Psikolog Ungkap Peran Keluarga-Sekolah Cegah Remaja Terjerumus Kekerasan

Psikolog Ungkap Peran Keluarga-Sekolah Cegah Remaja Terjerumus Kekerasan

Fadya Majida Az-Zahra - detikJatim
Rabu, 14 Jan 2026 08:00 WIB
Ilustrasi Keluarga
Ilustrasi keluarga (Foto: Getty Images/iStockphoto)
Surabaya -

Keterlibatan anak dan remaja dalam perilaku kekerasan, termasuk bergabung dengan kelompok atau geng bermasalah, tidak dapat dilepaskan dari pengaruh lingkungan terdekatnya. Pencegahan sejak dini melalui peran keluarga, sekolah, dan masyarakat dinilai menjadi kunci utama dalam melindungi remaja dari perilaku berisiko.

Dosen Fakultas Psikologi Universitas Airlangga (Unair), Atika Dian Ariana, M.Sc., M.Psi., menegaskan bahwa anak dan remaja bukan individu yang berdiri sendiri. Setiap perilaku yang muncul merupakan hasil interaksi berbagai faktor yang saling berkaitan.

"Kalau kita bicara faktor yang mendorong remaja terlibat dalam kekerasan, kita tidak bisa melihatnya hanya dari satu sisi. Pendekatan yang bisa digunakan adalah model ekologi, di mana ada lapisan individu, keluarga, lingkungan sebaya, hingga faktor budaya yang lebih luas," ujar Atika kepada detikJatim, Rabu (14/1/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurutnya, pada lapisan individu, remaja bisa saja mengalami frustrasi emosional atau kesulitan mengekspresikan diri secara sehat. Kondisi tersebut dapat semakin berisiko ketika anak berada di lingkungan yang menormalisasi kekerasan sebagai bentuk pelampiasan emosi.

Atika menjelaskan, keluarga memiliki peran mendasar sebagai ruang pertama pembentukan perilaku. Pola asuh yang dibangun sejak dini akan sangat mempengaruhi bagaimana remaja berinteraksi di luar rumah. Ia menilai istilah pola asuh lebih tepat dibandingkan sekadar pengawasan.

ADVERTISEMENT

"Pola asuh itu relasi yang dibangun, bukan tiba-tiba muncul ketika anak sudah bermasalah. Kuncinya ada pada komunikasi yang konsisten dan kepercayaan," jelasnya.

Ia menambahkan, komunikasi yang efektif tidak bisa dilakukan secara mendadak saat anak sudah menunjukkan perubahan perilaku. Ketika kepercayaan belum terbangun, remaja akan cenderung menutup diri dan mencari pelampiasan di luar rumah.

"Basis dari komunikasi itu trust (kepercayaan). Kita akan sulit meminta anak terbuka kalau kepercayaan belum terjalin. Tapi tidak ada kata terlambat, orang tua tetap bisa mulai membangun komunikasi yang lebih sehat," ungkap Atika.

Selain keluarga, sekolah dinilai memiliki posisi strategis dalam melakukan identifikasi awal terhadap perilaku menyimpang remaja. Lingkungan sekolah memungkinkan guru mengamati interaksi remaja dengan teman sebaya secara lebih menyeluruh.

"Di sekolah, perilaku remaja bisa terlihat lebih utuh. Guru bisa menangkap tanda-tanda awal seperti perubahan emosi, sering membolos, penurunan semangat belajar, hingga munculnya perilaku agresif," kata Atika.

Ia menyebut, sekolah dapat berperan sebagai mitra orang tua dengan menyediakan ruang-ruang aktivitas positif bagi remaja, seperti klub minat, kegiatan olahraga, maupun komunitas kreatif yang sesuai dengan ketertarikan anak.

Atika juga menekankan pentingnya peran masyarakat dalam menciptakan lingkungan yang aman bagi remaja. Aturan sosial yang diterapkan secara konsisten dinilai dapat menjadi upaya preventif untuk menekan potensi kekerasan.

"Lingkungan yang lebih luas juga punya peran. Misalnya aturan jam malam, pelaporan tamu, atau kesepakatan perilaku di masyarakat. Bukan untuk mengekang, tetapi untuk melindungi," ujarnya.

Terkait remaja yang sudah terlanjur terlibat dalam kelompok bermasalah, Atika mengingatkan agar tidak memberi label negatif. Menurutnya, remaja tersebut justru membutuhkan intervensi dan dukungan dari berbagai pihak.

"Prevensi memang paling ideal, tapi ketika sudah terjadi, kita tidak boleh membiarkan. Anak yang terdampak itu membutuhkan pendampingan, bukan dijauhi," tegasnya.

Sebagai penutup, Atika mengajak orang tua dan lingkungan sekitar untuk menyediakan ruang aman bagi remaja dalam mengekspresikan diri. Dukungan sosial sederhana, seperti mau mendengarkan dan hadir secara konsisten, dinilai mampu memperkuat ketahanan psikologis remaja.

"Ketika rumah menjadi tempat yang aman, remaja akan kembali ke orang tua terlebih dahulu. Dari situ, banyak risiko bisa dicegah sejak awal," pungkasnya.



(auh/abq)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads