Bukan Fogging, Dosen FK Unair Ungkap Cara Jitu Berantas Wabah DBD

Esti Widiyana - detikJatim
Jumat, 12 Agu 2022 11:12 WIB
Dosen Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga (FK Unair) Dr dr Sulistiawati MKes
Dosen FK Unair ungkap cara jitu berantas wabah DBD (Foto: Esti Widiyana/detikJatim)
Surabaya -

Selain virus COVID-19, wabah demam berdarah dengue (DBD) disebabkan nyamuk aedes aegepty juga perlu diwaspadai. Dosen Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga (FK Unair) Dr dr Sulistiawati MKes menekankan cara ampuh memberantas nyamuk aedes aegepty bukanlah fogging.

Menurutnya, cara ampuh yakni dengan upaya 3M Plus (Mengubur, menguras, menutup, merombeng, mendaur ulang serta upaya pencegahan lain. Seperti menghindari menumpuk pakaian maupun sampah, mengisi bak mandi dengan ikan, menaburkan pembunuh jentik (abate) dan sebagainya. 3M Plus dinilai efektif dalam menekan perkembangbiakan nyamuk dengan memberantas sarang jentik-jentik.

"Upaya-upaya itu akan percuma kalau yang mengerjakan hanya satu rumah saja. Benar rumah kita terbebas nyamuk aedes aegepty. Apa jadinya kalau kita tetap tertular nyamuk yang berasal dari pekarangan tetangga," kata Sulistiawati kepada para kader kesehatan di kawasan Puskesmas Dupak, Surabaya, Jumat (12/8/2022).

Kekompakan warga, tambah dia, diperlukan dalam pemberantasan DBD. Pemberantasan DBD diperlukan kesadaran dan kerja bersama. Mulai dari warga, penggerak seperti lurah, perangkat desa, RT, RW serta kader kesehatan.

"RT/RW juga sebagai mediator antara warga dan kader. Bagaimana caranya agar setiap kader yang ingin melakukan sosialisasi atau pemberantasan jentik dari rumah ke rumah ini mendapatkan akses dari pemilik rumah," jelasnya.

Karena kerap dijumpai, kader kesulitan menjalankan tugasnya. Sebab pemilik rumah tidak mengizinkan kader masuk dengan berbagai alasan. Ini menjadi tugas RT/RW maupun lurah untuk memecahkan permasalahan.

"Rumah-rumah kosong juga harus dipantau jangan sampai menjadi sumber berkembang biak nyamuk. Dan ini kembali lagi menjadi tugas RT/RW sebagai penggerak warga," ujarnya.

Ia pun memberikan edukasi dan pembekalan kepada kader kesehatan dalam program pengabdian masyarakat. Pendekatan kepada kader dilakukan karena pemberantasan DBD tidak bisa dilakukan secara individu. Namun sebaliknya dibutuhkan kekompakan warga.

"Karenanya peran kader kesehatan ini sangat penting untuk bersama-sama menggerakkan warga untuk memberantas DBD," katanya.

Pihaknya juga melakukan Focus Group Discussion (FGD) bersama RT/RW dan kader kesehatan. Tujuannya untuk mengetahui seberapa jauh pengetahuan masyarakat mengenai penyakit DBD beserta penanganannya.

"Rata-rata pengetahuan kader sudah bagus. Hanya ada beberapa yang perlu direview ulang," pungkasnya.



Simak Video "Kasus DBD di Tasikmalaya Meningkat, Data Kematian Bertambah"
[Gambas:Video 20detik]
(fat/fat)