Kerugian akibat bencana banjir bandang di Situbondo untuk sementara ditaksir mencapai Rp 10 miliar lebih. Angka tersebut berasal dari kerusakan fasilitas umum dan infrastruktur.
Namun, jumlah kerugian tersebut masih berpotensi bertambah karena pendataan hingga kini masih terus dilakukan.
"Itungan pastinya memang belum final. Tapi saat ini jumlah kerugiannya segitu," kata Kalaksa BPBD Situbondo, Timbul Surjanto kepada sejumlah jurnalis, Selasa (27/1/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Timbul menjelaskan, kerugian tersebut berasal dari kerusakan infrastruktur seperti jalan, jembatan, fasilitas pendidikan, dan rumah warga.
"Saat ini pemerintah daerah sudah melakukan normalisasi sungai hingga membangun jembatan darurat," terangnya.
Pendataan kerusakan akibat banjir masih terus dilakukan. Untuk pemerataan bantuan, Pemkab Situbondo meminta pemerintah desa mengirimkan data wilayah yang belum tersentuh bantuan.
"Kami butuh masukan-masukan dari pemerintah desa, mana-mana yang belum mendapatkan bantuan seperti bantuan sembako dan sebagainya," imbuh Timbul.
Ia juga menyampaikan, dapur umum dan posko kesehatan hingga saat ini masih terus beroperasi untuk membantu warga terdampak.
"Dapur umum terus berjalan, dievaluasi tiga hari sekali. Hari ini ketiga kalinya diperpanjang," pungkasnya.
Seperti diberitakan sebelumnya, banjir bandang melanda lima kecamatan di Situbondo pada Rabu (21/1/2026). Wilayah terdampak terparah berada di Kecamatan Banyuglugur dan Besuki.
Di Kecamatan Besuki, sebanyak 5.414 rumah terdampak. Rinciannya meliputi Desa Pesisir 2.822 rumah, Desa Kalimas 238 rumah, Desa Demung 44 rumah, Desa Besuki 2.306 rumah, dan Desa Bloro 4 rumah.
Selain itu, banjir bandang juga menyebabkan sejumlah jembatan terputus total. Akibatnya, ribuan warga terisolasi karena jembatan tersebut menjadi satu-satunya akses penghubung.
(auh/hil)











































