Curhat Pilu Mahasiswa Surabaya soal Pemangkasan Beasiswa Pemuda Tangguh

Curhat Pilu Mahasiswa Surabaya soal Pemangkasan Beasiswa Pemuda Tangguh

Anastasia Trifena - detikJatim
Kamis, 29 Jan 2026 10:30 WIB
Ilustrasi Kuliah Mahal
Ilustrasi mahasiswa (Foto: Edi Wahyono/detikJatim)
Surabaya -

Sejumlah penerima Beasiswa Pemuda Tangguh mengeluhkan perubahan kebijakan di tengah masa studi. Bantuan UKT yang kini dipangkas rata menjadi Rp 2,5 juta untuk dua semester, diberlakukan Pemkot Surabaya setelah ditemukan banyak penerima beasiswa berasal dari kalangan anak pejabat.

Kebijakan yang disebut sebagai upaya pengetatan sasaran itu dinilai mendadak oleh mahasiswa, sehingga mereka khawatir dapat berdampak pada keberlanjutan kuliah.

Salah satu penerima beasiswa, Freezy mengatakan, perubahan ketentuan membuat fokus kuliah dirinya dan teman-temannya terganggu. Padahal dalam perjanjian awal, penerima lama Beasiswa Pemuda Tangguh dijanjikan pembiayaan UKT penuh hingga semester 8, disertai uang semester dan uang saku bulanan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Sangat besar dampaknya terhadap fokus kuliah saya dan teman-teman. Banyak teman-teman masih memikirkan jalan keluar untuk membayar UKT untuk semester depan agar bisa mengikuti KRS," ujarnya dikonfirmasi detikJatim, Kamis (29/1/2026).

ADVERTISEMENT

Ia menjelaskan, dalam akad awal disebutkan penerima akan mendapat pembiayaan UKT penuh, uang semester sebesar Rp 750 ribu, serta uang saku Rp 500 ribu per bulan. Namun, perubahan kebijakan di tengah jalan membuat banyak mahasiswa kebingungan.

Akibatnya, tidak sedikit penerima beasiswa yang juga harus bekerja sambil kuliah untuk mencukupi kebutuhan hidup. Bahkan, ada mahasiswa yang mulai mempertimbangkan cuti atau berhenti kuliah.

"Banyak teman-teman penerima beasiswa yang bekerja dan menghidupi dirinya sendiri, bahkan tidak sedikit mahasiswa penerima yang berpikir untuk cuti ataupun berhenti kuliah, karena memang awalnya mereka memilih beasiswa karena merasa yakin dan terjamin," kata mahasiswi semester 4 tersebut.

Freezy juga menyoroti persoalan pengembalian UKT yang hingga kini belum tuntas diterima seluruh penerima.

"Untuk pengembalian UKT saya dan penerima beasiswa Agustus 2024 memang masih banyak yang belum di-refund, mungkin masih setengah dari total yang harus di refund UKT-nya," ujarnya.

Keluhan serupa disampaikan penerima beasiswa lain yang enggan menyebutkan namanya. Ia mengaku cukup terkejut dengan kebijakan baru tersebut karena sebelumnya sudah mengatur keuangan dengan asumsi UKT akan dibayar penuh oleh beasiswa.

"Jadi kalau aku pribadi agak sedikit kaget awalnya. Walaupun saya juga bekerja, namun karena adanya kebijakan ini saya sedikit kurang persiapan untuk pengumpulan uangnya. Karena kan sudah tertanam akan dibayar full UKT," ujarnya.

Akibat kebijakan tersebut, ia mengaku terpaksa kembali meminta bantuan orang tua, meski sebelumnya berupaya mandiri secara finansial.

"Jadi mau tidak mau saya juga harus merepotkan kembali ke orang tua. Karena mau ke mana lagi kalau tidak mereka? Awalnya mereka juga agak kaget dan merasa aneh dengan kebijakan baru itu," tuturnya.

Sementara itu, Cassy, mahasiswi semester 8 penerima Beasiswa Pemuda Tangguh menilai perubahan kebijakan terlalu mendadak dan tidak mempertimbangkan waktu pembayaran UKT yang sudah dekat.

"Perubahan ini terlalu mendadak. Sedangkan tempo pembayaran UKT sangat mepet, kurang dari 10 hari lagi," katanya.

Ia mengaku tidak mempermasalahkan adanya perubahan skema bantuan, namun berharap waktu penerapannya tidak dilakukan secara tiba-tiba.

"Bagi aku nggak apa sih dirubah, asal jangan mendadak gini dan waktunya mepet buat kita nambahi kekurangan UKT secara mandiri. Karena hanya dibantu Rp 2,5 juta aja," ujar Cassy.

Cassy menyebut, jika tidak bisa melakukan KRS akibat kendala UKT, opsi cuti kuliah menjadi pilihan yang terpaksa diambil. Barulah kemudian kembali di tahun berikutnya dengan membayar UKT secara mandiri tanpa tergantung dengan bantuan yang kini tak bisa diandalkan.

Ia juga menegaskan banyak penerima beasiswa yang sejak awal memang bekerja sambil kuliah karena tidak semua mahasiswa mendapat dukungan penuh dari keluarga.

"Banyak juga kok anak-anak yang akhirnya kerja sambil kuliah. Ya soalnya nggak semua anak dinafkahi orang tuanya. Ada juga yang nggak punya ortu," tambahnya.

Para penerima lama Beasiswa Pemuda Tangguh ini berharap, kebijakan dapat dibenahi dengan tetap menghormati kesepakatan awal. Mereka meminta agar perubahan skema bantuan hanya diterapkan bagi penerima baru saja.

Mengingat pada awal pelaksanaan Beasiswa Pemuda Tangguh-BeSmart di 2023, seleksi tidak hanya berbasis keluarga miskin tetapi juga melalui jalur prestasi. Tentu, skema lama ini membuka peluang pendaftar dari berbagai latar belakang termasuk anak 'pejabat'. Karenanya hal tersebut tidak bisa dijadikan sebagai satu-satunya alasan untuk melakukan pemangkasan nominal beasiswa secara merata menurut mereka.



(irb/hil)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads