Sejumlah Objek Wisata di Banyumas Tutup Terimbas Banjir Lereng Gunung Slamet

Sejumlah Objek Wisata di Banyumas Tutup Terimbas Banjir Lereng Gunung Slamet

Anang Firmansyah - detikJateng
Minggu, 25 Jan 2026 10:41 WIB
Kondisi objek wisata Telaga Sunyi usai diterjang banjir lumpur di Desa Limpakuwus, Kecamatan Sumbanga, Kabupaten Banyumas, Minggu (25/1/2026).
Kondisi objek wisata Telaga Sunyi usai diterjang banjir lumpur di Desa Limpakuwus, Kecamatan Sumbanga, Kabupaten Banyumas, Minggu (25/1/2026). Foto: Dok Palawi Banyumas
Banyumas -

Cuaca ekstrem yang memicu banjir bandang di sungai lereng selatan Gunung Slamet berdampak serius pada sektor pariwisata di Kabupaten Banyumas. Sejumlah destinasi wisata air unggulan terpaksa ditutup total setelah diterjang material lumpur dan kayu pada Sabtu (24/1).

Manager Klaster Banyumas PT Palawi Risorsis, Farachin menjelaskan volume air bercampur lumpur cukup deras. Sehingga pemandangan yang biasanya jernih kini berubah menjadi cokelat.

"Kolam-kolam atau kubangan yang tadinya dalam dan jernih sekarang dangkal karena tertimbun material banjir yang membawa lumpur," kata Farachin saat dihubungi wartawan, Minggu (25/1/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Demi keselamatan pengunjung, pengelola menutup operasional sejumlah objek wisata air. Destinasi yang dikelola PT Palawi Risorsis dan terdampak antara lain Telaga Sunyi, Curug Tirta Sela, Curug Gomblang, dan Curug Cipendok.

ADVERTISEMENT

"Iya, sementara waktu kita tutup sembari melakukan pembersihan," ujar Farachin.

Menurut Farachin, penutupan ini merupakan langkah darurat dan mitigasi risiko. Intensitas hujan yang sangat tinggi di puncak Gunung Slamet membuat arus sungai di bagian hilir menjadi tidak terkendali.

"Saat ini operasional di beberapa titik wisata air kami hentikan sementara. Fokus utama kami adalah keselamatan pengunjung karena kondisi air di lokasi seperti Telaga Sunyi dan Curug Tirta Sela masih sangat keruh dan membawa material sisa banjir," jelasnya.

Ia menambahkan, proses pembersihan material pascabanjir tengah dilakukan. Penutupan akan terus diberlakukan hingga kondisi lingkungan kembali stabil dan dinyatakan aman.

"Paling cepat sepertinya setengah bulan, atau paling lama 1 bulanan," katanya.

Sementara itu, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Banyumas mencatat sedikitnya 15 kejadian bencana alam akibat cuaca ekstrem. Seluruh kejadian tersebut berupa angin kencang hingga angin puting beliung.

"Total kejadian bencana alam ada 15 kejadian, semuanya cuaca ekstrem," kata Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Banyumas, Dwi Irawan.

Dwi menyebut, peristiwa tersebut tersebar di sembilan kecamatan. Angin kencang menyebabkan sejumlah pohon tumbang dan menimpa rumah warga serta infrastruktur.

"BPBD telah melakukan kaji cepat di lokasi kejadian serta berkoordinasi dengan dinas dan instansi terkait untuk penanganan lanjutan," ujarnya.

BPBD juga mengimbau masyarakat untuk tetap waspada terhadap potensi cuaca ekstrem susulan. Pasalnya, intensitas hujan dan angin kencang masih berpeluang terjadi di wilayah Banyumas dalam beberapa waktu ke depan.



(ahr/ahr)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads