Tanggal 9 Februari diperingati sebagai Hari Pers Nasional. Peringatan tersebut menjadi momen yang tepat untuk menengok kembali jejak tokoh-tokoh pers asal Jawa Timur yang turut membentuk wajah jurnalisme Indonesia.
Sejumlah tokoh pers dari Jawa Timur tercatat memberi kontribusi besar bagi perkembangan jurnalisme nasional, baik melalui media cetak, penyiaran, maupun organisasi pers.
Deretan Tokoh Pers Asal Jawa Timur
Dari generasi awal pers hingga era media modern, para tokoh ini berperan besar dalam membangun tradisi pemberitaan yang kritis, independen, dan berpihak pada kepentingan publik. Dirangkum dari berbagai sumber, berikut deretan tokoh pers asal Jawa Timur yang kiprahnya patut dikenang dan diapresiasi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
1. Ernest Douwes Dekker
Ernest Douwes Dekker atau yang dikenal Dr Danudirja merupakan salah satu pahlawan Indonesia. Ia lahir pada 8 Oktober 1879 di Pasuruan, Jawa Timur. Douwes Dekker merupakan keturunan dari pasangan campuran Indo-Eropa.
Ia terjun di bidang jurnalistik setelah kembali dari perang Boer Kedua (1899-1902). Pada 1905, ia bekerja di surat kabar De Locomotief. Melalui jurnalistik, Douwes Dekker banyak mengkritik kinerja pemerintah kolonial dengan tulisan-tulisannya yang tajam.
Pada 1912, ia bersama Suwardi Suryaningrat dan Tjipto Mangoekoesoemo mendirikan Indische Partij yang menjadi partai politik pertama di Indonesia. Selanjutnya, Indische Partij membangun media De Express yang menjadi wadah untuk mengkritik dan melakukan perlawanan nasionalisme dan kolonialisme
2. Bung Tomo
Bung Tomo atau yang memiliki nama asli Sutomo merupakan salah satu tokoh pahlawan. Ia lahir pada 3 Oktober 1920 di Kampung Blauran, Surabaya. Bung Tomo merupakan putra dari Kartawan Tjiptowidjojo, dan dibesarkan dalam keluarga kelas menengah yang sangat menghargai dan menjunjung tinggi pendidikan.
Sebelum dikenal sebagai orator Pertempuran 10 November 1945, ia juga berkarier di bidang pers. Pada 1937, Bung Tomo memulai karier di dunia jurnalistik dengan menjadi wartawan lepas pada Harian Soeara Oemoem di Surabaya.
Karier Bung Tomo semakin melejit ketika ia dipercaya menjadi Redaktur Mingguan Pembela Rakyat di Surabaya pada 1938. Padahal saat itu usianya masih sangat muda, yakni 18 tahun. Namun, kemampuannya dalam dunia jurnalistik melebihi beberapa seniornya.
Diketahui, salah bukti kelihaian Bung Tomo dalam mencari berita, yakni ketika meliput proklamasi kemerdekaan pada 17 Agustus 1945. Hal ini karena tidak banyak wartawan yang menulis peristiwa tersebut.
Hasil liputannya juga ditulis dalam bahasa Jawa dengan wartawan senior bernama Romo Bintarti. Berita tersebut tidak diberitakan dalam bahasa Indonesia supaya tidak disensor tentara Jepang.
Seusai kemerdekaan, Bung Tomo masih rutin mengasah kemampuannya di bidang kepenulisannya. Puncak kariernya di dunia jurnalistik ketika dipercaya menjadi pemimpin redaksi kantor berita Antara pada tahun 1945.
Itulah tokoh-tokoh pers asal Jawa Timur yang telah memberikan kontribusi besar bagi perkembangan jurnalisme di Indonesia. Selamat Hari Pers Nasional 2026!
(dpe/irb)











































