Waspada Skoliosis, Kelengkungan Tulang Belakang yang Perlu Diketahui

Waspada Skoliosis, Kelengkungan Tulang Belakang yang Perlu Diketahui

Shalli Irda - detikJatim
Jumat, 30 Jan 2026 19:56 WIB
Ilustrasi skoliosis usia dewasa
Foto: Shutterstock
Jakarta -

Sering merasa punggung pegal atau melihat bahu tampak tidak sejajar? Kondisi ini bisa menjadi tanda skoliosis yang perlu dikenali sejak dini agar tidak berkembang dan mengganggu aktivitas sehari-hari.

Skoliosis adalah kelengkungan tulang belakang berbentuk 'C' atau 'S' yang dipengaruhi oleh jenis kelamin, faktor genetik, dan usia. Selain itu, faktor keturunan juga berperan sehingga perlu waspada terhadap risiko skoliosis pada anak. Cara terbaik adalah mengenali gejala dan penanganannya sejak dini agar kondisi tidak semakin parah.

Skoliosis umumnya terdeteksi sejak kecil, namun bisa juga muncul di usia dewasa akibat proses penuaan (degenerative) atau karena tidak terdiagnosis dan tidak tertangani sejak dini, sehingga menimbulkan keluhan seiring bertambahnya usia.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Tanda-tandanya meliputi bahu dan pinggul yang tidak sejajar, tulang belikat atau rusuk menonjol di satu sisi, serta pinggang tampak miring. Kondisi ini dapat disertai nyeri, berkurangnya tinggi badan, hingga keluhan serius seperti sesak napas dan mudah kenyang akibat perubahan pada rongga dada dan perut.

Penanganan skoliosis bergantung pada tingkat kelengkungan tulang belakang yang ditentukan lewat pemeriksaan dokter.

ADVERTISEMENT

dr. Starifulkani Arif, Sp.OT (K), FICS, Spesialis Ortopedi Konsultan Tulang Belakang Mayapada Hospital Jakarta Selatan menjelaskan pada skoliosis ringan dengan kelengkungan di bawah 25 derajat, penanganan utama adalah observasi.

"Pemeriksaan rutin dilakukan setiap 6 bulan, sementara rontgen lanjutan dilakukan setahun sekali untuk memastikan kelengkungan tidak bertambah parah," ujarnya dalam keterangan tertulis, Jumat (30/1/2026).

Pada skoliosis sedang dengan kelengkungan 25-45 derajat, penanganan dilakukan dengan brace (alat penyangga) untuk mencegah kondisi memburuk dan meredakan nyeri. Terapi fisik juga dianjurkan, meliputi peregangan, penguatan otot inti, serta latihan ringan seperti berenang guna memperbaiki postur dan menjaga fleksibilitas.

Sementara itu, pada skoliosis berat dengan kelengkungan lebih dari 45 derajat dapat ditangani dengan tindakan operasi spinal fusion.

"Operasi spinal fusion dilakukan untuk mengatur kembali dan menggabungkan tulang belakang agar menjadi satu tulang yang solid dan menghilangkan penekanan pada saraf," tambah dr. Starifulkani.

dr. Starifulkani juga menjelaskan skoliosis ringan pada anak umumnya tidak membutuhkan penyangga atau operasi, tetapi tetap perlu pemantauan rutin untuk melihat perubahan kelengkungan seiring pertumbuhan.

"Sedangkan penggunaan brace pada anak dengan tingkat skoliosis sedang, dapat dilakukan untuk mencegah keparahan dan mengurangi kelengkungan tulang belakang anak yang masih terus bertumbuh," ujarnya menjelaskan.

Skoliosis yang dialami setiap orang dewasa tidak selalu sama, ada beberapa jenis skoliosis yang dibedakan berdasarkan faktor penyebabnya.

Lebih lanjut, dr. Abdul Kadir Hadar, Sp.OT (K), Spesialis Ortopedi Konsultan Tulang Belakang Mayapada Hospital Bandung menjelaskan jenis skoliosis paling umum adalah idiopatik, dengan penyebab yang belum diketahui meski faktor keturunan diduga berperan.

"Lalu, skoliosis kongenital terjadi akibat kelainan sejak dalam kandungan, kemudian skoliosis neuromuskular disebabkan oleh gangguan saraf dan otot penyangga tulang belakang, seperti pada penderita cerebral palsy atau spina bifida. Skoliosis sindromik terkait dengan kelainan genetik, seperti Sindrom Marfan dan Sindrom Ehlers-Danlos," jelasnya.

Penanganan skoliosis sebaiknya dilakukan sesuai rekomendasi dokter spesialis ortopedi. Konsultasi dapat dilakukan dengan dr. Abdul Kadir, dr. Starifulkani, maupun dokter ortopedi lain di Orthopedic Center Mayapada Hospital.

Layanan ini dikenal dengan standar internasional dan pendekatan komprehensif, mencakup deteksi dini, diagnosis, tindakan medis, terapi, hingga perawatan pasca-tindakan untuk berbagai masalah tulang, sendi, dan otot.

Menjadwalkan layanan di Orthopedic Center Mayapada Hospital kini lebih mudah melalui aplikasi MyCare. Di dalamnya, tersedia informasi mengenai keberhasilan Orthopedic Center dalam menangani berbagai kasus ortopedi secara advanced yang dapat diakses lewat fitur Health Articles & Tips.

Selain itu, MyCare juga dilengkapi fitur Personal Health untuk membantu menjaga kebugaran. Fitur ini memungkinkan pengguna memantau detak jantung, langkah kaki, jumlah kalori terbakar, hingga Body Mass Index (BMI).

MyCare dapat diunduh melalui App Store atau Google Play Store, dan pengguna akan mendapat bonus reward point saat pertama kali registrasi. Poin tersebut bisa dipakai sebagai potongan harga untuk layanan di seluruh unit Mayapada Hospital.




(akn/ega)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads