Ayat Al-Qur'an dan Hadis tentang Isra Mikraj

Ayat Al-Qur'an dan Hadis tentang Isra Mikraj

Irma Budiarti - detikJatim
Kamis, 15 Jan 2026 16:30 WIB
Ayat Al-Quran dan Hadis tentang Isra Mikraj
Ilustrasi Al-Qur'an. Foto: Ali Burhan/Unsplash
Surabaya -

Isra Mikraj merupakan peristiwa agung yang menempati posisi penting dalam akidah Islam karena ditegaskan langsung melalui wahyu Al-Qur'an dan diperkuat hadis-hadis sahih.

Perjalanan luar biasa Nabi Muhammad SAW ini tidak hanya mencerminkan kemuliaan Rasulullah, tetapi juga menunjukkan kekuasaan Allah SWT yang melampaui batas ruang, waktu, dan nalar manusia.

Melalui ayat-ayat Al-Qur'an dan penjelasan hadis, umat Islam diajak memahami Isra Mikraj bukan sekadar kisah historis, melainkan peristiwa nyata yang sarat makna keimanan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dari perjalanan malam hingga penyaksian tanda-tanda kebesaran Allah, Isra Mikraj menjadi pengingat akan pentingnya salat, keteguhan iman, serta keyakinan penuh terhadap kehendak dan kekuasaan Allah SWT.

Ayat Al-Qur'an tentang Isra Mikraj

Ayat Al-Qur'an tentang Isra Mikraj menjadi landasan utama keimanan umat Islam terhadap peristiwa agung ini. Allah SWT secara tegas mengabadikan Isra Nabi Muhammad SAW dalam Al-Qur'an sebagai tanda kebesaran-Nya.

ADVERTISEMENT

Perjalanan dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa terjadi atas kehendak Allah, melampaui batas ruang dan waktu manusia. Ayat ini sekaligus menegaskan kemuliaan Rasulullah SAW serta menjadi pengingat akan kekuasaan Allah yang tidak terbatas dan sarat pelajaran keimanan bagi umat Islam.

Surah Al-Isra

سُبْحٰنَ الَّذِيْٓ اَسْرٰى بِعَبْدِهٖ لَيْلًا مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ اِلَى الْمَسْجِدِ الْاَقْصَا الَّذِيْ بٰرَكْنَا حَوْلَهٗ لِنُرِيَهٗ مِنْ اٰيٰتِنَاۗ اِنَّهٗ هُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ ۝١

Arab Latin: Sub-ḫânalladzî asrâ bi'abdihî lailam minal-masjidil-ḫarâmi ilal-masjidil-aqshalladzî bâraknâ ḫaulahû linuriyahû min âyâtinâ, innahû huwas-samî'ul-bashîr

Artinya: Mahasuci (Allah) yang telah memperjalankan hamba-Nya (Nabi Muhammad) pada malam hari dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.

Surah An-Najm Ayat 13-18

وَلَقَدْ رَءَاهُ نَزْلَةً أُخْرَىٰ

Arab Latin: Wa laqad ra`āhu nazlatan ukhrā.

Artinya: Dan sesungguhnya Muhammad telah melihat Jibril itu (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain.

عِندَ سِدْرَةِ ٱلْمُنتَهَىٰ

Arab Latin: 'Inda sidratil-muntahā.

Artinya: (yaitu) di Sidratil Muntaha.

عِندَهَا جَنَّةُ ٱلْمَأْوَىٰٓ

Arab Latin: 'Indahā jannatul-ma`wā.

Artinya: Di dekatnya ada surga tempat tinggal,

إِذْ يَغْشَى ٱلسِّدْرَةَ مَا يَغْشَىٰ

Arab Latin: Iż yagsyas-sidrata mā yagsyā

Artinya: (Muhammad melihat Jibril) ketika Sidratil Muntaha diliputi oleh sesuatu yang meliputinya.

مَا زَاغَ ٱلْبَصَرُ وَمَا طَغَىٰ

Arab Latin: Mā zāgal-baṣaru wa mā ṭagā

Artinya: Penglihatannya (muhammad) tidak berpaling dari yang dilihatnya itu dan tidak (pula) melampauinya.

لَقَدْ رَأَىٰ مِنْ ءَايَٰتِ رَبِّهِ ٱلْكُبْرَىٰٓ

Arab Latin: Laqad ra`ā min āyāti rabbihil-kubrā

Artinya: Sesungguhnya dia telah melihat sebahagian tanda-tanda (kekuasaan) Tuhannya yang paling besar.

Hadis-hadis tentang Isra Mikraj

Hadis-hadis tentang Isra Mikraj memberikan gambaran autentik mengenai perjalanan luar biasa yang dialami Nabi Muhammad SAW, sekaligus menegaskan kebenaran peristiwa tersebut dalam tradisi keilmuan Islam.

Melalui riwayat para sahabat yang terpercaya, hadis-hadis ini menjelaskan tahapan Isra dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa hingga kelanjutannya menuju Mikraj, yang sarat dengan pelajaran iman, ketaatan, dan kemuliaan Rasulullah SAW sebagai utusan Allah SWT.

قَالَ أَنَسُ بْنُ مَالِكٍ: لَيْلَةَ اُسْرِيَ بِرَسُوْلِ اللّٰهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ مَسْجِدِ الْكَعْبَةِ أَنَّهُ جَاءَهَ ثَلَاثَةُ نَفَرٍ قَبْلَ أَنْ يُوْحَى إِلَيْهِ وَهُوَ نَائِمٌ فِى الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ فَقَالَ أَوَّلُهُمْ: أَيُّهُمْ هُوَ؟ فَقَالَ أَوْسَطُهُمْ: هُوَ خَيْرُهُمْ. فَقَالَ آخِرُهُمْ: خُذُوْا خَيْرَهُمْ، فَكَانَتْ تِلْكَ اللَّيْلَةَ فَلَمْ يَرَهُمْ حَتَّى أَتَوْهُ لَيْلَةً أُخْرَى فِيْمَا يَرَى قَلْبُهُ وَتَنَامُ عَيْنُهُ وَلَا يَنَامُ قَلْبُهُ وَكَذٰلِكَ اْلأَنْبِيَاءُ تَنَامُ أَعْيُنُهُمْ وَلَا يَنَامُ قَلْبُهُمْ- فَلَمْ يُكَلِّمُوْهُ حَتَّى احْتَمَلُوْا فَوَضَعُوْهُ عِنْدَ بِئْرِ زَمْزَمَ فَتَوَلَاهُ مِنْهُمْ جِبْرِيْلُ فَشَقَّ جِبْرِيْلُ مَا بَيْنَ نَحْرِهِ إِلَى لِبَّتِهِ حَتَّى فَرَغَ مِنْ صَدْرِهِ وَجَوْفِهِ فَغَسَلَهُ مِنْ مَاءِ زَمْزَمَ بِيَدِهِ حَتَّى أَنْقَى جَوْفَهُ ثُمَّ أَتَى بِطَشْتٍ مِنْ ذَهَبٍ فِيْهِ نُوْرٌ مِنْ ذَهَبٍ مَحْشُوٍّ إِيْمَانًا وَحِكْمَةً فَحَشَابِهِ صَدْرَهُ وَلَغَادِيْدَهُ يَعْنِى عُرُوْقَ حَلْقِهِ ثُمَّ اَطْبَقَهُ. (رواه البخاري)

Artinya: Anas bin Malik menuturkan bahwa pada malam diperjalankannya Rasulullah SAW dari Masjidilharam, datanglah kepadanya tiga orang pada saat sebelum turunnya wahyu, sedangkan Rasul pada waktu itu sedang tidur di Masjidilharam.

Kemudian berkatalah orang yang pertama, Siapakah dia ini?. Kemudian orang kedua menjawab, Dia adalah orang yang terbaik di antara mereka (kaumnya). Setelah itu berkatalah orang ketiga, Ambillah orang yang terbaik itu.

Pada malam itu, Nabi tidak mengetahui siapa mereka, sehingga mereka datang kepada Nabi di malam yang lain dalam keadaan matanya tidur sedangkan hatinya tidak tidur. Demikianlah para nabi, meskipun mata mereka terpejam, namun hati mereka tidaklah tidur.

Sesudah itu rombongan tadi tidak berbicara sedikit pun kepada Nabi hingga mereka membawa Nabi dan meletakkannya di sekitar sumur Zamzam. Di antara mereka ada Jibril yang menguasai diri Nabi, lalu Jibril membelah bagian tubuh, antara leher sampai ke hatinya, sehingga kosonglah dadanya.

Sesudah itu, Jibril mencuci hati Nabi dengan air Zamzam menggunakan tangannya, sehingga bersihlah hati beliau. Kemudian Jibril membawa bejana dari emas yang berisi iman dan hikmah. Kemudian dituangkanlah isi bejana itu memenuhi dada beliau dan urat-urat tenggorokannya lalu ditutupnya kembali. (Riwayat al-Bukhārī)

اِذْ أَتَانِي آتٍ فَقَدَّ فَاسْتَخْرَجَ قَلْبِي، ثُمَّ أُتِيْتُ بِطَشْتٍ مِنْ ذَهَبٍ مَمْلُوْءَةٍ إِيْمَانًا، فَغَسَلَ قَلْبِي ثُمَّ حُشِيَ (أُعِيْدَ) (رواه البخاري عن صعصعة)

Artinya: Bahwa Nabi saw bersabda, Tiba-tiba datang kepadaku seseorang (Jibril). Kemudian ia membedah dan mengeluarkan hatiku. Setelah itu dibawalah kepadaku bejana yang terbuat dari emas yang penuh dengan iman, lalu ia mencuci hatiku. Setelah itu menuangkan isi bejana itu kepadaku. Kemudian hatiku dikembalikannya seperti sediakala. (Riwayat al-Bukhārī dari Sa'ṣa'ah)

