Hari Bhakti Postel, Saat Indonesia Rebut Jawatan Pos-Telepon dari Jepang

Rina Fuji Astuti - detikJatim
Selasa, 27 Sep 2022 11:37 WIB
Hari Bhakti Postel adalah momentum peringatan sejarah diambil alihnya Jawatan Pos, Telegraf, dan Telepon (PTT) dari pemerintahan Jepang.Berikut ulasannya.
Ilustrasi/Foto: Getty Images/iStockphoto/Boonyachoat
Surabaya -

Tanggal 27 September diperingati sebagai Hari Bhakti Postel (Pos dan Telekomunikasi). Atau Hari Pos Telekomunikasi Telegraf (PTT).

Sebab, ini merupakan peringatan sejarah diambil alihnya Jawatan Pos, Telegraf, dan Telepon (PTT) dari pemerintahan Jepang.

Sejarah Hari Bhakti Postel

Dalam situs resmi Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) dijelaskan, pada 3 September 1945, Angkatan Muda Pos Telegraf dan Telepon (AMPTT) menggelar pertemuan. Pertemuan tersebut dihadiri Soetoko, Slamet Soemari, Joesoef, Agoes Salman, Nawawi Alif dan beberapa pemuda lainnya.

Pertemuan itu membahas rencana merealisasikan pemindahan kekuasaan. Di mana lahir kesepakatan bahwa Kantor Pusat PTT harus sudah dikuasai paling lambat akhir September 1945.

Mereka mendekati Jepang agar menyerahkan kekuasaan di Kantor PTT. Komandan Pasukan Jepang menginstruksikan, penyerahan Kantor Pusat PTT harus dilakukan Sekutu. Maka dari itu, rencana merebut Kantor Pusat PTT lebih dimatangkan dan dirahasiakan.

Soetoko berunding dengan Ismojo dan Slamet Soemari pada 23 September 1945. Hasilnya, mereka meminta kesediaan Mas Soeharto dan R Dijar untuk menuntut Jepang supaya menyerahkan kekuasaan PTT secara damai. Jika Jepang tidak mau menyerahkannya, mereka siap untuk mengambil jalan kekerasan.

Sehari berselang, Soetoko meminta Mas Soeharto dan R Dijar untuk menemui pimpinan PTT Jepang, Tuan Osada. Namun perundingan yang digelar tidak membuahkan hasil.

Mereka hanya diperbolehkan mengibarkan bendera Merah Putih di halaman belakang gedung. Lalu pada 26 September 1945, Soetoko memanggil Soewarno dan Nawawi Alif. Mereka diberi tugas memimpin peruntuhan tanggul dan mengelilingi kantor.

Dalam aksi perebutan kekuasaan Jawatan PTT dari tangan Jepang, Soetoko ditetapkan sebagai ketua. Ia dibantu tiga wakil ketua yakni Nawawi Alif, Hasan Zein dan Abdoel Djabar.

Siasat dan taktik disusun. Warga di sekitar Kantor Pusat PTT bersedia membantu AMPTT untuk merebut kekuasaan dari Jepang.

Pada 27 September 1945, AMPTT siap dengan senjatanya masing-masing. Massa sudah berkumpul di halaman selatan.

Soewarno dan pasukannya memasuki ruangan kantor yang dikuasai Jepang. Pihak Jepang tidak dapat berbuat apa-apa. Jepang tidak mampu menghalangi tekad AMPTT.

Soetoko lalu membawa Mas Soeharto dan R Dijar ke depan massa. Di depan massa, Soetoko membacakan teks sebagai berikut:

Atas nama pegawai PTT dengan ini, dengan disaksikan oleh masyarakat

Yang berkumpul di halaman PTT jam 11.00 tanggal 27 September 1945

Kami mengangkat Bapak Mas Soeharto dan Bapak R. Dijar,

Masing-masing menjadi

Kepala dan Wakil Kepala Jawatan PTT seluruh Indonesia

Atas Nama AMPTT

Tertanda: SOETOKO



Simak Video "Kejagung Naikkan Kasus Dugaan Korupsi BTS Kominfo ke Penyidikan"
[Gambas:Video 20detik]
(sun/dte)