Pakar Soroti Lonjakan Harga Pangan Jelang Nataru

Pakar Soroti Lonjakan Harga Pangan Jelang Nataru

Muhammad Aminudin - detikJatim
Kamis, 04 Des 2025 23:00 WIB
Pakar Soroti Lonjakan Harga Pangan Jelang Nataru
Ilustrasi penjual di Pasar Malang (Foto: Muhammad Aminudin/detikJatim)
Malang -

Dosen Agribisnis Universitas Muhammadiyah Malang Ary Bakhtiar menyoroti lonjakan harga komoditas dan pangan kembali meroket jelang Natal dan Tahun Baru. Kondisi ini tentu memberatkan bagi masyarakat.

Sejak awal November, kata Ary, harga sejumlah komoditas pokok di berbagai pasar tradisional terus merangkak naik.

Terutama beras, cabai, bawang merah, dan daging sapi yang menjadi kebutuhan utama rumah tangga. Ia pun menegaskan bahwa produksi pangan turun signifikan pada akhir tahun ini.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Harga cabai saja yang awalnya Rp 20 ribu per kilogram kini melonjak menjadi Rp 73 ribu. Ibu-ibu akhirnya hanya membeli seperempat kilogram," kata Ary kepada wartawan, Kamis (4/12/2025).

Ary menambahkan bahwa berbagai agenda besar yang berdekatan yakni Natal, Tahun Baru, hingga Ramadan pada Februari 2026 juga turut mendorong meningkatnya permintaan di pasaran.

ADVERTISEMENT

Selain itu, kenaikan harga juga dipicu oleh kombinasi antara cuaca ekstrem, terganggunya distribusi pasokan, serta penurunan produksi akibat curah hujan tinggi.

Perubahan iklim turut memperburuk kondisi, sementara kebutuhan masyarakat meningkat menjelang perayaan akhir tahun.

Sebagai langkah mitigasi, Ary menyarankan sejumlah solusi yakni pemerintah diharapkan hadir untuk menjaga stabilitas pangan.

"Terutama pada tingkat produksi dan distribusi," tegasnya.

Ia menjelaskan bahwa pendampingan dan perlindungan bagi petani harus diperkuat, mulai dari teknologi pengendalian hama berbasis cuaca hingga akses pupuk dan bibit yang lebih stabil.

Ary turut menekankan pentingnya peningkatan infrastruktur distribusi agar pasokan tidak terhambat saat cuaca ekstrem.

Selain itu, pemerintah daerah dan pusat perlu menyiapkan operasi pasar dan cadangan pangan untuk menekan lonjakan harga pada komoditas yang paling sensitif.

Lonjakan harga bahan pangan ini menjadi persoalan serius karena mempengaruhi banyak lapisan masyarakat dan mengancam stabilitas ekonomi rumah tangga maupun usaha kecil.

"Jika tidak dikendalikan segera, kondisi ini dikhawatirkan akan memperburuk daya beli masyarakat dan keberlanjutan usaha di awal tahun mendatang," katanya.

Terakhir, Ary berharap agar upaya stabilisasi pangan dapat dilakukan secara lebih menyeluruh dan berkelanjutan oleh berbagai pihak.

"Saya berharap pemerintah dapat memperkuat sistem pangan kita, bukan hanya saat krisis atau menjelang hari besar, tetapi sepanjang tahun," ujarnya.

Ia menekankan bahwa petani, UMKM, dan konsumen harus sama-sama mendapat perlindungan agar rantai pasok tetap kuat.

Menurutnya, perencanaan yang matang, dukungan teknologi, dan pendampingan yang konsisten merupakan kunci untuk menciptakan ketahanan pangan yang benar-benar tangguh.




(auh/hil)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads