BMKG Ungkap Dalang Cuaca Ekstrem di Jatim

BMKG Ungkap Dalang Cuaca Ekstrem di Jatim

Hilda Meilisa Rinanda - detikJatim
Rabu, 04 Feb 2026 09:15 WIB
BMKG Ungkap Dalang Cuaca Ekstrem di Jatim
Ilustrasi cuaca Surabaya hari ini hujan ringan/Foto: ChatGPT
Surabaya -

Aktivitas monsun Asia yang menguat serta gangguan gelombang atmosfer, menjadi pemicu utama cuaca ekstrem yang berpotensi landa Jawa Timur dalam beberapa hari ke depan. Kondisi ini diperkirakan memicu hujan lebat, angin kencang, hingga berbagai bencana hidrometeorologi.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Meteorologi Kelas I Juanda mengeluarkan peringatan dini cuaca ekstrem yang berpotensi terjadi di sejumlah wilayah Jawa Timur pada periode 1 hingga 10 Februari 2026.

Cuaca ekstrem tersebut diperkirakan dapat memicu berbagai bencana hidrometeorologi, mulai dari hujan sedang hingga lebat, banjir, banjir bandang, tanah longsor, angin kencang, puting beliung, hingga hujan es.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kepala BMKG Juanda Taufiq Hermawan menyebut, seluruh wilayah Jawa Timur saat ini telah memasuki musim hujan, bahkan sebagian masih berada pada puncaknya.

ADVERTISEMENT

"Saat ini seluruh wilayah di Jawa Timur sudah berada pada musim hujan dan beberapa wilayah diprakirakan masih mengalami puncak musim hujan. Diprakirakan dalam 10 hari ke depan akan terjadi peningkatan cuaca ekstrem yang berdampak signifikan terhadap aktivitas masyarakat," kata Taufiq dalam keterangan resminya, Senin (2/2/2026).

Menurut Taufiq, potensi cuaca ekstrem ini dipengaruhi oleh aktifnya monsun Asia serta adanya gangguan gelombang atmosfer.

"Potensi cuaca ekstrem ini merupakan dampak aktifnya monsun Asia dan diprakirakan adanya gangguan gelombang atmosfer Low Frequency, Gelombang Rossby dan Gelombang Kelvin yang akan melintasi wilayah Jawa Timur," ujarnya.

Selain itu, suhu muka laut di perairan Selat Madura yang masih cukup signifikan serta kondisi atmosfer lokal yang labil turut mendukung pertumbuhan awan konvektif.

"Kondisi tersebut berpotensi menimbulkan hujan dengan intensitas sedang hingga lebat, yang dapat disertai petir dan angin kencang," imbuhnya.

BMKG mencatat, sejumlah wilayah yang berpotensi terdampak cuaca ekstrem antara lain Kabupaten Pacitan, Ponorogo, Trenggalek, Tulungagung, Blitar, Kediri, Malang, Lumajang, Jember, Banyuwangi, Bondowoso, Situbondo, Probolinggo, Pasuruan, Sidoarjo, Mojokerto, Jombang, Nganjuk, Madiun, Magetan, Ngawi, Bojonegoro, Tuban, Lamongan, Gresik, Bangkalan, Sampang, Pamekasan, dan Sumenep.

Selain itu, potensi serupa juga mengancam Kota Kediri, Blitar, Malang, Probolinggo, Pasuruan, Mojokerto, Madiun, Surabaya, dan Kota Batu.

Taufiq mengimbau masyarakat serta instansi terkait agar meningkatkan kewaspadaan terhadap perubahan cuaca yang terjadi secara tiba-tiba.

"BMKG Juanda menghimbau masyarakat dan instansi terkait agar senantiasa waspada terhadap perubahan cuaca mendadak serta adanya potensi cuaca ekstrem berupa hujan sedang hingga lebat yang disertai petir dan angin kencang selama 10 hari ke depan," tegasnya.

Ia juga meminta warga yang tinggal di wilayah bertopografi curam, pegunungan, maupun tebing agar lebih berhati-hati terhadap risiko bencana.

"Wilayah dengan topografi curam diharapkan lebih waspada terhadap dampak yang dapat ditimbulkan akibat cuaca ekstrem seperti banjir, banjir bandang, tanah longsor, jalan licin, pohon tumbang serta berkurangnya jarak pandang," jelasnya.

Untuk meminimalkan risiko, BMKG mengajak masyarakat rutin memantau perkembangan cuaca melalui berbagai kanal resmi.

"Masyarakat diimbau untuk selalu memantau kondisi cuaca terkini berdasarkan citra radar cuaca WOFI melalui website dan informasi peringatan dini yang kami bagikan melalui website, media sosial, saluran telepon 24 jam, serta WhatsApp resmi BMKG Juanda," pungkas Taufiq.




(dpe/hil)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads