Semua Pihak Sepakat Jaga Kondusifitas Usai Tawuran Pesilat-Warga di Malang

Muhammad Aminudin - detikJatim
Senin, 08 Agu 2022 15:53 WIB
psht malang
Semua pihak sepakat menjaga kondusifitas Kota Malang.( Foto: Muhammad Aminudin)
Kota Malang -

Keributan pecah antara warga dengan oknum rombongan pesilat di Jalan Sudanco Supriadi, Kecamatan Sukun, Kota Malang. Usai insiden, semua pihak sepakat menjaga kondusifitas Kota Malang.

Komitmen untuk menjaga kondusifitas Kota Malang disepakati usai pertemuan perwakilan Aremania dengan komunitas Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT) Malang Raya, serta TNI di Mapolresta Malang Kota, Senin (8/8/2022).

Usai pertemuan, Kapolresta Malang Kota Kombes Pol Budi Hermanto mengatakan pihaknya mengundang Kodim 0833 Kota Malang, Batalyon B Brimobda Ampeldento, perwakilan Aremania, dan PSHT untuk duduk bersama dan melihat ke depan, bukan lagi ke belakang. Untuk bagaimana bersama-sama menjaga kondusifitas Kota Malang.

"Ini kita gunanya adalah untuk melihat ke depan. Kita jangan berpikir mundur lagi ke belakang, dan mengimbau untuk bersama-sama membantu kepolisian, TNI dan Pemkot Malang menjaga kondusifitas Kota Malang," ujar Budi Hermanto kepada wartawan di Mapolresta, Senin siang.

Menurut Budi dengan adanya insiden salah satu perguruan silat dengan warga Sukun kemarin, pihaknya dapat mengkaji untuk ke depannya segala kegiatan dapat terlebih dahulu dilaporkan kepada aparat kepolisian.

Tujuannya, akan bisa dilakukan pengawalan, pengamanan sekaligus penjagaan selama kegiatan itu berjalan. Budi Hermanto juga mengakui, jika kegiatan sebenarnya berada di luar Kota Malang, namun rombongan yang akan hadir melintasi Kota Malang.

"Kita harus mengkaji sehingga kami menyampaikan untuk melaksanakan kegiatan memberikan informasi, sehingga kami di kepolisian ini siap untuk melaksanakan pengawalan, pengamanan, penjagaan kegiatan aktivitas tersebut. Ini kan aktivitasnya di luar Kota Malang tetapi melintasi Kota Malang," tegasnya.

"Terus yang kedua, kita juga menhimbau untuk tidak melaksanakan konvoi secara besar-besaran. Karena ini juga mengganggu kamtibmas lalu lintas bagi pengguna jalan lainnya. Apalagi itu dilaksanakan di jam-jam padat. Tetapi apapun kejadian itu kita harus mengantisipasi jangka ke depannya," sambungnya.

Dalam pertemuan itu, Polresta Malang Kota juga menghimbau supaya agar semua pihak tak terprovokasi adanya informasi sesat yang beredar media sosial. Hal itu ditekankan kepada Aremania, PSHT dan seluruh masyarakat Kota Malang agar tak saling memprovokasi.

"Termasuk provokasi di medsos. Kita juga menghimbau kepada dulur-dulur Aremania untuk bisa menjaga itu. Termasuk dari PSHT agar tidak saling memprovokasi. Kita tahu Kota Malang ini cinta damai dan tenteram. Ayo bersama-sama membantu kepolisian, TNI, Pemkot untuk menciptakan situasi kondusif di Kota Malang," ujar Budi Hermanto.

Budi menambahkan ada tiga korban dalam insiden antara oknum rombongan salah satu perguruan silat dengan warga Sukun yang terjadi pada Minggu (7/8), subuh. Dari tiga korban, dua orang dari pihak salah satu perguruan silat dan satu orang berasal dari warga.

"Untuk dari warga ada satu, PSHT dua, total tiga orang. Saat ini sudah dirawat di RSSA dan kondisinya sudah berjalan dengan baik, sudah dibesuk juga sama perwakilan Aremania dan dari PSHT," imbuh Budi.

Budi memastikan pihaknya akan menanggung biaya pengobatan ketiga korban, apabila belum tercover jaminan kesehatan.

Sementara perwakilan PSHT Hendro Suprapto yang hadir dalam pertemuan tersebut menyatakan pihaknya sepakat untuk menjaga kondusifitas Malang Raya. Dengan cara masing-masing pihak memberikan pengertian dan saling mengingatkan.

"Intinya kita sepakat untuk berbicara ke depannya gimana caranya Malang Raya aman kondusif itu aja. Kita masing-masing dari komunitas memberikan pengertian yang intinya saling mengingatkan, saling menjaga. Untuk tidak saling menyalahkan, mari kita memperbaiki diri yang baik kita ambil dan yang jelek kita buang," tandas Hendro terpisah.

Hendro memastikan apa yang terjadi merupakan aksi spontanitas bukan ada tujuan untuk membuat kericuhan.

"Itu spontanitas aja, bukan ada etikat untuk ngisruh atau gimana. Namanya aja Persaudaraan Setia Hati dalam arti guyub rukun. Gimana caranya adik-adik ini dilantik dan pengesahan yang merupakan rangkaian selama satu tahun lebih dari latihan," pungkasnya.

(iwd/iwd)