Cuan! Napi di Lapas Magelang Dilatih Ternak Katak Bullfrog

Eko Susanto - detikJateng
Kamis, 24 Sep 2026 21:03 WIB
Budi daya katak bullfrog di Lapas Kelas IIA Magelang, Kamis (24/9/2026). Foto: Eko Susanto/detikJateng
Magelang -

Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Magelang memberdayakan narapidana (napi) atau warga binaannya untuk beternak katak bullfrog atau katak lembu. Hasil penjualan katak itu masuk ke kas negara sebagai penerimaan negara bukan pajak (PNBP).

"Dalam rangka peningkatan kemampuan dan juga bekal hidup mereka selama di sini maupun setelah bebas nantinya, salah satunya ada pembinaan kemandirian budidaya bullfrog," kata Kepala Lapas Kelas IIA Magelang, Agung Supriyanto saat ditemui wartawan, Kamis (24/9/2026).

Agung mengatakan, budi daya ini telah berlangsung sejak 2024. Budi daya ini berawal dari pihak Lapas membeli precil atau anak katak untuk dipelihara sampai besar.

"Sampai saat ini sudah mampu untuk mengawinkan supaya tidak ketergantungan (membeli) precil. Kami telah memiliki pasar di wilayah Klaten untuk menampung hasil dari budi daya bullfrog tersebut," ujar dia.

Agung menjelaskan, budi daya katak bullfrog dipilih karena memiliki nilai jual.

"Kita coba improvisasi melalui media digital untuk belajar dengan pelatihan dan sebagainya. Akhirnya kita pilih item yang memiliki pangsa pasar," kata dia.

"Kalau kita memberikan pelatihan kepada mereka, kita budidayakan di sini sementara tidak ada pangsa pasar, menurut saya mubazir," imbuhnya.

Kasubsi Sarana Kerja Lapas Kelas IIA Magelang, Pitra Pramudian, menambahkan dulu hasil budi daya dijual keluar Lapas. Kini, sejak setengah tahun lalu, sudah ada pembeli dari Klaten yang ke Lapas.

"Kebetulan ini ada yang mau mengambil. Selama ini kita bisa menjual sampai 100 kg, terakhir (jual) 150 kg. Waktu itu masih di harga Rp 40 ribu per kilo. Biasanya buat swike dan crispy," kata Pitra.



"(Kalau mau panen) Biasanya dia (pembeli) ngontak kita. Iya uangnya nanti masuk ke PNBP (penerimaan negara bukan pajak)," imbuhnya.

Kolam budi daya katak ini berada di ujung lapas, diurus oleh dua warga binaan yaitu Waris (32) warga Parakan, Temanggung, dan Rizal S (34) warga Kota Magelang.

"Awalnya saya ikut pelatihan di sini (lapas), habis itu terpilih untuk merawat katak. Mulai dari precil hingga panen sekitar 4-5 bulan," ujar Waris.

"Saya sejak 2024. Ini sudah panen keempat. Perawatan mudah, pagi dikasih air dibersihkan, terus isi air bersih dan dikasih makan," sambungnya.

Waris mengatakan, setelah keluar dari lapas ia ingin mengembangkan budi daya katak di rumah.

"Dulu pas pertama seribu itu hasil panen sekitar Rp 9 juta atau berapa itu. Kalau ini 500 katak yang bakal dipanen. Ini usia 4 sampai 5. Satu katak berat berkisar 2,5 sampai 3 ons," pungkasnya.



Simak Video "Video Mimpi Napi Nusakambangan Jadi Pengusaha Ayam Petelur Usai Bebas dari Lapas"

(dil/apu)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork