Gerhana merupakan peristiwa alam yang terjadi akibat posisi Matahari, Bumi, dan Bulan berada pada satu garis atau hampir sejajar. Kondisi ini membuat cahaya Matahari atau Bulan terhalang sehingga memunculkan dua jenis gerhana, yakni gerhana matahari dan gerhana bulan.
Dikutip dari publikasi ilmiah berjudul 'Pengaruh Kosmologi Bumi, Matahari, dan Bulan Terhadap Ritual Kepercayaan Masyarakat Jawa Tentang Gerhana di Era Kontemporer' karya Nurherizza dan Saptono dalam jurnal Panalungtik, gerhana bulan terjadi ketika bulan tertutup oleh bayangan Bumi dan biasanya berlangsung saat fase purnama. Sementara itu, gerhana matahari terjadi saat Bulan berada di antara Bumi dan Matahari sehingga bayangannya jatuh ke sebagian permukaan bumi.
Meski saat ini gerhana dapat dijelaskan secara ilmiah, dalam tradisi Jawa peristiwa tersebut tidak pernah dipandang sebagai kejadian biasa. Gerhana matahari dan bulan kerap dihubungkan dengan kisah Batara Kala, sosok raksasa menakutkan dalam pewayangan Jawa yang dipercaya memiliki peran besar dalam peristiwa langit tersebut.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sejak masa lampau, gerhana dimaknai sebagai pertanda yang sarat simbol dan diyakini membawa dampak tertentu bagi kehidupan manusia sehingga kemunculannya sering diiringi dengan beragam kepercayaan, pantangan, dan ritual yang diwariskan secara turun-temurun.
Lalu, siapa sebenarnya Batara Kala? Bagaimana kisahnya hingga dikaitkan dengan peristiwa gerhana, dan candi-candi apa saja di Jawa yang menyimpan relief tentang gerhana matahari dan bulan? Simak ulasan lengkapnya dalam artikel ini.
Siapa Itu Batara Kala? Ini Kisahnya dalam Pewayangan Jawa
Dalam tradisi pewayangan Jawa, Batara Kala dikenal sebagai sosok yang menakutkan dan identik dengan kekuatan. Mengacu pada buku Estetika Pedalangan Ruwatan Murwakala: Kajian Estetika dan Etika Budaya Jawa karya Kasidi, Batara Kala digambarkan sebagai makhluk dahsyat yang gemar memangsa manusia, terutama mereka yang tergolong sukerta atau dianggap memiliki kesialan tertentu. Karena itu, kehadiran Batara Kala kerap dikaitkan dengan ancaman dan ketidakseimbangan dalam kehidupan manusia.
Kisah tentang Batara Kala hidup dan berkembang melalui berbagai medium, mulai dari tutur para dalang, pakem pewayangan, hingga naskah-naskah kuno yang membahas asal-usul serta perannya dalam kosmologi Jawa. Salah satu cerita yang paling dikenal menyebutkan Batara Kala berasal dari peristiwa yang melibatkan Batara Guru dan istrinya, Batari Uma.
Dalam kisah pewayangan tersebut, Batara Guru melanglang buana bersama Batari Uma dengan menunggang Lembu Andini. Di tengah perjalanan, muncul hasrat Batara Guru yang ditolak oleh Batari Uma.
Penolakan itu berujung pada peristiwa yang dianggap tidak pantas bagi pemimpin para dewa hingga mani Batara Guru jatuh ke samudra. Dari samudra yang bergolak kemudian muncul wujud aneh menyerupai gumpalan yang terus berkembang.
Upaya para dewa untuk membinasakan makhluk tersebut justru membuatnya semakin kuat. Segala senjata dan kesaktian yang diarahkan kepadanya berubah menjadi sumber kekuatan hingga akhirnya wujud itu menjelma menjadi raksasa dewasa yang dahsyat dan menakutkan.
Para dewa pun melaporkan kejadian tersebut kepada Batara Guru, yang kemudian mengakui makhluk itu sebagai anaknya dan memberinya nama Batara Kala.
Setelah diakui sebagai anak, Batara Kala meminta pakaian dan jatah makan, lalu diperintahkan turun ke dunia manusia untuk mencarinya sendiri. Namun, karena tidak mengetahui batasan, Batara Kala justru memakan manusia.
Mengetahui hal tersebut, Batara Guru menetapkan aturan bahwa Batara Kala hanya diperbolehkan memangsa manusia tertentu, yakni mereka yang tergolong sukerta atau melakukan kesalahan tertentu. Selain itu, Batara Kala juga dibekali pusaka serta tanda-tanda khusus di tubuhnya sebagai pengekang keganasannya.
Meski memiliki banyak versi cerita, satu benang merah yang kerap muncul dalam tradisi Jawa adalah keterkaitan Batara Kala dengan peristiwa gerhana matahari dan bulan.
Legenda Batara Kala: Penyebab Gerhana Bulan dan Matahari
Berdasarkan buku Peristiwa Alam Tema 5 karya Haenudin yang diterbitkan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, terdapat sebuah mitos yang menjelaskan asal-usul terjadinya gerhana matahari dan bulan dalam kepercayaan masyarakat Jawa.
Dikisahkan, suatu hari Batara Guru, pemimpin para dewa, mengundang seluruh dewa dan dewi untuk meminum air suci di surga. Air suci tersebut bernama Tirta Amertasari, yang berarti "air abadi". Siapa pun yang meminumnya diyakini tidak akan mati dan dapat hidup selamanya.
