Warga Desa Ngargoretno, Kecamatan Salaman, Kabupaten Magelang, menggelar acara Ruwat Rawat Menoreh (RRM) ke-6. Acara berlangsung meriah dengan ditandai pelepasan burung endemik kawasan Perbukitan Menoreh serta rebutan gunungan hasil bumi.
Lokasi Desa Ngargoretno ini berbatasan dengan wilayah Kecamatan Samigaluh, Kabupaten Kulon Progo, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Kawasan ini dikenal dengan Perbukitan Menoreh.
"Kegiatan Ruwat Rawat Menoreh yang ke-6 ini adalah momentum warga masyarakat khususnya untuk melestarikan tradisi, budaya dan ini untuk konservasi lingkungan di Lereng Menoreh, khususnya di Desa Ngargoretno," kata Kepala Dusun Karangsari, Rohyadi kepada wartawan di sela-sela acara, Minggu (23/8/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Untuk yang teatrikal itu air cuci memadamkan yeksa atau buto. Buto itu melambangkan kemarahan, keegoisan, terus keserakahan. Terus perang sama puteri desa yang namanya Sekarsari itu melambangkan tentang kelembutan, tentang kehidupan berdamai di masyarakat," sambungnya.
Salah satu panitia, Soim, menambahkan Ruwat Rawat Menoreh menerjemahkan hubungan manusia dengan alam.
"Sehingga selain rasa syukur, kebetulan di hari kemerdekaan ini, kami bersama warga seluruh masyarakat satu desa di Desa Ngargoretno bikin acara, ada kirab gunungan dan menampilkan beberapa potensi lokal yang ada," kata Soim.
Soim mengatakan rangkaian RRM berjalan selama tiga hari, mulai Jumat (21/8) hingga Minggu (23/8) hari ini. Acara pun dimeriahkan dengan berbagai lomba.
"Mulai hari Jumat acara mengangkat potensi dengan lomba-lomba. Dari mulai masak tradisional, terus kuliner dan beberapa hasil-hasil bumi pangan lokal yang ada di Desa Ngargoretno. Ini puncak acaranya," tambah Soim.
"(Kirab) Ini menampilkan 12 kesenian lokal dari 6 dusun yang kita arak 3 kilometer dari perbatasan Kecamatan Borobudur dan Salaman. Kirab gunungan yang menampilkan potensi lokal," tegasnya.
Dalam kesempatan yang sama, Kepala Desa Ngargoretno, Dodik Suseno mengatakan, Merti Desa sekaligus Ruwat Rawat Menoreh ini merupakan tahun keenam.
"Ini sudah kita lakukan setiap tahun Ruwat Rawat Menoreh. Kita ngruwat bumi lereng Menoreh supaya bisa tetap hijau, tetap asri, kecukupan air, dan murah rezeki. Supaya bisa berkelanjutan," kata Dodik.
"Ini ada kirab budaya, kemudian ada grebeg gunungan dan juga pentas kesenian dari kesenian lokal. Ini rutin tiap tahun," ujarnya.
Acara rangkaian RRM, kata Dodik, Jumat (21/8) malam sampai Minggu (23/8).
"Untuk acaranya (Jumat malam) mujadah, kita doa bersama, keselamatan, kemudian dilanjutkan pentas kesenian lokal. Kemudian Sabtu (22/8), siang masih pentas kesenian lokal. Nanti dilanjut pentas kesenian dan wayang kulit terakhir," pungkasnya.
