Pernah merasa harus buang air kecil berulang kali di malam hari, bahkan tidak tuntas setiap kali ke kamar mandi? Meski terlihat sepele, keluhan seperti ini bisa jadi tanda awal dari kondisi medis yang cukup umum terjadi pada pria, terutama seiring bertambahnya usia, yaitu pembesaran prostat jinak atau Benign Prostatic Hyperplasia (BPH).
Prostat adalah kelenjar kecil pada pria yang terletak di antara kandung kemih dan saluran kemih bagian bawah. Kelenjar ini berfungsi memproduksi cairan semen dan cenderung membesar seiring bertambahnya usia, terutama karena pengaruh hormon testosteron.
Namun, tidak semua pria langsung merasakan keluhan saat prostat mulai membesar. Menurut dr. Wahjoe Djatisoesanto, Sp.U (K) dari Mayapada Hospital Surabaya, hanya sekitar 50% pasien yang memiliki gejala pembesaran prostat.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Sekitar 70% pria di atas usia 60 tahun mengalami BPH dan meningkat 90% pada pria berusia di atas 80 tahun. Namun, belum ada data terkait prevalensi kondisi ini di Indonesia," jelasnya dalam keterangan tertulis, Jumat (30/1/2026).
Pembesaran prostat bisa dipicu oleh gaya hidup, seperti kurang berolahraga, pola makan rendah serat, konsumsi daging merah berlebih, kurang asupan vitamin E, serta obesitas, sindrom metabolik, peradangan kronis pada prostat, hingga penyakit jantung.
Lebih lanjut Dokter Wahjoe memaparkan Selain gaya hidup, pembesaran prostat jinak juga seringkali disertai gejala lain yang patut diwaspadai, yaitu Lower Urinary Tract Symptoms (LUTS).
"Gangguan ini dikelompokkan ke dalam tiga kategori. Pertama adalah gejala obstruktif (voiding symptoms), seperti aliran urine yang lemah atau terputus-putus (intermitensi), serta perasaan tidak tuntas setelah buang air kecil. Kedua, gejala iritatif (storage symptoms), yang ditandai dengan frekuensi buang air kecil yang meningkat, munculnya dorongan mendadak untuk berkemih yang sulit ditahan, bahkan sampai harus terbangun di malam hari karena ingin ke kamar mandi. Gejala ketiga adalah gejala pasca berkemih, seperti urine yang hanya keluar menetes atau bahkan tidak keluar sama sekali meski sudah merasa ingin buang air kecil."
Jika gejala-gejala ini mulai dirasakan, segera lakukan pemeriksaan menyeluruh untuk mengetahui apakah berkaitan dengan pembesaran prostat serta menentukan langkah penanganan yang tepat. Dr. Syamsu Hudaya, Sp.U (K) dari Mayapada Hospital Jakarta Selatan menjelaskan pemeriksaan pembesaran kelenjar prostat meliputi tes laboratorium seperti urine lengkap, antigen spesifik prostat (PSA), dan evaluasi fungsi ginjal.
"Pemeriksaan pembesaran kelenjar prostat meliputi tes laboratorium seperti urine lengkap, antigen spesifik prostat (PSA), dan evaluasi fungsi ginjal. Pemeriksaan radiologi seperti USG dan Uroflowmetri juga dilakukan untuk menilai aliran urine. Jika dicurigai adanya keganasan, biopsi prostat mungkin diperlukan."
Mengingat pentingnya diagnosis yang akurat sekaligus penanganan optimal, pasien membutuhkan layanan medis yang komprehensif. Untuk itu, Mayapada Hospital menghadirkan layanan Tahir Uro-Nephrology Center, yang dapat menangani berbagai gangguan pada ginjal dan saluran kemih, mulai dari deteksi dini, diagnosis, hingga penanganan non-invasif dan minimal invasif.
Informasi lebih lanjut mengenai layanan dapat diakses melalui aplikasi MyCare, termasuk fitur Emergency Call untuk kegawatdaruratan, Health Articles & Tips seputar kesehatan saluran kemih dan reproduksi laki-laki, dan Personal Health, yang terhubung dengan Health Access dan Google Fit, untuk memantau jumlah langkah harian, kalori yang terbakar, detak jantung, hingga Body Mass Index (BMI).
(akn/ega)
