Tunggak SPP Rp 10 Juta, Siswa SMP di Sidoarjo Ini Enggan Sekolah Karena Malu

Suparno - detikJatim
Rabu, 19 Jan 2022 21:11 WIB
Yati, orang tua siswa smp di sidoarjo yang menunggak SPP
Yati, ibu siswa SMP yang enggan sekolah karena nunggak SPP (Foto: Suparno)
Sidoarjo -

Seorang siswa SMP di Sidoarjo memutuskan tak mau masuk sekolah lagi karena malu. Ia malu lantaran mempunyai tunggakan uang SPP selama 3 tahun.

Yati Susiwati (30) ibu dari siswa tersebut, membenarkan anaknya enggan masuk sekolah lagi karena menunggak SPP. Menurut Yati, tunggakan itu ada karena ia dan suaminya belum sanggup membayarnya.

Yati menambahkan selama ini ia dan suaminya hanya bekerja sebagai pengamen. Dengan pendapatan tak seberapa itu, ia mengaku belum mampu membayar SPP anaknya.

"Sehari-hari pekerjaan suamiku ngamen, dulu sering ngamen berdua, meski begitu hasilnya tidak maksimal," kata Yati kepada detikJatim, Rabu (19/1/2022).

Sedangkan untuk tempat tinggal, tutur Yati, selama ini ia dan keluarganya tinggal di rumah mertuanya di Pucang Anom. Ia sendiri berasal dari Desa Banjarkemantren, Buduran.

Selain mengamen, Yati mengaku pernah menjadi buruh panggul di Pasar Larangan. Itu dilakukan saat masih mempunyai anak 2. Namun hasil kerjanya itu selalu habis untuk membayar rentenir.

"Bahkan ketika saya belum melahirkan anak ketiga, setiap malam pernah bekerja sebagai kuli panggul di pasar Larangan. Karena setiap Minggu saya harus bayar rentenir Rp 1 juta, otomatis biaya sekolah terabaikan," ujar ibu 3 anak itu.

Akibat tunggakan SPP itu, anak pertamanya, N, merasa khawatir tidak lulus, karena beberapa bulan lagi akan mengikuti ujian akhir. Sementara anak keduanya M malah malu masuk sekolah. Yati menyebut tunggakan SPP anaknya mencapai Rp 10 juta.

Yati sendiri berjanji akan melunasi tunggakan SPP anaknya. Meski demikian untuk saat ini belum mempunyai uang untuk membayarnya. "Bukanya saya tidak mau membayar. Namun kami memang tidak punya uang," ucapnya.

"Dari pihak sekolah sebenarnya tidak memaksa saya harus segera bayar, namun anak saya sendiri yang malu ke sekolah. Mereka memberi kelonggaran kepada saya untuk mencicil semampunya," tambah Yati.

Mahsun, Kepala Sekolah SMP Plus Sabilur Rosyad membenarkan ada dua muridnya yang menunggak uang SPP. Meski demikian pihaknya tidak pernah memaksa untuk membayarnya jika memang tidak punya.

"Ngapunten, di SMP Sabilur Rosyad kalau terkait wali murid yang tidak mampu membayar SPP ya tidak apa apa. Tidak pernah memarahi, apalagi dikeluarkan," terang Mahsun.

Mahsun menambahkan pihaknya sangat memaklumi bila ada wali murid yang tidak mampu membayar SPP. Bahkan yang telah lulus ada yang masih memiliki tunggakan. Kita tidak menarik, apalagi memaksa.

"Sekali lagi kalau mau mencicil ya monggo. Kalau tidak ada ya kami sangat memaklumi. Tidak pernah kami menekan apalagi mengeluarkan murid karena tunggakan SPP," tandas Mahsun.



Simak Video "Pengakuan 4 Siswi SMP di Pekanbaru yang Hilang Lalu Ditemukan di Kamar Hotel"
[Gambas:Video 20detik]
(iwd/iwd)