Berangkat dari keprihatinan karena menemukan botol setiap mengambil sampah, seorang pria di Kota Magelang menciptakan Anjungan Tunai Mandiri (ATM) yang membeli sampah botol plastik. Menariknya, warga mendapat bayaran untuk membuang sampah itu.
ATM sampah ini berdiri di depan rumah Ben Swarna Sugi (36), warga Dukuh RT 03/RW 03, Kelurahan Magelang, Kecamatan Magelang Tengah, Kota Magelang.
Mempunyai tinggi sekitar 130 cm, lebar 60 cm, dan panjang 70 cm, terdapat tulisan 'mesin tukar sampah botol jadi uang' di sisi kiri. Kemudian ada petunjuk menggunakan handphone scan barcode. Terus, masukkan botol plastik, dapatkan saldo.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Adapun untuk bagian depan ada tulisan 'ATM Sampah'. Kemudian ada lubang yang digunakan untuk memasukkan botol bekas mineral maupun botol lainnya.
Terdapat juga jenis botol yang bisa diterima ATM sampah. Nantinya, saldo bisa ditarik melalui aplikasi keuangan tertentu. Selain itu, saldo bisa digunakan belanja UMKM lokal yang telah bermitra.
Dikatakan Ben, dirinya tercetus pemikiran untuk menciptakan ATM sampah karena prihatin sebagai petugas kebersihan kampungnya. Setiap mengambil sampah, dia menemukan ada bekas botol mineral.
"Saya ini latar belakangnya petugas kebersihan kampung sini. Lha di setiap tong sampah, saya menemukan satu, dua botol yang dicampur," kata Ben saat ditemui di rumahnya, Sabtu (27/6/2026).
Ia menjelaskan, 1-2 botol tersebut tidak bisa dijual langsung ke pengepul. Ia harus mengumpulkannya dahulu sebelum bisa dijual.
ATM Sampah yang diciptakan Ben Swarna Sugi (36), warga Dukuh RT 03/RW 03, Kelurahan Magelang, Kecamatan Magelang Tengah, Kota Magelang. Foto: Eko Susanto/detikJateng |
"Masyarakat nggak mau kalau menampung sekilo dulu baru bisa menjual. Makanya dibuang. Dengan problem tersebut, saya mencoba menciptakan ini untuk bisa satuan (dimasukkan ATM sampah) dikonversikan menjadi uang," kata dia.
Ben mengatakan, ATM sampah ini lebih dikenal dengan sebutan Reserve Vending Machine (RVM). Menurutnya, mesin ini di luar negeri sudah populer.
"Cara kerja sederhana. Jadi, orang masukin botol terus terdeteksi sensor. Lalu akun uang digital masuk ke akunnya. Jadi, sederhananya ATM yang benar-benar ATM fisik, tapi uangnya botol plastik," ujarnya.
Ben melanjutkan, warga juga tidak perlu mengunduh aplikasi tertentu supaya bisa terhubung ke ATM tersebut.
"Datang warga scan pakai HP, nanti muncul link pendaftaran. Masukan nomor telepon dan sandinya. Nantinya sudah langsung login," kata Ben.
Setiap botol plastik yang dimasukkan ke dalam ATM akan dihargai Rp 50. Uang digital itu baru bisa dicairkan bila sudah terkumpul Rp 5 ribu.
Ben menjabarkan, nominal satuan botol itu bukan semata-mata untuk nilai ekonomi. Ia bermaksud mengubah perilaku warga memilah sampah yang mempunyai nilai ekonomi.
"Satu botol itu harga Rp 50. Itu supaya menarik masyarakat merubah perilaku dari membuang botol satu, dua itu, biar ditabung. Di akun user tersebut sudah ada fitur tarik saldo. Jadi, si user bisa menarik transfer bank, Dana dan OVO," ucap Ben.
"Kita mencoba juga memberdayakan warung-warung sekitar. Itu dengan mengintegrasi saldo ini bisa buat belanja merchandise yang bermitra dengan kita. Sekitar tiga (warung) untuk lokasi RW 3," tambahnya.
Saat ditanya dari mana modalnya, Ben mengaku sudah mempunyai modal awal Rp 100 ribu. Kotak ATM itu disebut bisa menampung hingga 4 kilogram sampah botol plastik.
"Tinggi 130 (cm), lebar 60, panjang 70 (mesin atm). Ini penuh 4 kg (kotak penampung botol). (Saldo) Itu transaksi sudah ada sekitar Rp 100 ribu," jelasnya.
Meski baru dalam tahapan uji coba, warga pun memberikan respons yang baik. Kurang lebih sebulan ini sudah terkumpul sekitar 1.700 botol bekas mineral. Ia pun bermitra dengan pengepul lokal.
"Kita sementara masih ada kerja sama dengan pengepul lokal. Tapi, ke depannya kita mau langsung punya mesin cacah plastik. Jadi, kita langsung jual ke pengolahan daur ulang. Itu nilai ekonomisnya lebih tinggi," paparnya.
Salah satu warga, Doni Mulyono (29), mengatakan keberadaan ATM sampah sangat membantu warga.
"Karena bisa mengurangi limbah sampah yang ada di masyarakat. Saya sudah dua kali. Nanti, kalau sudah memenuhi saldonya, insyaallah saya cairkan untuk beli kebutuhan sehari-hari," kata Doni.
(apu/apu)

