Komunitas Haritage Sepanjang Taman dan Karangpilang kembali menggaungkan usulan penamaan Jembatan Sepanjang sebagai Jembatan Letkol Hasanoeddin Sidik, seorang tokoh yang gugur saat mempertahankan jembatan tersebut pada masa pertempuran melawan tentara Inggris.
Ketua Teatrikal Jembatan Sepanjang, Fikri Atamimi, menjelaskan bahwa perjuangan mengabadikan nama Hasanoeddin Sidik bukanlah hal baru. Sejak 2022, komunitas telah rutin menggelar teatrikal sejarah dan menyampaikan aspirasi agar jembatan itu resmi diberi nama sesuai pahlawan yang gugur di lokasi tersebut.
"Kami ingin jembatan ini tidak hanya dikenal sebagai Jembatan Karangpilang atau Jembatan Sepanjang. Kami berharap pemerintah menetapkannya sebagai Jembatan Letkol Hasanoeddin Sidik, untuk menghormati kepahlawanan beliau sebagai martir jembatan ini," ujar Fikri, usai gelar treatikal Minggu (30/11/2025).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hasanoeddin Sidik lahir di Sijunjung, Sumatera Barat, pada 1 Mei 1924. Ayahnya merupakan pegawai PTT yang kemudian menetap di Surabaya. Ia bersekolah di Koningen Masschool-kini SMKN 2 Surabaya.
Menjelang kemerdekaan, Kepala Sekolah Suhartini meminta Hasanoeddin membentuk BKR Teknik. Ia pun menghimpun pasukan yang terdiri dari murid-muridnya sendiri, dan ia dipercaya menjadi komandan.
Dalam pertempuran Surabaya, pasukan teknik bertugas melakukan penghancuran objek strategis untuk menghambat laju tentara Inggris. Upaya meledakkan Jembatan Wonokromo gagal, menjadi beban tersendiri bagi Hasanoeddin.
Saat pasukan Inggris memasuki wilayah Karangpilang dan tank mendekati jembatan, Hasanoeddin memeriksa rangkaian kabel bom yang tidak kunjung meledak. Ia menemukan kabel putus, diduga terinjak warga yang sedang mengungsi.
Ketika menyambungkan kembali kabel tersebut, tanpa sadar pemicu sudah dalam posisi aktif.
"Bom langsung meledak begitu kabel tersambung. Tubuh beliau hancur. Anak buahnya hanya menemukan helm baja dan pedangnya. Potongan tubuh lainnya tidak utuh," jelas Fikri.
Sisa benda yang ditemukan itu dimakamkan di Mojokerto, tempat keluarga kemudian memastikan lokasi makamnya.
Tahun ini merupakan tahun keempat teatrikal digelar oleh gabungan komunitas dari Surabaya, Taman, Karangpilang, Bangil, dan berbagai elemen heritage lainnya. Fikri menyebut, semangat memperjuangkan nama Hasanoeddin Sidik semakin kuat.
"Ini bukan hanya soal nama. Ini soal menjaga memori sejarah. Beliau bukan tentara reguler, beliau guru. Guru yang mengorbankan hidupnya untuk mempertahankan jembatan ini," tegasnya.
Komunitas berharap Pemerintah Kota Surabaya dan Kabupaten Sidoarjo dapat menetapkan nama resmi jembatan sesuai sejarah perjuangan.
(auh/hil)











