أَنَّ رَسُوْلَ اللّٰهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: أُتِيْتُ بِالْبُرَاقِ وَهُوَ دَابَّةٌ أَبْيَضُ فَوْقَ الْحِمَارِ وَدُوْنَ الْبِغَالِ يَضَعُ حَافِرَهُ عِنْدَ مُنْتَهَى طَرْفِهِ فَرَكِبْتُهُ فَسَارَ بِي حَتَّى أَتَيْتُ بَيْتَ الْمَقْدِسِ فَرَبَطْتُ الدَّابَّةَ بِالْحَلْقَةِ الَّتِى يَرْبِطُ فِيْهَا الْأَنْبِيَاءُ ثُمَّ دَخَلْتُ فَصَلَّيْتُ فِيْهِ رَكْعَتَيْنِ ثُمَّ خَرَجْتُ فَأَتَانِى جِبْرِيْلُ بِإِنَاءٍ مِنْ خَمْرٍ وَإِنَاءٍ مِنْ لَبَنٍ فَاخْتَرْتُ اللَّبَنَ فَقَالَ جِبْرِيْلُ أَصَبْتَ الْفِطْرَةَ. (رواه أحمد عن أنس بن ملك)

Artinya: Bahwa Rasulullah saw bersabda, Didatangkan kepadaku Buraq, yaitu binatang putih lebih besar dari himār, dan lebih kecil dari bigāl. Ia melangkahkan kakinya sejauh pandangan mata. Kemudian saya mengendarainya, lalu ia membawaku sehingga sampai ke Baitul Makdis. Kemudian saya mengikatnya pada tempat para nabi mengikatkan kendaraannya. Kemudian saya salat dua rakaat di dalamnya, lalu saya keluar. Kemudian Jibril membawa kepadaku sebuah bejana yang berisi minuman keras (khamar) dan sebuah lagi berisi susu; lalu saya pilih yang berisi susu, lantas Jibril berkata, Engkau telah memilih fitrah sebagai pilihan yang benar. (Riwayat Aḥmad dari Anas bin Mālik)

Makna Isra Mikraj dalam Al-Qur'an dan Hadis

Melansir NU Online, ayat Isra Mikraj diawali dengan lafaz subḥāna sebagai penegasan kemahasucian dan kebesaran Allah SWT atas peristiwa luar biasa yang terjadi di luar jangkauan logika manusia.

Penggunaan kata asrā dan lailan menunjukkan bahwa perjalanan Isra Nabi Muhammad SAW benar-benar terjadi pada malam hari dalam waktu yang sangat singkat. Allah SWT memperjalankan hamba-Nya, yakni Nabi Muhammad SAW, dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa sebagai bentuk pemuliaan.

Perjalanan ini juga sekaligus untuk memperlihatkan tanda-tanda kebesaran-Nya. Masjidil Aqsa disebut sebagai tempat yang diberkahi karena menjadi pusat turunnya wahyu, tempat ibadah para nabi, dan wilayah yang makmur.

Perjalanan Isra ini memberikan pengalaman spiritual yang mendalam bagi Nabi Muhammad SAW, menguatkan hatinya dalam menghadapi penentangan kaumnya serta memantapkan keyakinan terhadap wahyu Allah.

Ayat tersebut menegaskan bahwa Allah Maha Mendengar dan Maha Melihat segala sesuatu tanpa ada yang luput dari pengawasan-Nya. Peristiwa Isra disebutkan secara eksplisit dalam surah Al-Isra, sedangkan peristiwa Mikraj, kenaikan Nabi Muhammad SAW ke Sidratul Muntaha, diisyaratkan dalam surah An-Najm.

Mayoritas ulama tafsir berpendapat bahwa Isra Mikraj terjadi setelah Nabi diangkat menjadi rasul, sekitar satu tahun sebelum hijrah. Terkait waktu pastinya, terdapat perbedaan pendapat, namun sebagian ulama menyebutkan 27 Rajab sebagai tanggal peristiwanya.

Hadis-hadis sahih menjelaskan sebelum perjalanan Isra Mikraj, Nabi mengalami pembersihan hati oleh Malaikat Jibril dan diisi dengan iman serta hikmah. Dalam perjalanan Isra, Nabi menaiki Buraq, kendaraan luar biasa yang melaju sangat cepat, sehingga seluruh perjalanan terjadi dalam waktu kurang dari satu malam.

Mayoritas ulama berpendapat bahwa Isra Mikraj terjadi dengan jasad dan ruh Nabi dalam keadaan sadar, bukan mimpi, berdasarkan lafaz ayat, reaksi kaum Quraisy, serta penggunaan kata 'abdihi yang menunjukkan kesatuan jasad dan ruh.

Pendapat yang menyatakan Isra Mikraj hanya terjadi secara ruhani dinilai lemah karena tidak didukung sanad hadis yang kuat. Isra Mikraj dipahami sebagai peristiwa nyata yang menunjukkan kekuasaan Allah SWT dan kemuliaan Nabi Muhammad SAW, sekaligus menjadi penguat iman bagi umat Islam sepanjang masa.




(hil/irb)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads