Kesembuhan Pasien Tuberkulosis di Blitar Capai 87 Persen

Erliana Ri - detikJatim
Jumat, 14 Jan 2022 13:06 WIB
Kasi Pengendalian Pemberantasan Penyakit Masalah Kesehatan (P3MK) Dinkes Pemkab Blitar, Eko Wahyudi mengatakan, lamanya proses pengobatan pada penderita Tuberkulosis mulai dari enam sampai delapan bulan. Untuk itu, pasien sangat membutuhkan pendampingan dari anggota keluarga dan petugas kesehatan.
Foto: Erliana Riady/detikcom
Blitar -

Sebanyak 87 persen pasien Tuberkulosis (TB) di Kabupaten Blitar dinyatakan sembuh. Tingginya angka kesembuhan karena mereka disiplin menjalani proses pengobatan.

Kasi Pengendalian Pemberantasan Penyakit Masalah Kesehatan (P3MK) Dinkes Pemkab Blitar, Eko Wahyudi mengatakan, lamanya proses pengobatan pada penderita Tuberkulosis mulai dari enam sampai delapan bulan. Untuk itu, pasien sangat membutuhkan pendampingan dari anggota keluarga dan petugas kesehatan.

"Angka kesembuhan TB kita mencapai 87 persen dari target Kemenkes 90 persen. Tapi ini termasuk tingkat kesembuhan yang tinggi, mengingat lamanya proses pengobatan pasien TB," papar Eko, Jumat (14/1/2021).
Baca juga: Puncak Kasus Omicron Diperkirakan Awal Februari, Ini Antisipasi Satgas Jatim

Data Dinkes Pemkab Blitar mencatat, selama tahun 2021 ditemukan sebanyak 4.906 kasus suspect TB atau sekitar 43 persen dari target Kemenkes sebanyak 2.575 kasus. Dan 481 kasus positif TB, atau sekitar 18,7 dari target Kemenkes.

Meski tingkat kesembuhan tinggi, namun tercatat ada 28 pasien TB yang meninggal dunia karena gagal dalam proses pengobatan. Pasien yang meninggal itu disebabkan tingkat imunitas tubuh yang makin menurun karena berbagai faktor. Antara lain kondisi tempat tinggal kurang cahaya dan kurangnya asupan nutrisi bagi penderita TB.

Eko kemudian merinci 28 pasien yang meninggal itu antara lain berusia kurang dari 30 tahun ada 6 pasien. Usia 31-44 tahun sebanyak 6 pasien. Usia 45-54 ada 8 pasien TB yang meninggal. Kemudian usia 55-56 sebanyak 8 orang. Dan pasien usia kurang dari 65 yang meninggal sebanyak 3 orang.

"Yang meninggal selama tahun 2021 ini ada 28 orang. Yang patut diwaspadai, penyakit ini menular dan didominasi usia produktif," ungkapnya.

Eko menambahkan, pandemi membatasi petugas kesehatan maupun pasien untuk melakukan kontak langsung pemeriksaan. Sehingga temuan kasus baru tidak bisa mencapai target Kemenkes. Selain itu, gejala TB yang mirip dengan Corona juga membuat warga enggan memeriksakan kesehatannya ke layanan kesehatan.

Masih kata Eko, sebenarnya Kabupaten Blitar telah dilengkapi alat Tes Cepat Molekuler (TCM). Alat itu tersedia di empat lokasi. Untuk wilayah barat, disediakan di RSUD Srengat, selatan di Puskesmas Sutojayan, Utara dan tengah di RSUD Ngudi Waluyo Wlingi. Dan untuk wilayah timur Kabupaten Blitar, tersedia di Puskesmas Kesamben.

Dinkes bekerjasama dengan PT Pos untuk mengantarkan spesimen penderita ke lokasi layanan kesehatan yang menyediakan TCM tersebut. "Warga bisa memanfaatkan layanan ini. Nanti yang antar spesimen dahaknya ke yankes yang ada TCM-nya, itu bisa Pak Pos," pungkas Eko.



Simak Video "Kepala BKKBN Sebut Tuberkulosis Lebih Mematikan Dibanding Covid-19"
[Gambas:Video 20detik]
(bdh/bdh)