Operasi pencarian Suparto (52), nelayan asal Desa Semare, Kecamatan Kraton, Kabupaten Pasuruan, resmi dihentikan. Suparto dinyatakan hilang setelah upaya pencarian selama tujuh hari tidak membuahkan hasil.
Koordinator Basarnas Jawa Timur, Gani Wiratama mengatakan penghentian dilakukan setelah penyisiran intensif tanpa menemukan tanda-tanda keberadaan korban. Tim SAR gabungan menyatakan korban hilang sesuai prosedur operasi pencarian dan pertolongan.
Gani menjelaskan, pencarian telah dilakukan secara maksimal sejak Minggu (8/2/2026). Berbagai unsur dilibatkan, dengan memperluas area penyisiran berdasarkan analisis angin dan arus laut.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kami telah melaksanakan pencarian sesuai standar operasi. Hingga hari ketujuh tidak ditemukan tanda-tanda keberadaan korban, sehingga operasi SAR resmi dihentikan," kata Gani, Selasa (17/2/2026).
Penyisiran dilakukan hingga jarak sekitar 71,8 kilometer, mencapai Pantai Pasir Panjang, Lekok. Selain pencarian teknis di laut, Tim SAR juga menyebarkan informasi kejadian ke wilayah perairan Pasuruan, Sidoarjo, Probolinggo hingga Madura untuk memperluas jangkauan pemantauan.
"Namun hingga batas akhir operasi, tidak ada informasi maupun tanda-tanda yang mengarah pada keberadaan Suparto. Dengan dihentikannya operasi SAR, nelayan asal Pasuruan tersebut dinyatakan hilang," ujar Gani.
Pencarian nelayan hilang di Pasuruan dihentikan. Korban dinyatakan hilang Foto: Istimewa |
Plt Kasi Humas Polres Pasuruan Kota, Aipda Junaidi membenarkan bahwa pencarian telah dihentikan.
"Namun apabila ada info lebih lanjut, dalam hal ini ada warga yang melihat atau menemukan, akan kita evakuasi," ujar Junaidi.
Sebelumnya diberitakan, Suparto dilaporkan hilang setelah diduga terbawa ombak besar saat mencari rajungan.
Sejumlah nelayan lain sempat berupaya menyelamatkannya, namun pelampung yang dilemparkan tidak dapat dijangkau korban karena jaraknya terlalu pendek dan kondisi ombak saat itu cukup besar.
Suparto berangkat melaut menggunakan perahu nelayan pada Sabtu (7/2) sekitar pukul 15.00 WIB. Keesokan harinya, di Perairan Kisik, Desa Kalirejo, dua nelayan bernama Lukman Hadi dan Kusen melihat perahu Suparto berjalan sendiri dengan mesin masih menyala. Keduanya kemudian berputar untuk mencari pemilik perahu tersebut.
Tak lama kemudian, Lukman dan Kusen melihat Suparto berenang di laut. Mereka segera melempar umpal atau pelampung tradisional yang terbuat dari bambu.
Namun karena umpal terlalu pendek, Suparto tidak dapat meraihnya. Lampu penerangan yang terpasang di dahinya juga tiba-tiba padam, sehingga situasi menjadi gelap. Ombak pun semakin membesar.
Lukman dan Kusen sempat berputar-putar di sekitar lokasi sambil menunggu selama satu hingga dua jam. Namun korban tidak terlihat lagi. Setelah upaya pencarian tidak membuahkan hasil, keduanya melanjutkan perjalanan mencari ikan dan melaporkan kejadian tersebut.

