Kabupaten dan Kota di Jatim yang Rayakan Hari Jadi September

Kabupaten dan Kota di Jatim yang Rayakan Hari Jadi September

Mira Rachmalia - detikJatim
Jumat, 29 Agu 2025 09:00 WIB
Peta Jawa Timur
Peta Jawa Timur. Simak Daftar Kabupaten dan Kota di Jatim yang Rayakan Hari Jadi September. Foto: Gavriel Rama/ detikjatim
Surabaya -

Sejumlah kabupaten di Jawa Timur akan merayakan hari jadi pada September 2025. Momen ini menjadi pengingat perjalanan sejarah setiap daerah sekaligus ungkapan syukur atas pencapaian yang telah diraih.

Perayaan hari jadi tak hanya bersifat seremonial, tetapi juga memperkuat rasa persatuan dan kebanggaan masyarakat terhadap daerahnya. Berikut daftar lengkap kabupaten di Jatim yang akan memperingati hari jadinya bulan ini.

Hari Jadi Kabupaten Jatim Bulan September

Pada Bulan September 2025 terdapat dua kabupaten yang akan merayakan hari jadi, tepatnya Kota Probolinggo, Kabupaten Pasuruan, dan Kabupaten Situbondo. Perayaan hari jadi ini merupakan momen penting bagi kedua kabupaten tersebut untuk mengenang perjalanan sejarah, budaya, dan prestasi yang telah diraih.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

1. Kota Probolinggo (4 September 1359)

Kota Probolinggo merupakan salah satu kota di Jawa Timur yang terletak sekitar 100 kilometer di tenggara Surabaya. Wilayah ini berada di kawasan tapal kuda Jawa Timur dan menjadi jalur utama pantai utara yang menghubungkan Jawa dan Bali.

Secara geografis, Kota Probolinggo berbatasan dengan Selat Madura di utara, Kecamatan Dringu di timur, serta beberapa kecamatan di Kabupaten Probolinggo di bagian selatan dan barat.

ADVERTISEMENT

Sejarah Probolinggo dapat ditelusuri sejak masa pemerintahan Raja Majapahit ke-IV, Prabu Radjasanagara atau Sri Nata Hayam Wuruk (1350-1389). Pada masa itu, wilayah ini dikenal dengan nama Banger, yang diambil dari nama sungai yang mengalir di daerah tersebut.

Banger merupakan sebuah pedukuhan kecil di bawah pemerintahan Akuwu Sukodono, dan namanya tercatat dalam kitab Negarakertagama karya Mpu Prapanca. Di bawah kekuasaan Majapahit, Banger berkembang menjadi Pakuwon.

Nama Probolinggo baru muncul sekitar tahun 1770 ketika Tumenggung Djojonegoro mengganti nama Banger. Kata "Probo" berarti sinar, sedangkan "Linggo" berarti tugu, tanda peringatan, atau tongkat. Sejak saat itu, Probolinggo mulai dikenal dengan nama barunya dan berkembang menjadi salah satu kota penting di jalur perdagangan Jawa Timur hingga sekarang


2. Kabupaten Pasuruan (18 September 929)

Sejarah Kabupaten Pasuruan berawal dari masa Kerajaan Kalingga di bawah pemerintahan Raja Sima. Pada abad ke-8, pusat kerajaan dipindahkan ke timur di wilayah Pulokerto, Kecamatan Kraton, Kabupaten Pasuruan.

Kemudian pada tahun 929, Mpu Sindok memindahkan pusat pemerintahan Mataram Kuno ke Jawa Timur dan meninggalkan sejumlah prasasti, termasuk Prasasti Cungrang di Bulusari, Pasuruan. Prasasti inilah yang menjadi dasar penetapan Hari Jadi Kabupaten Pasuruan setiap 18 September.

Nama Pasuruan pertama kali dikenal pada masa Kerajaan Majapahit. Saat itu Raja Hayam Wuruk singgah di wilayah ini dan disuguhi sirih oleh Mpu Sindok. Sang raja sangat menyukainya dan berulang kali menyebut kata "Pasuruhan".

Sejak saat itu daerah ini dikenal dengan nama Pasuruhan atau Pasoeroean, yang dalam kitab Negarakertagama ditafsirkan sebagai tempat tumbuhnya tanaman suruh (sirih). Seiring waktu, wilayah ini berkembang menjadi daerah penting dalam jalur politik, perdagangan, sekaligus penyebaran Islam.

Dalam perjalanan sejarahnya, Pasuruan sempat dikuasai Kerajaan Giri, Demak, hingga Mataram Islam. Tokoh penting seperti Kiai Darmoyuda dan Untung Suropati pernah memimpin daerah ini sebelum akhirnya Belanda mengambil alih pada abad ke-18.

Berdasarkan Staatblad 1900 No. 334, Belanda resmi membentuk Kabupaten Pasuruan pada 1 Januari 1901. Kini, Kabupaten Pasuruan dikenal sebagai salah satu daerah bersejarah di Jawa Timur dengan akar kuat sejak era kerajaan hingga kolonial.

3. Kabupaten Situbondo (19 September 1972)

Sejarah Kabupaten Situbondo ditelusuri melalui kajian panjang yang melibatkan sejarawan, budayawan, akademisi, hingga pemangku kebijakan daerah. Nama Situbondo sendiri baru dikenal sekitar tahun 1800-an dalam literatur Belanda dengan sebutan Situbanda.

Sebelumnya, masyarakat menyebut wilayah ini dengan nama Patokan. Istilah Situbondo muncul pada masa pembangunan Dam Sluis, bendungan irigasi yang digagas Bupati pertama Besuki, Kanjeng Raden Tumenggung (KRT) Prawiroadiningrat. Nama tersebut berasal dari bahasa Jawa, yaitu Siti yang berarti tanah dan Bondo yang berarti diikat.

KRT Prawiroadiningrat, yang dilantik pada 15 Agustus 1818, dikenal sebagai pemimpin visioner. Ia menata birokrasi dengan membentuk struktur pemerintahan modern seperti adipati, jaksa, wedana, hingga kepabean, yang sebelumnya belum dikenal.

Ia membawa gagasan revolusioner dengan menghapus penentuan status sosial berdasarkan keturunan bangsawan. Sebagai gantinya, status sosial didasarkan pada kecakapan, pendidikan, dan kualitas sumber daya manusia. Ia juga menjadi pelopor pendidikan dengan mendirikan sekolah modern di Besuki pada 1920.

Hari Jadi Situbondo kemudian ditetapkan melalui Peraturan Daerah Nomor 12 Tahun 2013, setelah melalui perdebatan panjang. Penetapan ini mengacu pada momentum pengangkatan Bupati pertama Besuki, KRT Prawiroadiningrat, pada 15 Agustus 1818.

Tanggal tersebut dipandang memiliki nilai historis yang jelas sekaligus mencerminkan keteladanan, kebanggaan, dan identitas masyarakat Situbondo. Dengan demikian, Hari Jadi Situbondo tidak hanya menjadi penanda sejarah, tetapi juga sumber inspirasi untuk membangun daerah yang lebih maju dan berkeadilan.




(ihc/irb)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads