Aktivis Perempuan Kecam Polisi yang Sebut Viral Pria Cium Anak Bukan Pelecehan

Aktivis Perempuan Kecam Polisi yang Sebut Viral Pria Cium Anak Bukan Pelecehan

Tim detikJatim - detikJatim
Jumat, 24 Jun 2022 10:42 WIB
pelecehan anak di gresik
Video pelecehan seksual (Foto: Tangkapan layar)
Surabaya -

Sebuah video CCTV dugaan pelecehan terhadap anak di Gresik viral di media sosial. Kapolsek Sidayu Iptu Khairul Alam membenarkan bahwa peristiwa itu terjadi di wilayah hukumnya. Sayangnya, pihaknya tidak memproses lebih lanjut karena orang tua dari anak tersebut tidak membuat laporan polisi.

"Sudah ketemu orang tuanya, nggak mempermasalahkan. Saya nggak minta keterangan (ke orang tua korban), cuma ke sana. Orang tuanya nggak mau laporan," tambah Khairul.

Pernyataan kapolsek itu lantas ditanggapi oleh aktivis perempuan asal Surabaya Siti Mazdafiah. Dia menyayangkan tanggapan kepolisian terkait hal yang sudah jelas masuk kategori pelecehan seksual terhadap anak.

"Baik aparat maupun orangtua perlu mendapatkan wawasan terkait definisi kekerasan seksual. Sudah ada UUTPKS, dan UUPA, namun sepertinya belum dipahami betul," kata Siti saat dihubungi detikJatim, Jumat (24/6/2022).

Menurut dia, korban pelecehan seksual pada anak akan berdampak hingga jangka panjang. Siti mengatakan bahwa anak sangat bisa alami trauma pasca kejadian. Dia pun menceritakan kejadian serupa yang pernah ditangani. Korban pun tidak bisa bercerita.

"Kasus yang pernah saya dampingi itu anak diminta orang tuanya beli bahan dapur, di toko dia dicium bapak-bapak juga. Anak kaget dan tidak bisa mendefinisikan apa yg dialaminya, tapi dia merasa itu sesuatu yg tidak nyaman. Dia tidak bisa bercerita pada orang dewasa karena takut dimarahi atau kekhawatiran justru dia yang disalahkan, karena dia bersedia dan tidak lari atau teriak. Atau dianggap sebagai suatu yang biasa seperti yg disampaikan bapak aparat tadi," papar Siti.

Siti menjelaskan bahwa anak yang jadi korban pelecehan seksual biasanya hanya terdiam. Namun, dampak jangka panjangnya adalah trauma, misalnya tidak mau lagi datang ke tempat dia dilecehkan.

"Yang diketahui oleh anak, orang dewasa itu menjaga dan melindungi. Sehingga reaksinya adalah freezing atau terdiam. Anak kemudian tidak mau lagi disuruh pergi ke warung karena takut mengalami hal yang sama. Orang tuanya yang tidak tahu pengalaman kekerasan anak sebelumnya, menganggap dia bandel atau malas karena tidak bersedia dimintai tolong orang tua. Kemarahan orang tua akan menjadi kekerasan berikutnya yg didapatkan oleh anak tersebut. Dan itu terus berlaku sepanjang hidupnya apabila si anak tetap menyimpan trauma kekerasan seksual tadi," sambung Siti.

Dia menambahkan, ketika anak jadi korban pelecehan, maka korban akan merasa direndahkan. Dampaknya, anak bisa saja rendah diri dan sulit menjalani kehidupan.

"Apabila anak merasa sudah 'dilanggar otoritas tubuhnya' maka dia akan merasa direndahkan, merasa kotor, yang kemudian berdampak pada keberhargaan diri si anak. Kemudian, anak akan merasa rendah diri. Anak yang rendah diri tidak dapat menjalani kehidupan selanjutnya dengan bahagia dan sulit memperoleh pencapaian-pencapaian," tutur Direktur Savy Amira Surabaya itu.

Siti menegaskan bahwa pelecehan dan kekerasan seksual sekecil apapun jangan diremehkan. Ke depannya, kondisi psikologis anak korban pelecehan juga harus dicek berkala

"Cek berkala kondisi psikologis anak. Jika dia bermasalah di kemudian hari, ada kemungkinan itu salah satu dampak dari kekerasan seksual tadi," tandas dia.

Simak Video 'Viral Anak Dicium Pria di Gresik, Polisi Sebut Bukan Pelecehan':

[Gambas:Video 20detik]



(hse/dte)