Kanker prostat merupakan ancaman serius bagi pria, dengan data Globocan 2022 mencatatnya sebagai jenis kanker terbanyak kelima pada pria di Indonesia. Meski berbahaya, banyak mitos keliru seputar kanker ini.
Apa saja mitos yang beredar di masyarakat? Dokter Spesialis Urologi Mayapada Hospital Surabaya, Dr.dr. Wahjoe Djatisoesanto, Sp.U (K) membagikan fakta penting agar pria lebih sadar dan siap melakukan pemeriksaan dini.
Mitos 1: Kanker prostat hanya terjadi pada pria lanjut usia.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Meskipun risikonya meningkat seiring usia, kanker prostat juga dapat menyerang pria di usia muda, di mana pernah dialami oleh pasien usia 40 yang terdiagnosis Adenokarsinoma prostat, jenis kanker prostat yang paling umum terjadi.
Mitos 2: Kanker prostat dapat dicegah dan dapat menular lewat aktivitas seksual.
Aktivitas seksual tidak menjamin seseorang bebas dari risiko kanker prostat. Penyakit ini bukan disebabkan oleh hubungan seksual, melainkan dipengaruhi oleh banyak faktor, seperti hormon, usia, dan gaya hidup.
Selain itu, anggapan bahwa kanker prostat dapat menular melalui hubungan seksual adalah keliru, karena kanker prostat bukan penyakit menular dan tidak dapat berpindah dari satu orang ke orang lain lewat kontak intim.
Mitos 3: Kanker prostat hanya diwariskan kepada ras tertentu.
Dokter Wahjoe mengungkapkan, meski risiko kanker prostat memang berbeda antar ras, siapa pun bisa mengalaminya, terutama jika memiliki riwayat keluarga.
"Pria keturunan Afrika memiliki risiko tertinggi, disusul oleh pria ras Kaukasoid, sementara pria Asia cenderung memiliki risiko yang lebih rendah," ujarnya dalam keterangan tertulis, Jumat (30/1/2026).
Ini menunjukkan bahwa meskipun tingkat risikonya berbeda, kanker prostat bisa dialami oleh pria dari berbagai latar belakang.
Mitos 4: Kanker prostat tidak mematikan.
Banyak pria dewasa tidak menyadari gejala kanker prostat karena kanker ini cenderung berkembang secara perlahan di kelenjar prostat, yang terletak di bawah kandung kemih. Dokter Wahjoe menjelaskan, meski begitu, dalam beberapa kasus, kanker prostat dapat bersifat agresif dan menyebar dengan cepat.
"Prostat yang membesar disebut pembesaran prostat jinak. Tapi jika pertumbuhan itu ganas, dapat merusak jaringan di sekitarnya, bahkan menyebar ke organ lain, itulah yang kita kenal sebagai kanker prostat," tuturnya.
Mitos 5: Hasil skrining kanker prostat positif tanpa gejala tidak memerlukan pemeriksaan lanjutan.
Hasil skrining yang positif tetap perlu ditindaklanjuti, meskipun tanpa gejala. Dokter Spesialis Urologi Mayapada Hospital Jakarta Selatan, dr. Syamsu Hudaya, Sp.U (K) menjelaskan, deteksi dini kanker prostat biasanya dilakukan melalui tes darah yang disebut Prostate-Specific Antigen (PSA).
"Meski pasien tidak mengalami gejala apapun, jika kadar PSA menunjukkan angka lebih dari empat, maka disarankan untuk melakukan pemeriksaan lanjutan, yang mencakup MRI prostat dan biopsi guna memastikan ada tidaknya sel kanker," katanya.
Proses biopsi di Mayapada Hospital dilakukan dengan teknologi canggih, seperti MRI Fusion Biopsy dan Robotic-guided Biopsy, yang dirancang untuk meningkatkan akurasi dan meminimalkan risiko kesalahan deteksi. Apabila setelah biopsi menunjukkan hasil positif kanker, akan dilakukan pemeriksaan lanjutan, seperti PSMA PET Scan atau Bone Scan untuk melihat apakah kanker sudah menyebar ke bagian tubuh lainnya.
Mitos 6: Pengobatan kanker prostat sebabkan impotensi.
Dokter Syamsu menambahkan faktanya, tidak semua pengobatan kanker prostat menyebabkan impotensi karena pilihan pengobatannya bergantung pada berbagai faktor, seperti usia, daya tahan tubuh, dan harapan hidup pasien.
"Jika pasien dalam kondisi sehat dan tidak memiliki penyakit penyerta, operasi pengangkatan total prostat (Radikal Prostatektomi) dapat menjadi pilihan. Prosedur ini dapat dilakukan dengan teknik minimal invasif, seperti laparoskopi (Laparoscopic Radical Prostatectomy)," ujarnya.
Dokter Spesialis Penyakit Dalam (Internist) Konsultan Kanker & Kelainan Darah Mayapada Hospital Jakarta Selatan, dr. Wulyo Rajabto, Sp.PD, KHOM memaparkan selain itu, terapi radiasi atau penyinaran juga dapat menjadi pilihan, dengan mengkombinasikan dengan obat-obatan hormonal.
"Jika kanker prostat sudah menyebar, terapi lokal saja biasanya tidak efektif. Sebagai gantinya, terapi sistemik atau yang dapat menyebar ke seluruh tubuh contohnya hormonal kombinasi, dengan imunoterapi dan terapi target, dapat membantu menghambat perkembangan sel kanker. Ini memberikan harapan besar untuk pasien kanker prostat stadium lanjut dengan hasil pengobatan yang efektif," pungkasnya.
Kesimpulannya, pengobatan kanker prostat tidak selalu identik dengan impotensi, terutama jika ditangani dengan metode yang tepat.
Perlu diperhatikan bahwa gaya hidup juga berperan besar dalam meningkatkan risiko kanker prostat, seperti konsumsi berlebihan daging merah, produk olahan susu seperti keju dan yoghurt, kebiasaan merokok, hingga obesitas. Kadar hormon androgen atau testosteron yang tinggi serta paparan bahan kimia tertentu, seperti zat pewarna dan logam berat (kadmium) juga dapat memperbesar risiko. Oleh karena itu, deteksi dini melalui skrining disarankan sejak usia 45 tahun, terutama untuk pria yang memiliki faktor risiko.
Pemeriksaan dan penanganan kanker prostat yang tepat dapat mengandalkan layanan Oncology Center Mayapada Hospital, yang menangani berbagai kasus tumor dan kanker secara menyeluruh, mulai dari tahap pencegahan, deteksi dini, hingga diagnosis, pengobatan, dan terapi lanjutan. Layanan berstandar internasional ini dilengkapi dengan Tumor Board dan tim Patient Navigator berpengalaman untuk mendampingi pasien sepanjang perawatan.
Konsultasi di Oncology Center Mayapada Hospital kini dapat dilakukan kapan saja dan di mana saja melalui aplikasi MyCare, mulai dari pemeriksaan, konsultasi dokter, hingga layanan gawat darurat. MyCare juga dilengkapi fitur Health Articles & Tips yang berisi informasi seputar kesehatan saluran kemih dan reproduksi pria, serta Personal Health yang terhubung dengan Health Access dan Google Fit untuk memantau langkah harian, kalori terbakar, detak jantung, hingga Body Mass Index (BMI).
Unduh MyCare di Google Play Store atau App Store, dan nikmati poin reward berupa potongan harga untuk pengguna baru di berbagai jenis pemeriksaan di seluruh unit Mayapada Hospital.
(anl/ega)










