Batara Kala, yang juga dikenal dengan nama Kalaharu, merupakan raksasa jahat yang sangat kuat. Ia gemar membunuh manusia, terutama anak-anak sehingga ditakuti oleh banyak orang. Karena kejahatannya itu, Batara Kala tidak diundang dalam perjamuan para dewa. Namun, secara diam-diam ia terbang ke surga dan berhasil mencuri beberapa tetes Tirta Amertasari.
Aksi Batara Kala diketahui oleh Batara Surya (Dewa Matahari) dan Batara Candra (Dewa Bulan). Keduanya segera melaporkan peristiwa tersebut kepada Batara Guru. Mengetahui hal itu, Batara Guru kemudian memerintahkan Batara Wisnu, Dewa Pemelihara Alam, untuk merebut kembali Tirta Amertasari dari tangan Batara Kala.
Batara Wisnu lalu mengeluarkan senjata andalannya, yakni Chakra. Saat Batara Kala tengah meminum Tirta Amertasari dan air suci itu baru sampai di kerongkongannya, Batara Wisnu terlanjur menebas leher Batara Kala dengan senjata tersebut. Akibatnya, tubuh Batara Kala terpisah dari kepalanya. Batang tubuhnya jatuh ke bumi dan menjelma menjadi lesung kayu, sementara kepalanya melayang di angkasa dan tetap hidup abadi karena telah meminum Tirta Amertasari.
Sejak peristiwa itu, Batara Kala menyimpan dendam kepada Batara Surya dan Batara Candra yang telah memergokinya mencuri air suci. Dalam amarahnya, Batara Kala terus berusaha menelan Dewa Matahari dan Dewa Bulan. Namun, setiap kali dikejar, keduanya selalu berhasil melarikan diri.
Untuk menolong Batara Surya dan Batara Candra, Batara Wisnu kemudian memerintahkan penduduk bumi agar memukul lesung kayu dan benda-benda lain yang menimbulkan suara keras setiap kali terjadi gerhana. Bunyi tersebut dipercaya menjadi pertanda kemunculan Batara Kala sekaligus membantu Dewa Matahari dan Dewa Bulan agar dapat lolos dari kejarannya.
Hingga kini, tradisi memukul lesung kayu atau alat seperti penumbuk padi masih dilakukan oleh sebagian masyarakat saat menyaksikan gerhana. Itulah kisah asal-usul terjadinya gerhana matahari dan bulan menurut legenda Batara Kala.
Candi dengan Relief Gerhana Matahari dan Bulan
Kepercayaan masyarakat Jawa tentang gerhana matahari dan bulan tidak hanya hidup dalam legenda dan tradisi lisan, tetapi juga terekam dalam berbagai peninggalan arkeologis.
Hal ini dijelaskan dalam publikasi ilmiah berjudul 'Pengaruh Kosmologi Bumi, Matahari, dan Bulan Terhadap Ritual Kepercayaan Masyarakat Jawa Tentang Gerhana di Era Kontemporer' karya Nurherizza dan Saptono dalam jurnal Panalungtik Vol. 7 No. 1. Sejumlah candi di Jawa menyimpan relief yang merepresentasikan konsep kosmologi serta peristiwa gerhana.
1. Tinggalan Amertamanthana di Sirahkencong, Blitar
Gambaran kosmologis yang berkaitan dengan gerhana salah satunya muncul dalam kisah amertamanthana atau samudramanthana, yakni pengadukan samudra untuk memperoleh Tirta Amerta. Representasi kisah ini ditemukan pada relief jambangan silindrik dari kawasan Sirahkencong, Blitar.
2. Candi Belahan di Lereng Gunung Penanggungan, Pasuruan
Relief yang secara jelas dimaknai sebagai simbol gerhana ditemukan di Candi Belahan, yang terletak di lereng timur Gunung Penanggungan, Dusun Belahan Jowo, Desa Wonosunyo, Kecamatan Gempol, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur.
Situs ini dikenal masyarakat setempat sebagai Candi Sumber Tetek dan merupakan peninggalan Raja Airlangga dari Kerajaan Kahuripan pada abad ke-11. Candi Belahan berupa petirtaan berukuran sekitar 6 x 4 meter.
Pada sisi barat kolam terdapat dinding bata merah yang menjadi tempat dua arca dewi, yakni Dewi Sri dan Dewi Laksmi. Dari payudara arca Dewi Laksmi memancar sumber air yang mengalir ke kolam petirtaan.
Di sisi timur petirtaan terdapat beberapa objek penting, dua di antaranya adalah lingga dan sengkalan memet. Lingga merupakan simbol kesuburan pria yang biasanya berpasangan dengan yoni sebagai simbol kesuburan wanita.
Adapun relief sengkalan memet di Candi Belahan menampilkan sosok raksasa Rahu atau Kala tanpa tubuh dan kaki, dengan rambut ikal serta kedua tangan menggenggam sebuah bulatan seolah hendak menelannya.
Di sekelilingnya terdapat tiga makhluk kayangan. Relief ini dimaknai sebagai penggambaran Rahu yang sedang menelan bulan, simbol terjadinya gerhana bulan.
Artikel ini ditulis oleh Angely Rahma, peserta Program MagangHub Bersertifikat dari Kemnaker di detikcom.
