Unair Gandeng Pemkot Surabaya Perkuat Pencegahan Stunting

Unair Gandeng Pemkot Surabaya Perkuat Pencegahan Stunting

Aprilia Devi - detikJatim
Sabtu, 29 Nov 2025 16:40 WIB
Unair bersama Pemkot Surabaya lakukan pencegahan stunting
Unair bersama Pemkot Surabaya lakukan pencegahan stunting (Foto: Aprilia Devi/detikJatim)
Surabaya -

Universitas Airlangga (Unair) turun ke tengah masyarakat untuk memperkuat pencegahan stunting di Surabaya. Fokusnya menyasar anak di bawah dua tahun (baduta).

Lewat program bakti mahasiswa, Unair melakukan pendampingan kepada keluarga yang memiliki anak di bawah dua tahun (baduta) di Kecamatan Tambaksari, Surabaya. Wilayah ini binaan Fakultas Kedokteran sekaligus salah satu kecamatan dengan permasalahan gizi yang cukup menonjol.

Dosen pendamping mahasiswa dalam program ini, Dr. Sulistiawati, dr., M.Kes menjelaskan, kegiatan ini sudah lama menjadi program kolaboratif antara Unair, Kecamatan Tambaksari, dan Dinas Kesehatan Kota Surabaya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Pendampingan kepada baduta ini memasuki tahun kedua. Sasarannya bukan hanya anak yang telah mengalami stunting, tetapi juga balita yang menunjukkan tanda risiko seperti penurunan berat badan.

ADVERTISEMENT

"Di sini yang kita dampingi tidak hanya yang stunting tapi yang akan menuju stunting. Maka kita upayakan supaya enggak jadi stunting atau enggak jadi underweight," ujar Sulistiawati, Sabtu (29/11/2025).

Sulistiawati merinci bahwa pendampingan dilakukan dalam beberapa tahap, mulai dari pengenalan hingga pemecahan masalah. Setiap mahasiswa mendapat beberapa baduta untuk dipantau.

"Setelah ketemu kenal, kemudian permasalahannya bisa diungkapkan, diidentifikasi dulu," tuturnya.

Mahasiswa juga memberikan edukasi tentang pemberian makanan bayi dan anak (PMBA), gizi, dan pola makan sesuai kondisi anak.

Dalam hal ini, mahasiswa turut didampingi dosen pembimbing yang siaga. Jika ditemukan kendala layanan, tim akan segera berkoordinasi dengan fasilitas kesehatan.

"Misalnya tahun lalu ada yang ke-detect baduta belum dapat susu, akhirnya bisa dibantu menyelesaikan masalahnya dengan menyampaikan ke puskesmas terdekat," tuturnya.

Dinas Kesehatan Kota Surabaya pun menegaskan pentingnya pendampingan sejak dini. Ketua Tim Kerja Kesehatan Keluarga dan Gizi Masyarakat Sri Lestari menyebut bahwa Surabaya kini berada di fase pencegahan stunting.

"Memang sekarang kita ini di Surabaya sudah ke tahap pencegahan, intervensi-intervensi diberikan sejak balita," ujarnya.

Sri menyoroti masalah kondisi ketika balita tidak mencapai kenaikan berat badan minimal. Pendampingan baduta dinilai efektif karena fase ini adalah masa pertumbuhan paling pesat.

Berdasarkan aplikasi Sayang Warga, Surabaya mencatat sekitar 304 anak yang masuk kategori stunting.

"Angka stunting sudah hampir stagnan. Yang stunting sekitar 304 tersebar di Surabaya," ungkapnya.

Kasus tersebut tersebar di 63 puskesmas. Tambaksari sendiri menjadi salah satu kecamatan yang memiliki PR besar terkait permasalahan stunting.

Dengan kolaborasi antara Unair, Dinkes, dan warga, pendampingan baduta di Tambaksari diharapkan dapat mengintervensi sedini mungkin, memulihkan pertumbuhan anak, dan memperkuat pengetahuan keluarga soal gizi.

Halaman 2 dari 2
(irb/hil)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads