Libur Natal dan Tahun Baru (Nataru) telah tiba. Masyarakat pun kerap memanfaatkan momen ini untuk bepergian atau berwisata. Namun, kondisi cuaca yang tidak menentu-mulai dari panas, hujan, hingga potensi cuaca ekstrem-menjadi faktor yang perlu diantisipasi.
Menghadapi situasi tersebut, masyarakat yang hendak berwisata diimbau untuk mempersiapkan diri secara matang agar perjalanan tetap aman, nyaman, dan sehat.
Dosen D4 Destinasi Pariwisata Fakultas Vokasi Universitas Airlangga (Unair) Novianto Edi Suharno membagikan sejumlah tips berdasarkan pengamatan dan analisis terkini. Ia menekankan bahwa keselamatan harus menjadi prioritas utama, bahkan di atas rencana perjalanan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Prinsip utamanya ya kita harus mengutamakan keselamatan terlebih dahulu, bukan lagi rencana perjalanan wisatanya. Kemungkinan kita masih juga punya waktu untuk mengunjungi di lain waktu atau lain bulan," kata Novianto, Sabtu (20/12/2025).
Novianto menyarankan masyarakat untuk terus memantau informasi cuaca dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), khususnya di wilayah tujuan wisata. Selain itu, pemilihan sarana transportasi juga perlu dilakukan dengan pertimbangan matang, dengan memprioritaskan moda yang relatif aman.
Menurutnya, akomodasi juga perlu mendapat perhatian khusus. Wisatawan disarankan memilih tempat menginap yang memiliki kebijakan pembatalan dan pengembalian dana yang fleksibel.
"Bisa kereta api misalnya. Kemudian kalau pakai kendaraan pribadi, sesuaikan jenis kendaraan dengan destinasi, kalau ke gunung jangan pakai sedan. Lalu pilih pemesanan akomodasi yang fleksibel untuk pembatalan dan refund. Jadi, karena cuaca sulit diprediksi, kita bisa memilih last minute booking saat kondisi cuaca sudah jelas," jelasnya.
Dalam memilih destinasi wisata, Novianto menilai lokasi indoor seperti museum, pusat perbelanjaan, galeri seni, atau pertunjukan dalam gedung lebih resilien terhadap cuaca ekstrem. Sementara untuk destinasi outdoor, wisatawan perlu memastikan pengelolaannya dilakukan secara aman.
"Kalau ke alam itu usahakan memilih kawasan konservasi yang memang sudah memiliki manajemen konservasi dan tata kelola yang baik, sehingga infrastrukturnya jelas, ada rute evakuasi, serta memiliki sistem peringatan dini bencana," ujarnya.
Selain perencanaan yang matang, Novianto juga mengingatkan pentingnya kesiapsiagaan apabila wisatawan terlanjur menghadapi kondisi ekstrem di lokasi wisata. Salah satunya dengan memahami titik-titik evakuasi.
"Hentikan aktivitas jika memang tidak memungkinkan. Misalnya di gunung terjadi badai, maka protokol utamanya adalah menghentikan pendakian," tuturnya.
Ia pun berpesan agar masyarakat selalu peka terhadap situasi dan tidak memaksakan aktivitas, khususnya kegiatan luar ruang saat cuaca buruk.
"Berdasarkan pengalaman lampau, alam dan aktivitas outdoor itu unpredictable. Kita harus memperkuat literasi terkait cuaca dan membangun komunikasi yang aktif, terutama dengan pengelola destinasi yang akan kita kunjungi," pungkasnya.
(ihc/irb)
