Dalam kebudayaan Tionghoa, setiap tahun, bulan, hingga jam, diwakili oleh sosok hewan yang kita kenal sebagai Shio (Sheng Xiao). Mungkin kita mengenalnya sebagai zodiak, tapi bagi masyarakat Tiongkok, shio merupakan warisan filosofi mendalam tentang karakter manusia dan keseimbangan alam semesta.
Sejarah penggunaan Shio dapat ditarik mundur hingga masa Dinasti Han (sekitar 202 SM). Namun, bukti arkeologis menunjukkan bahwa simbol hewan-hewan ini sudah muncul pada artefak Periode Negara Berperang (475-221 SM).
Ada perdebatan menarik mengenai asal-usulnya. Sebagian sejarawan menduga konsep ini masuk ke Tiongkok melalui Jalur Sutra, beriringan dengan penyebaran agama Buddha dari India. Teori lain menyebutkan bahwa Shio berasal dari tradisi suku nomaden yang menggunakan karakteristik hewan untuk menandai kalender berburu mereka.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Legenda Perlombaan Besar Kaisar Giok
Kisah yang paling populer dan abadi mengenai urutan Shio adalah legenda Perlombaan Besar. Alkisah, Yu Di, sang Kaisar Giok ingin merancang metode pengukuran waktu. Jadi, ia mengadakan perlombaan dan mengundang seluruh hewan di dunia untuk hadir dalam sebuah perjamuan menuju istananya.
Kaisar Giok menjanjikan 12 hewan pertama yang berhasil menyeberangi sungai akan mendapatkan posisi di kalender zodiak sesuai dengan urutan kedatangannya.
Mendengar kabar tersebut, Tikus bangun bersamaan terbitnya matahari untuk berangkat lebih awal. Namun, dalam perjalanan ke sungai, ia bertemu Kuda, Harimau, dan Kerbau. Karena tubuhnya yang mungil, Tikus sadar ia tak bisa menyeberang sungai dengan mudah. Ia lalu meminta tolong pada hewan yang lebih besar. Kuda dan Harimau menolak, tetapi Kerbau yang baik menyanggupi untuk menyeberangkan Tikus.
Tetapi, saat mereka hampir sampai ke sisi seberang, Tikus dengan licik melompat dari kepala Kerbau untuk mendapatkan posisi pertama. Karena itu, Kerbau menempati posisi kedua, diikuti oleh Harimau di belakangnya yang menempati posisi ketiga.
Kelinci dengan pintar berhasil menyeberang dengan melompat melewati batu-batu dan juga kayu-kayu yang mengapung sehingga berhasil meraih posisi keempat. Lalu, ada Naga, yang sebenarnya bisa terbang langsung tapi berhenti untuk menolong beberapa hewan yang ia temui. Naga juga sibuk menurunkan hujan untuk sebuah desa yang sedang mengalami kekeringan parah, sehingga menyelamatkan tanaman dan masyarakatnya. Itulah mengapa Naga mendapatkan posisi kelima.
Setelah Naga, datanglah Kuda yang berlari kencang menyeberangi sungai. Tapi ketika ia sampai di seberang, ular merayap melintasi Kuda. Melihat itu, Kuda tersentak kaget dan melompat ke belakang sehingga ular berhasil menyelinap ke posisi enam. Sementara Kuda menempati posisi ketujuh.
Kaisar Giok dengan tenang memantau situasi perlombaan dan melihat ke arah sungai. Ia melihat Kambing, Monyet, dan Ayam di atas rakit sedang bekerja sama mendorong rakit melewati rumput liar. Ketika mereka berhasil menyeberang, ketiganya sepakat untuk memberikan posisi kedelapan untuk Kambing karena ia paling menghibur dan harmonis di antara mereka. Lalu, posisi kesembilan di tempati oleh Monyet dan Ayam menjadi yang kesepuluh.
Lalu, datanglah Anjing yang susah payah memanjat ke tepian. Sebenarnya ia perenang hebat, tapi ia terlalu lama bersenang-senang di air sehingga hanya bisa meraih posisi kesebelas.
Posisi terakhir, ke-duabelas diisi oleh Babi. Ia menjadi yang terakhir karena lapar dan berhenti untuk makan dan tidur sebelum akhirnya berjalan terseok ke garis akhir.
Itulah mengapa setiap tahunnya selalu dikaitkan dengan satu hewan sesuai dengan urutan ini. Siklusnya berulang setiap 60 tahun karena kalender tradisional China disusun dari dua sistem yang tumpang tindih. Hewan-hewan zodiak itu lalu dikaitkan dengan Dua Belas Dahan Keduniawian atau shierzhi.
Selain itu, mereka juga dikaitkan dengan sistem Sepuluh Batang Kesurgawian atau tiangan yang punya lima elemen alam klasik. Elemen itu adalah logam, kayu, air, api, dan tanah. Tiap elemen ini dikaitkan dengan Yin atau Yang sehingga membentuk siklus 10 tahun.
Ketika dua belas hewan dari Dahan Keduniawian dicocokkan dengan lima elemen tersebut serta dengan Yin atau Yang dari Batang Kesurgawian, ini menghasilkan 60 tahun kombinasi berbeda. Hal ini dikenal sebagai siklus seksagesimal atau ganzhi.
Jadi, seseorang yang lahir di tahun 2003 akan mempunyai shio Kambing air, sementara seseorang yang lahir pada tahun 2007 memiliki shio Babi api.
Menariknya kamu juga bisa punya inner animal (hewan batin) berdasarkan bulan lahir, true animal (hewan sejati) berdasarkan tanggal lahir, dan secret animal (hewan rahasia) berdasarkan jam lahir.
Makna Budaya dan Tradisi "Ben Ming Nian"
Hingga hari ini, Shio tetap menjadi panduan sosial dan spiritual. Salah satu tradisi yang unik adalah Ben Ming Nian, yaitu tahun di mana Shio seseorang sedang berlangsung. Misalnya, orang bershio Ular di Tahun Ular.
Menariknya, tahun ini justru dianggap sebagai masa yang penuh tantangan. Untuk menangkal nasib buruk, tradisi menyarankan penggunaan atribut berwarna merah pada gelang, pakaian, maupun ikat pinggang dari kerabat sebagai bentuk perlindungan dan kasih sayang.
Para leluhur Tionghoa menciptakan sistem 12 Shio bukan tanpa alasan. Setiap hewan dipasangkan untuk menciptakan keseimbangan. Misalnya, Tikus yang cerdik harus dibarengi dengan Kerbau si pekerja keras. Kecerdasan tanpa kerja keras akan sia-sia, sementara kerja keras tanpa kecerdasan akan melelahkan.
Melalui Shio, detikers diharapkan merawat harmoni antara sifat-sifat manusia yang berbeda guna mencapai kehidupan yang seirama.
(irb/hil)











































