyyah memiliki pandangan mendalam tentang mengapa maksiat masih terjadi di bulan Ramadhan meskipun setan dibelenggu, yang ia jelaskan dalam karya-karyanya seperti Majmu' al-Fatawa.

Menurutnya, pembelengguan setan bersifat relatif dan terkait dengan pengendalian syahwat. Maksiat tetap ada karena dorongan nafsu manusia yang tidak ikut dibelenggu, serta niat pelaku yang tidak tulus.

Ibnu Taimiyyah menekankan bahwa jika seseorang meninggalkan maksiat hanya sementara dengan niat mengulanginya setelah Ramadhan, maka ia tetap dianggap terus-menerus bermaksiat, bukan bertaubat sejati.

Faktor Maksiat Menurut Ibnu Taimiyyah

Bulan Ramadhan sering disebut sebagai bulan penuh ampunan, bahkan setan-setan dibelenggu sebagaimana disebutkan dalam sejumlah hadis. Namun dalam kenyataannya, perbuatan maksiat tetap saja terjadi.

Fenomena ini kemudian dijelaskan para ulama, salah satunya Ibnu Taimiyyah, yang memberikan penjelasan mendalam tentang sebab-sebabnya. Menurut Ibnu Taimiyyah, maksiat di bulan Ramadhan tetap terjadi karena beberapa faktor berikut.

1. Syahwat

Puasa memang membantu menekan syahwat, seperti nafsu makan, minum, dan keinginan lainnya yang membuat setan sulit beraksi. Meski begitu, syahwat itu sendiri bisa mendorong perbuatan dosa apabila tidak dikendalikan. Misalnya, dosa amarah atau zina mata.

Menurut Abu al-Abbas al-Qurthubi dalam Al-Mufhim lima Asykala min Takhlis Kitab Muslim, hawa nafsu manusia tidak ikut dibelenggu seperti setan jin. Karena itu, maksiat seperti ghibah atau riba tetap bisa terjadi, bahkan tanpa godaan langsung dari luar kalau seseorang tidak menjaga dirinya dengan baik.

2. Niat yang Tak Tulus

Seseorang yang berhenti bermaksiat hanya selama Ramadhan, tapi berniat mengulanginya setelah bulan suci, belum dianggap benar-benar bertaubat. Taubat sejati harus disertai istikamah meninggalkan dosa secara total. Meski begitu, ia tetap bisa mendapat pahala karena menahan diri selama Ramadhan selama niatnya tulus.

3. Nafsu dari Dalam Diri

Maksiat tidak selalu datang dari godaan luar. Nafsu dalam diri manusia, yang disebut jiwa ammarah selalu ada dan bisa mendorong pada keburukan. Hal ini juga ditegaskan dalam QS Yusuf ayat 53 bahwa nafsu cenderung mengajak kepada kejahatan jika tidak dikendalikan.

Itulah alasan kenapa masih ada yang bermaksiat di bulan Ramadhan, detikers. Semoga kita semua bisa memanfaatkan bulan suci ini untuk memperbaiki diri dan menjalani ibadah dengan lebih baik ya.




(hil/irb)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads