Patung macan putih di Kediri belakangan ini viral di media sosial karena bentuknya yang dianggap tak biasa dan lebih menyerupai kuda nil atau zebra. Ini memicu keheranan warga sekaligus gelak tawa bagi siapa pun yang menjumpainya. Publik pun berdatangan ke lokasi untuk menyaksikan secara langsung dan berfoto dengan patung tersebut.
Namun fenomena patung unik ini bukan kali pertama. Sejumlah daerah lainnya di Jawa Timur ternyata juga memiliki patung atau tugu dengan bentuk unik, aneh, bahkan kontroversial. Entah karena desain yang sulit dimaknai, ukuran yang tak lazim, maupun anggaran pembangunan yang terbilang fantastis.
Alih-alih jadi hiasan kota, patung-patung ini justru menjelma jadi bahan obrolan, meme, hingga perdebatan. Berikut adalah rangkumannya dari detikJatim.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
1. Patung Macan Putih Kediri
Patung Macan Putih yang berdiri di Desa Balongjeruk, Kecamatan Kunjang, Kabupaten Kediri jadi sorotan publik belakangan ini setelah viral di media sosial. Bukan karena megahnya, tapi justru karena tampilannya yang dinilai tidak lazim dan memicu tawa netizen. Ada yang bilang mirip zebra hingga kuda nil ketimbang macan putih.
Patung tersebut dibangun atas inisiatif Kepala Desa Balongjeruk, Safi'i, menggunakan dana pribadi sekitar Rp 3,5 juta, bukan dana desa. Macan putih dipilih sebagai ikon desa karena berkaitan dengan cerita dan kepercayaan lokal tentang simbol penjaga wilayah.
2. Patung Macan Oranye Tulungagung
Kalau Kediri punya Macan Putih yang viral, Tulungagung punya Macan Kuning yang tak kalah menarik perhatian. Patung yang berdiri di Desa Pojok, Campurdarat ini sudah menjadi ikon desa selama lebih dari 30 tahun dan dikenal sebagai Bok Macan Campurdarat (BMC).
Wujudnya menyerupai macan duduk dengan tubuh berwarna oranye terang, garis-garis hitam di punggung dan kaki, wajah menghadap ke depan dengan mata melotot, moncong menonjol, serta gigi yang terlihat.
Jika dilihat sekilas memang tidak menyeramkan, sebab patung tersebut lebih menyerupai kucing dibanding macan. Namun siapa sangka ternyata patung ini menyimpan cerita mistis.
Melansir akun TikTok @kacamata_tulungagung, setiap kali patung dicat ulang, konon sering terjadi kecelakaan di sekitar lokasi, bahkan lampu penerangan jalan di sekitarnya kerap mati bersamaan.
Gresik kini punya tetenger (landmark) baru yaitu patung Gajah Mungkur. Bentuk gajah yang dianggap kurang jelas dan dinilai lucu ini menghabiskan dana Rp 1 miliar. (Foto: Deny Prastyo Utomo/detikJatim) |
3. Patung Gajah Mungkur Gresik
Bentuknya tidak menyerupai gajah, tapi menghabiskan dana pembangunan sekitar Rp 1 miliar. Patung Gajah Mungkur yang berdiri di Simpang Lima Sukorame ini sempat ramai dibicarakan warganet karena wujudnya yang dianggap berbeda jauh dari gajah asli.
Warganet menganggap bentuk patung gajah ini abstrak. Hanya terdapat belalai dan empat kaki yang tampak menyatu dengan tubuh abu-abu tanpa detail mata maupun telinga.
Patung ini dibangun melalui kerja sama Pemerintah Kabupaten Gresik dan CSR PT Petrokimia Gresik. Meskipun tujuan utamanya adalah mempercantik kota dan menjadi landmark kota, banyak warga menyoroti proporsi dan bentuk patung yang tidak realistis jika dibandingkan dengan biaya yang dikeluarkan.
Hingga kini, patung Gajah Mungkur masih menjadi perbincangan di kalangan masyarakat dan warganet, baik sebagai bahan kritik maupun objek foto.
4. Tugu Hikayat Sidoarjo
Tugu Hikayat Sang Delta di perempatan Babalayar, Jalan Pahlawan, Sidoarjo, menjadi salah satu landmark kota yang sempat ramai dibicarakan. Tugu ini dibangun untuk mempercantik kota dengan memadukan elemen budaya lokal. Hal ini dibuktikan lewat desain menyerupai tunas bambu menjulang dengan sisi kanan-kiri berbentuk haluan perahu, serta siluet di tengah bangunan yang mirip candi.
Di bagian bawah dilengkapi kolam air mancur mini dan lampu sorot untuk menonjolkan tampilan saat malam hari. Menurut beberapa sumber, desain tugu ini membentuk huruf "S" yang berarti Sidoarjo jika dilihat dari atas.
Namun mengingat tugu ini berada di tengah kota dan masyarakat hanya melihat dari sisi samping saja, desain tersebut dianggap kurang berguna karena tidak bisa dinikmati.
Meski dipuji bagus, banyak netizen menilai realisasinya kurang maksimal, terutama dari sisi proporsi dan detail. Proyek pembangunan tugu ini menghabiskan anggaran hampir Rp 695 juta yang bagi sebagian masyarakat dianggap terlalu besar untuk ukuran tugu yang tidak terlalu tinggi.
(ihc/dpe)

