Setelah heboh temuan manusia gua di Jombang, kisah serupa terkuak di Mojokerto. Sepasang suami istri ditemukan telah 22 tahun tinggal di dasar Jurang Gembolo, perbatasan Kecamatan Pacet dan Trawas, tepatnya di lembah terpencil di kaki Gunung Welirang yang hanya bisa dicapai dengan perjalanan curam dan berbahaya.
Jurang Gembolo sangat dalam di antara dua bukit kawasan Gunung Welirang. Rumah pasutri Karmin alias Pak Soleh (71) dan Simpen (56) benar-benar di dasar jurang ini. Dari sisi Kecamatan Pacet, akses paling dekat melalui Dusun Bulak Kunci, Desa Nogosari.
Dari Bulak Kunci, kita melalui jalan setapak yang biasa dilewati para petani setempat. Jalan setapak ini masih bisa ditempuh menggunakan sepeda motor. Namun, harus ekstra hati-hati karena selain konturnya menurun, di beberapa bagian jalan, sisi kirinya berupa jurang yang sangat dalam.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pasutri yang 22 tahun hidup di dasar jurang Mojokerto Foto: Enggran Eko Budianto/detikJatim |
Sekitar 15 menit melalui jalan setapak, sampai di ujung jalan yang bisa dilewati sepeda motor. Panorama alam di sini sangat memukau. Yaitu berupa hutan pinus, perkebunan yang tertata begitu rapi nan hijau, serta rimbunnya perbukitan, lembah dan jurang di lereng Gunung Welirang.
Selanjutnya, untuk sampai ke rumah pasangan Karmin dan Simpen, detikJatim mesti jalan kaki sekitar 30 menit dengan medan yang menantang. Awalnya, perjalanan melalui plengsengan saluran irigasi di perkebunan warga. Jalan setapak ini landai sehingga tak seberapa menguras energi.
Semakin masuk ke dalam hutan, setiap langkah harus diperhitungkan. Sebab jalan setapak sebelah saluran irigasi ini berbatasan langsung dengan jurang yang sangat dalam. Sedangkan sisi kanan saluran irigasi berupa bukit yang tinggi dengan hutan sangat lebat dan alami. Gemericik air, nyanyian serangga hutan dan sejuknya udara lereng Gunung Welirang mengiri setiap langkah.
Medan kian menantang saat kita harus turun ke dasar Jurang Gembolo. Jalurnya sangat curam, licin dan membelah semak-semak. Selanjutnya, kita menyeberang sungai, lalu naik ke hutan bambu yang sangat asri dan rindang. Setelah keluar dari hutan bambu inilah kita sampai di rumah Karmin dan Simpen.
"Saya sudah 20 tahun lebih tinggal di sini, sejak tahun 2003," terang Karmin kepada wartawan di rumahnya, Minggu (30/11/2025).
Karmin dan Simpen menumpang di lahan Perhutani Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Pasuruan. Secara administrasi, rumah pasutri ini masuk Desa Sukosari, Trawas, Mojokerto. Meski di dasar jurang, area yang mereka tempati cukup datar. Sekitar 50 meter di sebelah kiri rumah terdapat aliran sungai.
Tempat tinggal Karmin dan Simpen sangat sederhana. Lantainya berupa tanah, tiang dan dindingnya terbuat dari bambu. Rumah seluas 3x5 meter persegi ini sebagian memakai atap genting, sebagian lagi atap bambu. Hanya ada 3 ruangan di dalamnya, yaitu ruang utama, kamar tidur dan dapur.
Meski terletak di dasar jurang dikelilingi ladang dan hutan yang lebat, rumah Karmin sudah dilengkapi lampu sebagai penerangan. Listriknya bersumber dari panel surya yang dipasang di samping kanan rumahnya. Mereka mengalirkan air dari mata air menggunakan pipa untuk kebutuhan mandi, masak dan mencuci.
Pasutri yang 22 tahun hidup di dasar jurang Mojokerto Foto: Enggran Eko Budianto/detikJatim |
"Rumah ini saya bangun sendiri. Luasnya sekitar 3x5 meter persegi," ujarnya.
Anak Sulung Karmin, M Soleh (48) menjelaskan, sebelum hidup di jurang, bapaknya berprofesi sebagai tukang kayu dan bangunan. Ia tidak mengetahui awal mula orang tuanya menetap di hutan. Sebab ketika itu, ia tinggal di Bali karena diangkat anak oleh seseorang dari Pulau Dewata.
"Tahunya waktu saya pulang sekitar tahun 2010, dapat kabar dari saudara kalau orang tua hidup di hutan. Tidak hanya kaget. Adik-adik bilang tidak bisa dicegah," tandasnya.













































