Banjir luapan Sungai Bengawan Solo di Ngawi sudah surut namun menyisakan duka untuk petani. Sebab, 80 hektare persawahan dipastikan hasilnya tidak maksimal.
"Sekitar 80 hektare lahan padi yang terdampak banjir luapan Bengawan Solo. Dampaknya hasil kurang maksimal kualitas," ujar Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Ngawi Supardi saat dikonfirmasi detikJatim, Sabtu (4/3/2023).
Puluhan hektare persawahan tersebut, kata Supardi, tersebar di kawasan pinggir Bengawan Solo dan Sungai Madiun, yang merupakan anak Bengawan Solo. Total yang terendam banjir 143 hektare persawahan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Dari 143 hektare lahan padi yang terendam banjir itu tersebar di 24 desa di 8 kecamatan," papar Supardi.
Supardi menjelaskan, 143 hektare itu angka kumulatif sejak banjir melanda mulai 27 Februari hingga 3 Maret 2023.
Di Kecamatan Kwadungan ada 5 desa yang terdampak banjir. Kecamatan Geneng 3 desa, Mantingan 3 desa, Karanganyar 2 desa, Patin 3 desa. Kemudian Kecamatan Ngawi 5 desa, Pitu 2 desa dan Kedunggalar 2 desa.
"Delapan kecamatan. Desa paling banyak di Kecamatan Kwadungan dan Ngawi masing-masing 5 desa," papar Supardi.
Supardi menyebut, banjir tersebut tidak membuat petani gagal panen. Namun kualitas padi menurun dan berpengaruh pada harga gabah.
"Untuk puso tidak ada namun hanya kualitas padi menurun karena terendam banjir," pungkasnya.
Berikut 24 desa di 8 kecamatan yang lahan pertaniannya terendam banjir:
1. Kecamatan Kwadungan: Desa Kendung, Purwosari, Simo, Tirak dan Pojok.
2. Kecamatan Geneng: Desa Dempel, Kerasukan dan Dempel
3. Kecamatan Paron: Desa Dawu, Kebon dan Ngale
4. Kecamatan Ngawi: Desa Nangunhy, Kandangan, Kartoharjo, Grudo dan Karangasri
5. Kecamatan Putu: Desa Putu dan Ngancar
6. Kecamatan Kedunggalar satu desa yakni Pelanglor
7. Kecamatan Mantingan: Desa Jatimulya, Sambirejo dan Mantingan
8. Kecamatan Karanganyar: Desa Sriwedari dan Sekarjati.
(sun/iwd)











































