Menaker Dorong Lulusan Kampus Siap Kerja dan Hadapi Disrupsi AI

Menaker Dorong Lulusan Kampus Siap Kerja dan Hadapi Disrupsi AI

Muhammad Aminudin - detikJatim
Senin, 05 Jan 2026 15:45 WIB
Menaker Dorong Lulusan Kampus Siap Kerja dan Hadapi Disrupsi AI
Menaker di UB/Foto: Muhammad Aminudin/detikJatim
Malang -

Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) Prof. Yassierli menekankan pentingnya peran perguruan tinggi dalam menyiapkan lulusan yang siap memasuki dunia kerja. Di tengah perubahan lanskap ketenagakerjaan nasional dan global.

Hal tersebut disampaikan saat menghadiri Sidang Pleno Terbuka Majelis Wali Amanat Universitas Brawijaya (UB), Senin (5/1/2026).

Menaker menyebut tantangan dunia kerja saat ini semakin kompleks, ditandai dengan pergeseran kebutuhan industri dan perkembangan teknologi yang cepat. Kondisi tersebut berdampak langsung pada kompetensi yang harus dimiliki lulusan perguruan tinggi.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Perguruan tinggi harus terus berbenah untuk menghasilkan lulusan yang siap bekerja di industri. Kita masih menghadapi persoalan mismatch antara keterampilan yang dimiliki lulusan dengan kebutuhan dunia kerja di Indonesia," ujar Yassierli kepada wartawan, Senin siang.

ADVERTISEMENT

Menaker menegaskan, persoalan penyerapan tenaga kerja tidak hanya menjadi tanggung jawab Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) semata, tetapi memerlukan kolaborasi lintas kementerian.

Mulai dari Kementerian Perindustrian, Kementerian Pertanian, hingga Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemkomdigi).

"Kami di Kabinet Merah Putih bekerja sebagai satu tim," katanya.

Sebagai langkah konkret, Kemnaker menjalankan program magang bagi 100 ribu lulusan perguruan tinggi yang merupakan inisiatif Presiden Prabowo Subianto dan dilaksanakan melalui Kemnaker.

Program magang berdurasi enam bulan ini bertujuan memberikan exposure langsung kepada peserta terhadap dunia kerja.

"Antusiasmenya luar biasa. Program ini insya Allah akan terus berlanjut hingga 2026," jelasnya.

Sementara terkait perkembangan kecerdasan buatan (AI), Menaker menilai AI akan membawa disrupsi signifikan, namun tidak sepenuhnya menggantikan peran manusia.

"AI juga membuka peluang lahirnya jenis pekerjaan baru yang kami sebut sebagai AI Digital Talent. Kami berharap kampus dapat merespons kebutuhan tenaga kerja berbasis AI ini," bebernya.

Menaker juga menyinggung target penciptaan 19 juta lapangan kerja, yang disusun berdasarkan data dari Kementerian Investasi. Menurut Menaker secara year on year terdapat sekitar dua juta penyerapan tenaga kerja baru, meskipun angka pengangguran masih tergolong signifikan.

"Lowongan kerja yang ada memang menyerap tenaga kerja formal dan informal, namun belum sepenuhnya mampu memberikan solusi besar terhadap pengangguran," katanya.

Sedangkan terkait program magang, Yassierli menjelaskan bahwa tidak ada klausul yang menjamin peserta langsung diterima bekerja setelah selesai magang. Namun, peluang tersebut tetap terbuka.

"Tidak ada kewajiban perusahaan menerima, tapi jika kinerjanya baik, tentu ada peluang diserap," ujarnya.

Program magang telah berjalan dalam tiga batch dengan target 100 ribu peserta yang telah terpenuhi. Peserta tersebar di berbagai sektor, mulai dari industri, kementerian, hingga instansi pemerintah, meski sebarannya diakui masih belum optimal.

"Ini menjadi pekerjaan rumah kami untuk batch selanjutnya," tutup Yassierli.




(auh/hil)


Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads