Menikmati panorama cantik di kawasan Borobudur kini bisa dilakukan dengan naik mobil Volkswagen (VW). Mobil VW ini konon merupakan mobil dinas panewu atau camat saat era Orde Baru (Orba). Berapa tarifnya?
Mobil buatan Jerman tersebut kini dijadikan tumpangan bagi wisatawan di Borobudur. Dengan mobil VW Safari, wisatawan diantar menuju sejumlah destinasi maupun produk UMKM di kawasan Borobudur.
Bagi wisatawan yang ingin menyewa VW ini ada tiga pilihan paket, yaitu short, medium dan long. Kemudian dalam event 'Parade VW Safari Sak Mbudur' berkumpul 400 unit mobil VW di Lapangan Tuksongo.
"Kalau pada event ini yang teregistrasi di panitia itu 400 unit. Bisa jadi masih ada beberapa yang belum partisipasi. Ya nanti kita gali lagi, supaya teman-teman yang belum partisipasi ikut mendaftar," kata Ketua Panitia Parade VW Safari Sak Mbudur, Prana Aji kepada detikJateng di Lapangan Tuksongo, Rabu (26/8/2026).
"Tarif kesepakatan itu kan di angka Rp 400 ribu per mobil untuk durasi 2 jam (short). Kalau yang short itu 2 destinasi, 2 UMKM tambah satu destinasi spot selfie," sambung Aji.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Aji mengatakan untuk sewa medium berdurasi selama tiga jam untuk tiga kunjungan UMKM dan satu destinasi wisata.
"Kalau yang long itu 4 jam, tarifnya Rp 700 ribu, terus 4 UMKM dan 1 destinasi. Nggak ada perubahan (tarif). Naik nggak, turun juga nggak," ujar Aji.
Sejauh ini ada sekitar 20 kelompok jasa penyewa VW yang berada di kawasan Borobudur. Dia menyebut banyak komunitas VW di Borobudur yang tidak terkoordinir, dengan parade ini diharapkan bisa muncul kesepakatan bersama.
"Nah, event ini momen yang bagus untuk kita berkomunikasi dalam wadah VW Safari Borobudur. Dari 400 yang sudah teregistrasi itu arahnya kita akan ke kesepakatan baru lagi. Seperti itu, namun tidak jauh angkanya, ya kembali lagi ke Rp 400 ribu," jelasnya.
Aji menyebut saat ini bermunculan mekanik VW di sekitar Borobudur. Hal ini dinilai positif karena pemilik VW ini bisa mendapat banyak pilihan mekanik.
"Kalau dulu hanya di Magelang itu 2 orang. Sekarang di Borobudur itu ada 4 atau 5 mekanik/bengkel yang sudah spesialis VW. Juga bengkel cat, aksesori, berkembang," lanjutnya.
"(Mobil VW) Paling muda ini tahun 1978 ya, yang paling tua 1973," ujar dia.
Di lokasi yang sama, Bupati Magelang Grengseng Pamuji berharap parade VW ini bisa mendukung terciptanya ekosistem pariwisata yang berasal dari masyarakat Borobudur dan Kabupaten Magelang pada umumnya.
"Jadi ini yang kita bangun itu ekosistem wisata dari hulu sampai hilir. Dan hari ini VW adalah salah satu destinasi wisata baru yang muncul dari kreativitas teman-teman dari Borobudur," kata Grengseng.
"Pemerintah daerah dalam hal ini datang untuk hadir mendukung teman-teman VW yang nantinya bisa mendukung ekosistem pariwisata yang ada di Borobudur," ujar Grengseng.
Grengseng pun meminta para komunitas pecinta VW bisa berkumpul dan membuat kesepakatan soal tarif sewa. Hal ini untuk mengantisipasi adanya permainan tarif sewa.
"Seiring nanti juga pemerintah daerah ini juga baru merumuskan Perda tentang transportasi pariwisata. Ya, kita saling mengisi lah. Ruang-ruang kosong yang hari ini ada bukan berarti tanpa aturan," katanya.
"Ruang-ruang kosong yang ada mari kita duduk bersama agar bisa membangun harmoni di masyarakat, di dunia pariwisata. Sehingga nanti terwujud harapan pariwisata yang bisa memberikan value, memberikan nilai tambah, memberikan kenaikan kesejahteraan bagi masyarakat Borobudur," pungkasnya.
