Gerhana Matahari Cincin Api 2026, Terlihat di Mana?

Gerhana Matahari Cincin Api 2026, Terlihat di Mana?

Jihan Navira - detikJatim
Jumat, 13 Feb 2026 12:45 WIB
Gerhana Matahari Cincin Api terjadi pada 17 Februari 2027. Wilayah mana saja yang bisa melihat?
Ilustrasi Gerhana Matahari Cincin. Foto: Getty Images/iStockphoto/kdshutterman
Surabaya -

Langit Februari 2026 akan dihiasi fenomena astronomi menarik, yakni Gerhana Matahari Cincin Api (Ring of Fire) yang terjadi pada 17 Februari 2026. Peristiwa ini menjadi salah satu dari dua gerhana matahari besar yang diprediksi terjadi sepanjang tahun 2026.

Lantas, apa itu gerhana matahari cincin api, kapan terjadi, dan apakah fenomena ini bisa disaksikan dari Indonesia? Berikut penjelasan lengkapnya.

Apa Itu Gerhana Matahari Cincin Api?

Dilansir dari National Aeronautics and Space Administration (NASA), gerhana matahari cincin terjadi ketika Bulan berada di titik terjauhnya dari Bumi (apogee). Pada kondisi ini, ukuran Bulan tampak lebih kecil sehingga tidak mampu menutupi Matahari secara penuh.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Akibatnya, bagian tepi Matahari tetap terlihat membentuk cincin cahaya terang di sekitar Bulan. Efek inilah yang dikenal sebagai cincin api (ring of fire) pada puncak gerhana.

Apa Istimewanya Gerhana Matahari Cincin Api 2026?

Berdasarkan laporan Forbes, durasi maksimal Gerhana Matahari Cincin Api 2026 diperkirakan mencapai sekitar 2 menit 20 detik. Fenomena ini tergolong langka karena hanya dapat diamati secara penuh di wilayah tertentu.

ADVERTISEMENT

Fase annular (cincin penuh) akan terjadi di wilayah terpencil Antartika hingga sebagian Eropa. Saat puncak gerhana, posisi Matahari berada sekitar 5-10 derajat di atas cakrawala, sehingga menciptakan pemandangan langit yang unik.

Jadwal Gerhana Matahari Cincin Api 17 Februari 2026

Proses gerhana matahari berlangsung selama beberapa jam dalam skala global. Mengacu pada data NASA dan Timeanddate, berikut urutan waktu kejadian dalam UTC dan WIB.

  • Awal gerhana: 09.56.26 UTC atau 16.56.26 WIB
  • Awal gerhana penuh: 11.42.54 UTC atau 18.42.54 WIB
  • Puncak gerhana: 12.12.04 UTC atau 19.12.04 WIB
  • Akhir gerhana penuh: 12.41.29 UTC atau 19.41.29 WIB
  • Akhir gerhana parsial: 14.27.42 UTC atau 21.27.42 WIB

Apakah Indonesia Bisa Melihat Gerhana Matahari Cincin Api?

Sayangnya, Indonesia tidak termasuk dalam jalur visibilitas utama Gerhana Matahari Cincin pada 17 Februari 2026. Puncak gerhana terjadi saat Matahari sudah terbenam di wilayah Indonesia, sehingga fenomena ini tidak dapat disaksikan secara langsung.

Meski demikian, masyarakat Indonesia tetap bisa menantikan fenomena astronomi lainnya, yakni Gerhana Bulan Total pada 3 Maret 2026, yang diprediksi dapat terlihat dari wilayah Indonesia.

Wilayah yang Bisa Menyaksikan Gerhana Matahari Cincin Api 2026

The moon moves past the sun during an annular solar eclipse in Puerto San Julian, Argentina, Wednesday, Oct. 2, 2024. (AP Photo/Natacha Pisarenko)Gerhana Matahari Cincin Foto: AP/Natacha Pisarenko

Fenomena annular eclipse atau cincin api yang lengkap hanya dapat disaksikan bagi pengamat yang berada di jalur sempit di selatan Bumi, terutama di Antartika. Di sana, Bulan akan menutupi hampir seluruh piringan Matahari sehingga terbentuk cincin cahaya khas.

Lintasan dan Visibilitas Umum

Gerhana akan melintasi tiga samudra besar, yakni Samudra Pasifik, Atlantik, dan Hindia. Wilayah selatan Amerika Selatan dan Afrika Tenggara diperkirakan hanya melihat gerhana parsial dengan Matahari tampak sedikit meredup.

Hanya pengamat di Antartika yang dapat menyaksikan cincin api secara utuh. Sementara itu, wilayah seperti Pulau Heard, Reunion, dan Mauritius hanya memperoleh efek gerhana sebagian.

Titik Pengamatan Utama

Lokasi terbaik untuk mengamati fenomena ini berada di Stasiun Penelitian Concordia (Prancis-Italia) dengan durasi sekitar 2 menit 1 detik pada 11.46 GMT. Pengamatan juga dapat dilakukan di Stasiun Mirny, Queen Mary Land, Antartika (Rusia) dengan durasi sekitar 1 menit 52 detik pada 12.07 GMT.

Cara Aman Mengamati Gerhana Matahari

NASA mengingatkan bahwa tidak aman melihat Matahari secara langsung tanpa pelindung khusus, meskipun sebagian besar Matahari tertutup Bulan. Paparan langsung dapat menyebabkan kerusakan permanen pada mata.

Pengamat disarankan menggunakan kacamata pengamatan matahari bersertifikat untuk melindungi mata dari paparan cahaya langsung yang berbahaya. Selain itu, masyarakat juga dapat memilih metode pengamatan tidak langsung.

Seperti menggunakan proyektor lubang jarum yang dibuat dari bahan rumah tangga. Cara ini dinilai lebih aman karena tidak melihat Matahari secara langsung, sehingga risiko kerusakan mata dapat dihindari.




(ihc/irb)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads