Kreatif, 3 Siswi SMP Ini Bikin Alat Ubah Air Hujan-Cahaya Matahari Jadi Listrik

Charolin Pebrianti - detikJatim
Jumat, 14 Jan 2022 09:06 WIB
Siswi SMP Bikin Alat Rubah Air Hujan dan Cahaya Matahari Jadi Listrik
3 Siswi SMPN Ponorogo bikin alat diberinama getah pari hybrid (Foto: Charolin Pebrianti/detikcom)
Ponorogo -

Tiga siswi SMPN 1 Jetis, Ponorogo, berhasil membuat alat yang bisa mengubah air hujan dan cahaya matahari menjadi energi listrik. Alat tersebut diberi nama "Getah Pari Hybrid" singkatan dari Getaran Air Hujan dan Panas Matahari.

Ke-3 siswa yang berperan dalam keberhasilan ini yakni, Salsabila Dinis Oktavista, Meylani Putri Eka Wardani, dan Nasywa 'Aziizatuz Zahro.

"Cahaya matahari dan hujan kalau di Indonesia tidak ada habisnya, untuk itu kami membuat pembangkit listrik yang bisa mengoptimalkan iklim di Indonesia," terang Ketua Kelompok Salsabila saat dikonfirmasi, Jumat(14/1/2022).

Alat ini, jelas Salsabila, diklaim mampu menghasilkan energi listrik di segala musim. Bahkan alat ini mampu menyabet juara 2 nasional dan juga Penyaji Terbaik dalam ajang Kompetisi Penelitian Siswa Indonesia (Kopsi) kategori IPA SMP pada awal Desember ini.

Salsabila menambahkan selama ini pasokan listrik hanya mengandalkan PLN yang sumber utamanya dari bahan bakar fosil. Padahal kebutuhan listrik setiap tahun meningkat seiring bertambahnya jumlah penduduk.

"Alat ini diharapkan bisa jadi solusi energi alternatif di kemudian hari," imbuhnya.

Menurutnya, alat ini terbuat dari rangkaian elektronik. Mulai dari panel surya, sensor tekanan, sensor air hujan, sensor cahaya, voltmeter, modul step up, modul arduino nano, motor servo, dan sebuah aki sebagai penyimpan arus listrik sementara.

Siswi SMP Bikin Alat Rubah Air Hujan dan Cahaya Matahari Jadi ListrikSiswi SMP Bikin Alat Rubah Air Hujan-Cahaya Matahari Jadi Listrik/ Foto: Charolin Pebrianti

"Cara kerjanya cukup sederhana, ketika terik matahari, panel surya akan merubah cahaya menjadi energi listrik, ketika hujan, maka rintik air hujan akan mengubah energi kinetik menjadi energi listrik," terang Salsabila.

Salsabila menerangkan untuk menangkap cahaya matahari digunakan dua buah panel surya. Sedangkan untuk menangkap rintik air hujan, diatas dua panel surya terdapat mika transparan. Ditambah 10 buah sensor getaran di bawah atap mika.

Atap mika transparan tersebut, lanjut Salsabila, dapat terbuka maupun menutup secara otomatis tergantung dengan kondisi cuaca. Saat kondisi matahari terik maka atap mika transparan yang terdapat sensor getaran akan terbuka. Karena adanya sensor cahaya yang memerintahkan motor servo untuk membuka atap.

"Ketika hujan turun maka sensor air hujan akan memerintahkan motor servo untuk menutup atap mika agar panel surya terlindungi dari air hujan dan digantikan energi kinetik untuk menghasilkan listrik," ujar Salsabila.

Arus listrik yang dihasilkan dari alat ini, lanjut Salsabila, mampu menghidupkan berbagai perangkat elektronik dengan sumber tegangan DC. Misalnya, gawai, lampu emergency, serta segala perangkat elektronik dengan tegangan 5 volt DC.

"Dalam pengembangannya kami sempat kesulitan untuk mengumpulkan data-data seperti intensitas sinar matahari dan air hujannya," papar Salsabila.

Sementara, guru pembimbing Dwi Sujatmiko menjelaskan jika ketiga siswanya sudah mulai melakukan uji coba pengembangan Getah Pari Hybrid sejak Januari 2021 lalu. Dibutuhkan waktu cukup lama karena siswa harus belajar untuk melakukan coding untuk modul arduino nano yang bertugas mengatur berbagai macam sensor.

"Untuk biaya pembuatan Getah Pari Hybrid ini masih di bawah Rp 1 juta," pungkas Sujatmiko.



Simak Video "Biarawati Kongo Atasi Pemadaman dengan Pembangkit Listrik Tenaga Air"
[Gambas:Video 20detik]
(fat/fat)