Mi menjadi menu favorit banyak orang, bahkan populer bagi lidah masyarakat Indonesia. Namun, tahukah detikers bahwa mie adalah sajian penting di perayaan imlek?
Makanan yang berasal dari Tionghoa itu ternyata memiliki sejarah dan filosofi tersendiri. Bahkan, makanan satu ini juga dilambangkan sebagai kebahagiaan dan rezeki yang tidak terputus.
Lantas, bagaimana awal mula mi panjang umur atau chángshòu miàn menjadi sajian wajib saat perayaan Imlek? Berikut informasinya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kisah Kaisar Wu Jadi Awal Mula Munculnya Chángshòu Miàn
Chángshòu miàn (长寿面) atau mi panjang umur adalah hidangan yang wajib disantap saat Imlek. Tapi di balik semangkuk mi ini, ada kisah legenda yang cukup jenaka.
Konon, cerita paling populer tentang chángshòu miàn berasal dari Kaisar Wu dari Dinasti Han (Liu Che, berkuasa 141-87 SM) dan menterinya yang terkenal cerdas sekaligus usil, Dongfang Shuo. Meski ceritanya sangat menghibur, sejarawan meyakini kisah ini dipopulerkan jauh setelahnya, terutama lewat cerita rakyat era Dinasti Tang.
Ceritanya bermula ketika Kaisar Wu yang dikenal sangat terobsesi dengan keabadian. Ia memanggil para menterinya untuk membahas rahasia umur panjang. Salah satu penjelasan yang muncul terdengar cukup unik, yaitu soal panjang philtrum atau lekukan di antara hidung dan bibir atas yang dipercaya mencerminkan umur seseorang.
Satu cun (sekitar 3 cm) berarti usia 100 tahun, dua cun berarti 200 tahun, dan seterusnya. Sayangnya, sang kaisar mendapati philtrum-nya sendiri tergolong pendek. Ia pun cemas dan mulai mencari jalan keluar.
Di tengah suasana tegang istana, Dongfang Shuo tiba-tiba tertawa terbahak-bahak. Seluruh aula terdiam. Saat diminta menjelaskan, ia mengaitkannya dengan tokoh legendaris Peng Zu seorang resi yang dipercaya hidup hingga 800 tahun pada masa Dinasti Shang.
"Kalau begitu, philtrum-nya pasti luar biasa panjang sampai nyeret ke tanah!", celetuk Dongfang Shuo. Candaan itu langsung mencairkan suasana.
Kaisar Wu akhirnya sadar bahwa ia tak mungkin memanjangkan wajahnya (miànzi). Maka ia bertanya, adakah cara lain untuk mendapatkan berkah umur panjang? Di sinilah kecerdikan Dongfang Shuo muncul.
Ia menunjuk permainan bunyi kata, kata miàn yang berarti "mi" terdengar sama dengan miàn yang berarti "wajah". Ia kemudian menyimpulkan bahwa solusinya adalah dengan makan mi yang panjang dan tidak dipotong. Secara simbolis, itu dianggap membawa berkah yang sama, yaitu umur panjang dan rezeki yang tak terputus.
Ide ini disambut hangat. Awalnya hadir di jamuan istana, lalu menyebar ke perayaan ulang tahun dan akhirnya menjadi bagian penting dari perayaan Tahun Baru Imlek, sebagai simbol kehidupan yang panjang, berkesinambungan, dan penuh keberuntungan.
Tradisi ini kemudian ikut berkelana bersama diaspora Tionghoa ke berbagai penjuru dunia. Hingga hari ini, semangkuk chángshòu miàn adalah doa agar kehidupan dan berkah terus mengalir tanpa putus.
Apa Saja Kondimen yang Ada di Chángshòu Miàn?
Kalau soal chángshòu miàn atau mi panjang umur, bumbunya sebenarnya cenderung sederhana.
Biasanya, mi ini dibumbui dengan saus kedelai. Ditambahkan juga sedikit kecap asin, saus tiram, juga minyak wijen buat kasih rasa gurih dan umami sekaligus warna. Ada juga yang menambahkan sejumput gula atau garam supaya rasanya seimbang. Bumbu aromatiknya pun simpel, cukup bawang putih atau jahe cincang, sekadar penguat rasa, bukan jadi bintang utama.
Pelengkapnya juga simpel. Mi disajikan tanpa dipotong, lalu ditaburi tauge yang sudah direbus sebentar, jamur shiitake, kucai Tiongkok, atau irisan daun bawang. Ada yang mengaduknya kering, ada juga yang menyajikannya dengan kuah.
Menariknya, tiap daerah punya gaya sendiri dalam menyajikan mi panjang umur ini.
Di wilayah Tiongkok Utara, mi gandum yang tebal lebih umum digunakan. Biasanya disajikan dengan kuah kaldu sapi yang gurih, taburan daun bawang, dan sedikit minyak cabai. Di beberapa tempat, mi ini dipadukan dengan zha jiang atau pasta kacang fermentasi, jadi cita rasanya lebih nendang dan mengenyangkan.
Bergeser ke Tiongkok Selatan, rasanya jadi lebih ringan. Mi beras atau mi telur sering ditumis ala Kanton dengan udang, bok choy, dan saus tiram. Sementara versi Fujian cenderung berkuah seafood yang bening tapi kaya rasa.
Kalau di Sichuan, ceritanya beda lagi. Mi panjang umur di sini tampak lebih menantang karena disajikan dengan minyak cabai, lada Sichuan yang bikin sensasi kebas, dan sayuran yang diawetkan seperti ya cai.
Fakta Mi Panjang Umur dalam Perayaan Imlek
Unik seperti makna dan harapan doanya, chángshòu miàn ini menyimpan beberapa fakta menarik. Diantaranya adalah:
1. Tidak Boleh Putus
Mi ini tidak boleh dipotong atau sampai putus, baik saat dimasak maupun ketika dimakan. Soalnya, mi yang terputus dipercaya melambangkan umur yang ikut terpotong atau datangnya nasib kurang baik. Jadi, dari dapur sampai ke meja makan, semuanya ekstra hati-hati.
2. Cuma Berisi 1 Potong Mi
Idealnya, satu mangkuk mi panjang umur hanya berisi satu helai mi yang sangat panjang, utuh, dan menyambung tanpa putus. Inilah yang sering disebut tradisi single noodle. Makin panjang dan utuh mi-nya, makin kuat pula doa dan harapan akan hidup yang panjang dan lancar.
3. Harus Diseruput
Cara makannya pun ada seninya. Saat mi disajikan, kamu dianjurkan untuk menyeruput mi itu dalam satu tarikan panjang, tanpa digigit atau dipatahkan di tengah jalan. Memang butuh sedikit usaha dan kadang bikin ketawa sendiri tapi di situlah maknanya. Dengan menghabiskan mi dalam satu tarikan, kamu seolah benar-benar menyerap berkah umur panjang yang dibawanya.
Nah, begitulah kisahnya kenapa setiap perayaan Imlek orang-orang ramai memakan mi panjang umur detikers. Kamu juga bisa mencobanya sendiri karena ini juga salah satu pengalaman yang menarik.
Artikel ini ditulis Eka Fitria Lusiana, peserta magang PRIMA Kemenag di detikcom.
(irb/hil)











































