Punahnya Harimau Jawa Jadi Sinyal Bahaya bagi Manusia

Jihan Navira - detikJatim
Sabtu, 29 Nov 2025 16:00 WIB
Harimau Jawa muncul lagi di Ujung Kulon. Foto: Dok TNUK
Surabaya -

Harimau Jawa (Panthera tigris sondaica) adalah subspesies harimau endemik Pulau Jawa yang dinyatakan punah pada 1980-an. Kepunahan ini merupakan akibat dari perburuan dan alih fungsi hutan menjadi lahan pertanian serta permukiman yang menggerus habitat alaminya.

Kehilangan Harimau Jawa bukan sekadar catatan sejarah kelam, melainkan peringatan keras bagi manusia. Hal ini menjadi tanda bahwa hubungan manusia dengan alam berada di titik genting, bahwa keseimbangan kehidupan yang kita nikmati selama ini bisa runtuh sewaktu-waktu jika tidak dijaga.

Apakah Ini Alarm Bagi Manusia?

Bayangkan jika kita tidak lagi membicarakan hilangnya satwa langka, melainkan mempertanyakan kelangsungan hidup manusia ratusan tahun mendatang. Banyak dari kita mungkin belum menyadari betapa pentingnya peran predator puncak dalam menjaga struktur alami sebuah ekosistem.

Harimau Jawa adalah pengendali utama populasi herbivora di hutan. Ketika predator ini hilang, keseimbangan rantai makanan pun goyah.

Perburuan terhadap harimau Jawa dulu dilakukan dengan alasan mereka dianggap hama atau pemangsa ternak. Padahal hutan adalah rumah mereka, dan ketika habitat itu menyempit, satwa hanya melakukan apa yang dilakukan makhluk hidup, yaitu bertahan.

Ketidakseimbangan ekosistem kemudian muncul dalam bentuk ledakan populasi hewan herbivora, seperti rusa dan babi hutan. Tanpa predator yang mengendalikan jumlahnya, regenerasi pepohonan muda terhambat dan keanekaragaman hayati menurun.

Padahal, keanekaragaman hayati merupakan aspek penting kehidupan di bumi. Setiap spesies punya peranan yang tidak tergantikan, baik dalam menjaga kualitas udara, air, tanah, hingga menyediakan sumber daya yang biasa dikelola menjadi makanan, obat-obatan, hingga bahan industri.

Ketika ketidakseimbangan ekosistem terjadi, manusia akan berhadapan langsung dengan dampaknya, yaitu hutan yang rapuh, lahan pertanian yang rusak, dan konflik manusia-satwa yang makin sering.

Dampak Serius Hilangnya Predator Puncak

Perburuan besar-besaran terhadap harimau Jawa dulu dianggap sebagai upaya melindungi manusia. Namun yang terjadi justru sebaliknya. Tanpa predator, populasi herbivora tumbuh tak terkendali dan merambah ke pertanian serta permukiman demi mencari makanan.

Situasi ini masih kita lihat hari ini, misalnya ketika gajah atau babi hutan memasuki lahan masyarakat karena habitatnya semakin terpotong dan sempit. Kita dapat menyebutnya sebagai kehancuran struktur alami, hilangnya pengatur utama dalam ekosistem yang menyebabkan seluruh rantai makanan terganggu.

Dalam tatanan ekosistem, predator memainkan peran penting dalam mengatur jumlah spesies di bawahnya, baik hewan maupun tumbuhan. Penurunan jumlah predator bisa mempengaruhi siklus karbon dan mempercepat perubahan iklim.

Penelitian University of British Columbia menunjukkan bahwa ketika para peneliti menghilangkan semua predator dari tiga ekosistem air tawar di Kanada dan Costa Rica, emisi karbon dioksida (CO₂) meningkat hingga 93 persen.

Dengan kata lain, hilangnya predator puncak tidak hanya berdampak pada hutan, melainkan pada manusia secara langsung, melalui perubahan iklim, meningkatnya gas rumah kaca, dan menurunnya kualitas lingkungan hidup.

Apa yang Bisa Kita Lakukan?

Kesadaran bahwa hutan beserta isinya adalah kunci kehidupan yang seimbang harus menjadi landasan setiap upaya pelestarian. Di tengah meningkatnya populasi manusia dan kebutuhan akan lahan, konservasi harus menjadi prioritas. Beberapa langkah penting yang bisa dilakukan adalah sebagai berikut.

1. Melindungi dan Memulihkan Hutan

Melindungi dan memulihkan hutan adalah langkah paling mendasar untuk mengembalikan keseimbangan ekosistem. Upaya ini mencakup reboisasi serta restorasi habitat agar kawasan hutan yang rusak dapat kembali menjadi ruang hidup bagi berbagai spesies.

Selain itu, penerapan sistem tebang pilih dan tebang tanam harus dilakukan secara konsisten untuk memastikan pemanfaatan sumber daya alam tetap berkelanjutan dan tidak menghabiskan tutupan hutan yang ada.

Larangan penebangan liar juga perlu diperkuat melalui pengawasan yang tegas di lapangan. Tanpa pengawasan yang efektif, kerusakan hutan akan terus terjadi, baik secara besar-besaran maupun perlahan namun berkelanjutan.

Di sisi lain, peran masyarakat sekitar hutan sangat penting. Maka, edukasi mengenai pentingnya menjaga ekosistem perlu terus dilakukan agar tercipta kesadaran kolektif bahwa hutan bukan hanya milik negara, tetapi sumber kehidupan bersama.

2. Menghentikan Perburuan Satwa Liar

Perburuan, terutama terhadap satwa langka dan predator puncak, harus benar-benar dihentikan. Kini, posisi harimau Jawa di puncak rantai makanan digantikan macan tutul (Panthera pardus melas), namun satwa endemik ini pun masuk kategori endangered menurut IUCN.

Melansir buku Bio-Ekologi dan Konservasi Karnivora yang ditulis Hendra Gunawan dan Hadi S Alikondra, macan tutul diperkirakan punah akibat penurunan populasi. Sementara populasi babi hutan, monyet, dan tikus justru meningkat dan menjadi hama pertanian serta penyebar penyakit akibat hilangnya pengendali alami.

3. Memperkuat Konservasi Predator Puncak

Konservasi bukan hanya tentang menyelamatkan satu spesies, tetapi menjaga stabilitas seluruh ekosistem. Predator puncak adalah fondasi penting dalam menjaga keberlangsungan tersebut.

Konservasi bukan pilihan, melainkan kebutuhan. Dan, upaya menyelamatkan predator puncak adalah langkah penting untuk menyelamatkan ekosistem dan warisan alam Indonesia agar tetap hidup untuk generasi mendatang.

Harimau Jawa bukan sekadar satwa yang punah, tetapi bagian dari identitas budaya dan alam Jawa Timur. Kepunahannya seharusnya menjadi pengingat bahwa ketika alam kehilangan keseimbangannya, manusia akan menjadi pihak pertama yang merasakan dampaknya.



Simak Video "Video: Raja Ampat Ditetapkan Jadi Cagar Biosfer oleh UNESCO"

(auh/irb)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork