Kesabaran Hebat Ibu di Jombang Rawat Anaknya Penderita Gangguan Syaraf Otak

Tim berbuatbaik - detikJatim
Jumat, 12 Agu 2022 15:37 WIB
syifa
Suryati mennggendong Syifa yang mengalami gangguan syaraf otak (Foto: berbuatbaik.id)
Surabaya -

Betapa beratnya perjuangan ibu dan anak asal Desa Tondowulan, Plandaan, Jombang ini. Di tengah hidup serbaketerbatasan yang dipikul Suryati (52), putrinya, Ainur Syifa (11) menderita gangguan syaraf otak. Suryati harus bekerja keras demi mencari sesuap nasi dan menanggung biaya pengobatan buah hati tercintanya.

Sehar-hari, Suryati merupakan perajin gerabah. Dia tinggal berdua dengan Syifa. Lantaran penyakit yang dideritnya, Syifa tidak bisa berjalan dan gerakannya serbaterbatas.

Mirisnya, Suryati ditinggal oleh sang suami yang mengaku menyerah dengan keadaan Syifa. Sehari-hari, Syifa hanya mengandalkan Suryati untuk beraktivitas.

Syifa hanya terlihat berbaring, duduk di pangkuan sang ibu, atau didudukkan di sebuah ember sesekali. Meski begitu, tak ada wajah murung ataupun putus asa yang tergambar dalam raut wajah Syifa.

Suryati selalu telaten menggendong Syifa, mengajaknya bicara, hingga berbagi suka duka bersama dan hidup berdua saja. Terkadang, Suryati juga mengajari Syifa membaca.

Suryati mengatakan, sedari kecil Syifa sudah divonis dokter mengalami gangguan syaraf otak yang mempengaruhi perkembangan fisik dan mentalnya. Oleh sebab itu, aktivitas Syifa sehari-hari sangat bergantung pada ibunya.

Syifa sebetulnya adalah anak kedua Suryati. Namun, Suryati kehilangan anak pertamanya. Jadi lah saat ini Syifa merupakan putri semata wayang Suryati.

Suryati lantas menceritakan perjuangannya saat melahirkan Syifa. Kala itu, Suryati juga hampir kehilangan anak lagi.

"Pas mau lahir itu pendaharan hebat sekali. Kakaknya meninggal di kandungan jadi ini juga pertolongan di RS. Setengah jam dia lahir. Pas lahir tidak nangis, seperti orang meninggal. Dokter bilang bu yang sabar, anaknya napasnya satu, dua, tiga. Dokter kasih pertolongan," ucap Suryati.

Tidak banyak yang bisa dilakukan Suryati untuk menangani kondisi anak keduanya ini karena ketiadaan biaya. Dia hanya mengandalkan pengobatan alternatif.

Ainur Syifa (11) diderita penyakit gangguan syarat otak. Namun, ia tetap tegar menjalani hidup bersama ibunya, Suryati. Mari donasi sekarang lewat berbuatbaik.Ainur Syifa (11) diderita penyakit gangguan syarat otak. Namun, ia tetap tegar menjalani hidup bersama ibunya, Suryati. Mari donasi sekarang lewat berbuatbaik. Foto: berbuatbaik.id

Selain itu, Suryati juga rajin memberikan fisioterapi secara mandiri untuk Syifa agar ada kemajuan dalam pergerakannya. Terapi ini pun harus dia lakukan selama 3 tahun sejak tahun 2019.

"Ada perubahan sedikit. Dia kalau didudukin sudah bisa bangun. Dulu nggak bisa, lemas seperti ini. Tangannya sudah bisa terbuka, dulu menggenggam. Ada harapan tapi memang harus sabar," ungkapnya penuh harap.

Suryati juga sudah terampil memijat punggung Syifa. Tujuannya melemaskan syaraf punggung Syifa. Selain itu, Syifa juga dilatih untuk berjalan menggunakan ankle foot orthosis, hasil sumbangan dari orang yang diharapkan bisa melatih telapak kaki Syifa.

Segala upaya dilakukan Suryati untuk menopang hidup dia dan putrinya. Di usianya yang tak lagi muda, Suryati hidup dari membuat gerabah.

"Iya aku taruh di punggung, kalau dulu Syifa masih kecil. Sekarang udah nggak sanggup, dia udah berat," sambung Suryati.

Selama bekerja membuat gerabah, Syifa pun diletakkan Suryati di sebuah ember berukuran sedang. Dengan ember ini, Syifa bisa aman dan tidak bergerak ke mana-mana meskipun tubuhnya sudah mulai besar tertekuk dan terlihat tak nyaman.

Kendati begitu, sinar harapan selalu terpancar di wajah polos Syifa. Dalam kondisi yang serba terbatas, Syifa percaya diri mengatakan ingin menjadi dokter gigi.

Dengan malu-malu, Syifa pun mengungkapkan jika suatu saat dia ingin mulai bersekolah di SLB. Namun, sampai saat ini kesempatan belum datang. Meski begitu sang ibu pun terus mendukung apapun kemauan putri satu-satunya ini.

"Dari rumah jauh banget.. Harus pakai motor, tapi gak mungkin sekolah, di rumah aja," sebutnya bimbang.

syifaSyifa sedang disuapi oleh Suryati Foto: berbuatbaik.id

Bagi Suryati, Syifa adalah segalanya sebagai teman bercerita hingga memberikan limpahan kasih sayang. Suryati berharap Syifa selalu ada di sisinya. Sambil menangis, Suryati mengatakan ketakutan dan kekhawatirannya.

"Seandainya diambil jangan aku yaaa. Dia gak punya siapa-siapa, hanya punya aku, gak ada teman, gak ada yang bisa merawat kecuali saya. Dia cuma punya saya, serba sendiri, seperti mandi saya angkat, buang air besar saya angkat. Semuanya," kata Suryati yang tidak bisa lagi membendung air matanya.

Melihat air mata itu, Syifa ikut menangis merasakan kesedihan ibunda. Sekali lagi dia menegaskan bahwa segalanya akan dilakukan untuk ibunya.

"Kalau ibu sudah tua, aku yang kerja, ibu gak usah kerja, aku saja. Jadi dokter gigi, dapat uang banyak kasih mamak," tegas Syifa.

Tak ada yang lebih indah dari ikatan batin ibu dan anak seperti Suryati dan Syifa. Tanpa ayah ataupun suami, keduanya saling menopang dan menjaga walau beban kehidupan kian menghimpit. Hanya mimpi dan harapan hidup lebih baik yang menjaga nyala asa hidup keduanya.

Jika Anda tergerak untuk membantu Suryati dan Syifa, maka berilah dukungan dengan berdonasi di berbuatbaik.id. Kabar baiknya, semua donasi yang diberikan seluruhnya akan sampai ke penerima 100% tanpa ada potongan.



Simak Video "Pahitnya Hidup Bocah Penjual Gulali, Dipalak Preman Hingga Bantu Ekonomi Keluarga"
[Gambas:Video 20detik]
(hse/dte)