Sosok Kiai Miftah Ketum PBNU Pengganti Gus Yahya

Sosok Kiai Miftah Ketum PBNU Pengganti Gus Yahya

Allysa Salsabillah Dwi Gayatri - detikJatim
Minggu, 30 Nov 2025 12:30 WIB
Rais Aam PBNU KH Miftachul Akhyar menghadiri Pembukaan Kongres XVIII Muslimat NU di Surabaya, Senin (10/2/2025) sore
Rais Aam PBNU KH Miftachul Akhyar. Foto: YouTube TVNU
Surabaya -

KH Yahya Cholil Staquf alias Gus Yahya diberhentikan dari jabatannya sebagai Ketua Umum (Ketum) PBNU. Sebelumnya terdapat konflik internal yang berisi desakan agar Gus Yahya mundur dari posisi ketua.

Diketahui, PBNU menerbitkan surat edaran resmi pada 26 November 2025, yang menyatakan Gus Yahya tidak lagi berstatus sebagai Ketua Umum PBNU. Dengan demikian, Gus Yahya telah kehilangan semua hak, wewenang, dan atribut jabatan. Status tersebut berlaku sejak pukul 00.45 WIB.

Untuk sementara, Rais Aam PBNU KH Miftachul Akhyar atau yang dikenal dengan Kiai Miftah akan mengisi posisi tersebut. Lantas, bagaimana sosok Kiai Miftah? Yuk, cek selengkapnya di bawah ini.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Biografi Kiai Miftah

Dikutip dari laman NU Jatim, Kiai Miftah merupakan salah satu ulama yang sangat dihormati di wilayah Jawa Timur, terutama bagi Nahdliyin dan kalangan pesantren Jawa Timur. Ia merupakan putra dari pasangan KH Abdul Ghoni dan Hj Siti Ashfiyah.

Kiai Miftah dilahirkan di Surabaya pada 30 Juni 1953, dan merupakan anak kesembilan dari 13 saudara. Ayahnya merupakan pengasuh Pondok Pesantren Tahsinul Akhlaq Rangkah. Dengan demikian, ia lahir dan tumbuh dalam lingkungan pesantren.

ADVERTISEMENT

Kiai Miftah pernah mengenyam pendidikan di beberapa pondok pesantren. Mulai dari Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas Jombang, Pondok Pesantren Sidogiri Pasuruan, hingga Pondok Pesantren Lasem Jawa Tengah.

Kiai Miftah juga menimba ilmu di Majelis Ta'lim Sayyid bin Alawi al- Makki al-Maliki di Malang, pada masa Sayyid Muhmmad masih mengajar di Indonesia. Kepiawaiannya dalam ilmu agama membuat Syekh Masduki kagum sehingga menjadikannya sebagai menantu. Syekh Masduki merupakan seorang mutakharrijin (alumnus) istimewa di Pondok Pesantren Tremas, Pacitan.

Saat di Surabaya, Kiai Miftah mendirikan Pondok Miftachussunnah yang berlokasi di Kedung Tarukan. Mulanya ia hanya ingin menempati kediaman kakeknya. Namun, melihat kondisi lingkungan sekitar, ia memutuskan untuk membuka pengajian.

Konon, kampung Kedung Tarukan dikenal dengan daerah yang tidak ramah terhadap dakwah para ulama. Lewat akhlak dan ketinggian ilmu yang dimiliki Kiai Miftah, pandangan itu berhasil berubah.

Jejak Perjalanan Kiai Miftah

  • Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Surabaya: 2000-2005
  • Rais Syuriyah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur: 2007-2013
  • Rais Syuriyah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur: 2013-2018
  • Wakil Rais Aam PBNU: 2015-2020
  • Pj Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU): 2018-2020
  • Rais 'Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) masa Khidmah: 2022-2027

Akhlak dan Keteladanan

Kiai Miftah dikenal sebagai kiai yang penuh kharisma dan selalu menekankan pentingnya adab terutama saat menerima tamu. Tak heran jika ia selalu bersedia untuk melayani tamunya sendiri tanpa bantuan khodim.

Mulai dari menyuguhkan, menuangkan, hingga menyajikan makanan dan minuman. Kesederhanannya itu berasal dari didikan ayahnya yang selalu mewariskan adab demikian ketika menyambut tamu.

Masa kecil KH Miftahul Akhnyar di tempat dengan disiplin keras dari kedua orang tua. Tak jarang ia mendapat hukuman fisik ketika malas belajar. Namun, ia menyakini bahwa didikan tersebut membuatnya menjadi dirinya sekarang.

Kiai Miftah juga mendapat penghargaan. Ia termasuk ke dalam 500 tokoh muslim yang berpengaruh di dunia versi kategori Administration of Religious Affairs. Penghargaan ini dideklarasikan The Royal Islamic Strategic Studies Center Amman, Yordania.




(auh/irb)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads