Profil Adi Sutarwijono, Jejak Karier dari Pers ke DPRD

Profil Adi Sutarwijono, Jejak Karier dari Pers ke DPRD

Salma Nisrina Fahriyyah - detikJatim
Rabu, 11 Feb 2026 11:15 WIB
Profil Adi Sutarwijono, Jejak Karier dari Pers ke DPRD
Adi Sutarwijono. Foto: Dok Istimewa
Surabaya -

Kabar duka datang dari dunia politik Kota Surabaya. Dominikus Adi Sutarwijono atau akrab disapa Cak Awi berpulang pada Selasa 10 Februari 2026 sekitar pukul 20.36 WIB di RS MRCCC Jakarta. Ia wafat pada usia 57 tahun setelah menjalani perawatan intensif akibat kanker hati yang dideritanya.

Kepergiannya meninggalkan duka bagi keluarga dan orang-orang terdekat, serta bagi banyak pihak yang pernah bekerja bersamanya. Sosoknya dikenal luas sebagai politisi yang menapaki perjalanan panjang, dari dunia jurnalistik hingga menjadi figur penting di PDI Perjuangan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Profil dan Awal Mula Karier Almarhum

Adi Sutarwijono lahir di Blitar pada 4 Agustus 1968. Ia menempuh pendidikan di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisip) Universitas Airlangga (Unair) Surabaya, latar akademik yang kelak membentuk cara pandangnya terhadap dinamika sosial dan politik.

Sebelum dikenal sebagai politisi, Cak Awi lebih dulu mengasah kemampuan di dunia pers. Karier jurnalistiknya dimulai sebagai wartawan Harian Surya pada 1996, di masa Orde Baru. Pengalaman ini kemudian membawanya memahami berbagai realitas sosial secara langsung di lapangan.

ADVERTISEMENT

Tak lama kemudian, ia melanjutkan kiprahnya sebagai jurnalis di Majalah Tempo pada rentang 1999 hingga sekitar 2003. Dunia jurnalistik inilah yang membentuk karakter komunikatif, kritis, dan peka terhadap isu publik.

Beralih ke Politik dan Bergabung dengan PDI Perjuangan

Tahun 2003 menjadi titik balik penting dalam hidup Cak Awi. Ia memutuskan meninggalkan dunia pers dan bergabung dengan PDI Perjuangan. Sejak saat itu, langkahnya di panggung politik terus menanjak.

Di internal partai, ia dipercaya memegang sejumlah posisi strategis, termasuk menjadi Ketua DPC PDI Perjuangan Surabaya. Peran tersebut membuat namanya semakin dikenal sebagai salah satu figur penting dalam dinamika politik lokal.

Langkahnya ke lembaga legislatif dimulai pada 2012 melalui mekanisme Pergantian Antar Waktu (PAW) untuk sisa masa jabatan DPRD Surabaya periode 2009-2014. Sejak itu, kepercayaan publik terhadapnya terus tumbuh.

Karier Legislatif Melonjak

Pada Pemilu 2014, Cak Awi terpilih sebagai anggota DPRD Surabaya melalui pemilihan langsung. Ia kembali meraih mandat masyarakat pada Pemilu 2019 dan 2024, mewakili Daerah Pemilihan Surabaya III yang mencakup wilayah timur dan selatan kota.

Puncak karier legislatifnya terjadi saat ia dipercaya menjadi Ketua DPRD Kota Surabaya periode 2019-2024. Kepemimpinan tersebut berlanjut ke periode kedua, yakni 2024-2029. Dalam posisi tersebut, ia menjadi salah satu wajah penting dalam proses legislasi dan dinamika politik Kota Pahlawan.

Dinamika Politik dan Tantangan di Internal Partai

Seperti banyak tokoh politik lainnya, perjalanan Awi juga diwarnai dinamika internal. Pada Mei 2025, ia dicopot dari jabatan Ketua DPC PDI Perjuangan Surabaya setelah adanya evaluasi internal partai terkait hasil Pemilu, Pilkada, dan Pileg. Evaluasi tersebut juga menyoroti dinamika organisasi serta capaian politik partai di tingkat lokal.

Meski demikian, kiprahnya sebagai Ketua DPRD Surabaya tetap berjalan hingga akhir hayatnya. Ia tetap dikenal sebagai figur yang memiliki rekam jejak panjang dalam politik lokal dan berperan aktif dalam berbagai proses legislatif di Kota Pahlawan.

Kini, kepergiannya meninggalkan kenangan sekaligus jejak perjalanan karier yang panjang dari ruang redaksi hingga kursi pimpinan DPRD Surabaya.




(hil/irb)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads