Cuaca ekstrem beberapa kurun belakangan terjadi di wilayah Situbondo. Akibatnya, para nelayan mengalihkan pekerjaannya menjadi pencari kerang, hingga harus jual sarung-daster untuk sekadar menyambung hidup.
Alih pekerjaan tersebut terjadi pada para nelayan di kampung pesisir, di Desa/Kecamatan Panarukan setelah sekitar sebulan tak bisa melaut karena cuaca ekstrem.
"Cuaca ekstrem seperti ini sudah 22 berlangsung hari. Tepatnya sejak awal Januari," jelas Ketua Tempat Pengolahan Ikan (TPI) Panarukan, Heri Prayitno, kepada detikJatim, Rabu (28/1/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Heri menuturkan, selama tak melaut, untuk menghidupi keluarga para nelayan akhirnya pinjam uang kepada pemilik kapal. Bahkan hingga menggadaikan barang yang ada di rumah.
Para Anak Buah Kapal (ABK) itu biasanya berhutang dulu ke pemilik kapal. Bahkan banyak pula yang sampai menggadaikan barang-barang seperti emas, perabotan, bahkan pakaian.
"Kalau sarung dan daster itu biasanya dapat Rp 70 ribu, kalau bagus Rp 150 ribu," beber Heri.
Selain itu, imbuhnya, para nelayan juga mencari kerang pada dini hari untuk menghidupi keluarga.
"Benar-benar tidak bisa melaut. Kalau malam pas air laut surut, laut sudah kayak kota. Bukan orang melaut, tapi sedang mencari kerang," pungkas Heri Prayitno.
Informasi yang dihimpun, saat ini ada sekitar seribuan lebih warga pesisir Panarukan yang jadi nelayan.
Rinciannya, kapal slerek ada 32 unit. Satu slerek dengan ABK sekitar 17-25 orang. Lalu perahu jukung 10 unit, jaring dan celepak 180 unit.
(auh/abq)











































